Archive

Tag Archives: taksi

Beberapa waktu lalu saya naik taksi dari fX, Senayan. Tak disangka-sangka, supir taksi saya super ganteng dan keren! Mau ngajak ngobrol malu, apalagi untuk foto. Buat yang ingat twit-twit saya tentang supir taksi ganteng saya, Taufik H, nih beberapa foto yang berhasil saya ambil. Susah juga ya ternyata ambil foto sembunyi-sembunyi.

PS: Yang mau pesan taksi, silahkan.. (You’re welcome!) #RR

Supir_taksi_1
Supir_taksi_2
Supir_taksi_3

 

Advertisements

Hari yang cukup aneh, dan anehnya menyenangkano. Jumat malam (09/03) saya menghadiri media screening film John Carter di eX, Plaza Indonesia. Acara mulai sekitar jam 19.30 WIB, dan selesai kurang lebih jam 21.30 WIB. Selesai acara, saya memutuskan untuk pulang karena mata ini sudah lelah dan butuh tidur.

Ketika ke lobby eX, ternyata hujan cukup deras, antrian taksi mengular, dan lihat jalanan cukup padat. Akhirnya saya memutuskan untuk ke lobby Plaza Indonesia. Saya hanya mengikuti kemana eskalator mengarah, dan begitu lihat ada lobby, yang ternyata adalah Thamrin Entrance lobby, saya langsung menuju ke sana. Antrian mengular, tapi gak panjang-panjang amat. Kalau dikira-kira, mungkin saya antrian yang ke-6, dan saya keburu senang karena akan lebih cepat untuk dapat taksi.

Ternyata saya salah.

Kenapa antrian di situ tidak banyak dan panjang? Karena memang jarang dilewati taksi! Kampret! Dengan sabar, saya menunggu. 5 menit, 10 menit, 20 menit, 30 menit, antrian hanya berkurang dua orang, sedang jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, dan hujan masih cukup deras. Jangan tanya saya bawa payung atau tidak, karena saya orang yang paling malas untuk bawa barang seperti itu.

Tak terasa sudah 40 menit kami menunggu. Enam orang masih dalam antrian, yang terdiri dari sepasang pria muda, seorang wanita usia 30 tahunan, dan 3 orang wanita 25 tahunan termasuk saya. Selain sepasang pria, semuanya tidak saling kenal.

Saya pun mulai bosan menunggu, dan berkutat pada BlackBerry saya, dan saya pun mulai memperhatikan sekitar. Wanita muda berbaju biru sibuk menelpon Blue Bird online (ya, aksi #nguping dimulai). Ketika sudah tersambung, wanita ini melapor:

“Mbak, saya mau minta tolong armada taksi tolong diarahkan ke Plaza Indonesia Thamrin Entrance. Saya banyak sekali lihat taksi di seberang, yang lewat di depan Pullman Hotel, dan kosong. Tolong diarahkan ke sini karena kami sudah nunggu lama banget. …….. Ya, terima kasih”.

Lega. Tak lama, ada Silver Bird yang datang, dan sepasang pria tersebut pun masuk. Kami titip pesan ke mereka, untuk bilang ke supirnya, untuk bantu menggiring beberapa taksi ke tempat kami.

Tinggal berempat, dan wanita semua. Kami pun kembali menunggu dan memperhatikan sekeliling–dan ternyata tidak ada petugas yang berjaga sama sekali! Where the hell are those people!

Tak begitu jauh dari tempat kami menunggu, ternyata sekumpulan penjaga asyik berkumpul dan tertawa-tawa dengan sesamanya. Kami merasa geram, karena seharusnya mereka berusaha untuk mencarikan kami taksi! Wanita berbaju biru pun mendatangi mereka dan komplain karena daritadi jarang sekali taksi yang datang ke lobby ini, sedangkan kami melihat banyak taksi kosong yang seliweran di depan. Mereka pun bilang bahwa taksi memang jarang, dan mereka juga bukan pihak yang berhak untuk mencarikan taksi–karena memang di tempat itu seharusnya ada petugas Blue Bird. Ketika ditanya di mana petugas tersebut, dia tidak tahu. Screw you!

Tak terasa sudah 60 menit kami menunggu. Kami pun ngobrol tentang kondisi kami, dan saya berinisiatif bertanya tentang tujuan masing-masing. Ada yang ke Wisma Mulia (Gatot Subroto), Pulo Mas, Rawamangun, dan saya sendiri ke Pondok Gede. Saya pun bertanya kepada mereka apakah mau bareng satu taksi dulu ketika nantinya ada taksi yang datang. Paling tidak keluar dulu dari PI, dan di jalan kan cari taksinya lebih gampang. Kami pun setuju.

Tapi tetap, taksi tak datang-datang juga. Rasanya mulai stres! Hujan masih saja deras, udara lembab tidak berangin, dan keringat dingin saya pun mulai keluar. Kami berempat pun memutuskan untuk pindah lobby. At least lobby yang ramai, karena tempat kami menunggu tidak ada yang menjaga sama sekali.

Kami pun berjalan ke lobby tempat akses ke Immigrant. Dan ya, petugas semua berkumpul di sana. Ketawa cekikikan. Si wanita berambut biru pun kembali komplain kenapa di sana tidak ada yang berjaga. Saya pun langsung memotong pembicaraan dengan bertanya tentang taksi–yang ternyata jarang juga. Namun mereka memastikan kepada kami bahwa kamilah antrian pertama di lobby itu–saat itu.

Saya bertanya kepada 3 wanita lain, apakah mau terus menunggu di sini atau pindah ke lobby lain? Mereka bilang tunggu dulu aja selama 5 menit. Baiklah.

Tak sampai 5 menit, akhirnya ada taksi yang menampakkan batang kap mobilnya! Taksi tersebut membawa penumpang, sih. Tapi untungnya si penumpang turun, dan kami diperbolehkan naik.

Di dalam taksi, kami saling mengucap syukur dan tertawa cekikikan. Cukup aneh ya berada di dalam taksi, dengan orang-orang yang tidak kami kenal. Akhirnya, kami taksi menuju ke arah Rawamangun-Pulo Mas. Jadi, saya dan si baju biru yang tujuannya ke Gatot Subroto bilang kepada supir untuk berhenti jika Anda taksi kosong.

Banyak memang taksi kosong yang parkir di pinggir jalan, tapi kebanyakan menolak. Mungkin karena sudah jam pulang ke pool. Akhirnya ada Silver Bird yang mau mengangkut kami! Kami pun turun, dan mengucapkan selamat tinggal pada si Rawamangun dan Pulo Mas. Yes, kami antara tidak sempat, lupa, atau tidak kepikiran sama sekali untuk berkenalan.

Saya dan si Gatot Subroto pun masuk ke dalam taksi. Dan saya pun menanyakan namanya–yaoti Dita. Saya bilang ke pak supir untuk sekalian mencari taksi kosong. Tak butuh waktu lama, supir taksi saya berhasil memberhentikan satu taksi kosong. Saya pun mengucap selamat tinggal. “Sampai bertemu lagi ya,” kata Dita. We’ll never know.. 🙂 #RR