Archive

Personal experience

Jika dihitung, sudah lebih dari lima kali saya kehilangan kartu ATM, entah karena lupa ambil setelah bertransaksi di mesin ATM sehingga kartu tertelan otomatis, jatuh entah di mana, atau memang terselip dan lupa sama sekali tentang keberadaannya. Apapun sebabnya, hal tersebut mengharuskan saya untuk membuat kartu baru.

Dulu, kalau kartu ATM hilang agak repot dan memakan waktu (dan uang) karena harus membawa surat laporan kehilangan dari kepolisian. Ketika kartu ATM saya hilang tahun lalu, saya browsing di internet tentang perlunya surat kehilangan dari kepolisian sebagai salah satu administrasi untuk membuat kartu baru, dan ternyata tidak perlu. Esok harinya saya datang ke kantor cabang terdekat, dan kartu baru dengan mudah bisa langsung diurus hanya dengan membawa identitas diri dan buku rekening tabungan. Saya juga ingat waktu itu CS juga mengambil foto saya via webcam sebagai pelengkap identitas. Tak lebih dari 15 menit, kartu baru saya langsung jadi (kartu instan, tanpa print nama) dan bisa langsung dipakai.

Beberapa waktu, saya kembali kehilangan kartu ATM karena lupa ambil setelah melakukan transaksi di mesin ATM. Selang dua hari, saya baru sadar kartu ATM saya tidak ada di dompet. Karena saya pengguna internet banking, saya langsung cek mutasi rekening dan informasi saldo. Namun setelah log in, semua opsi banking tidak dapat dilakukan. Sedikit panik, saya langsung menghubungi call center untuk mengatahui status kartu karena yang ada di pikiran saya:

  1. Kartu di-hijack
  2. Kartu di-hijack
  3. Kartu di-hijack

Tak lama menunggu, saya tersambung dengan CS. Sebetulnya saya paling malas menghubungi CS BCA karena sangat memakan waktu. Bukan karena proses verifikasi data, namun cara bicara dan segala penjelasan yang SOP banget. Ada kalanya saya mau langsung tutup koneksi telepon dan/atau banting hp. Tapi karena saya anaknya sopan, dengerin aja sambil main candy crush. Anyway, setelah berbicara dengan CS tersebut selama 15 menit (1 menit pencet segala kode nomor untuk pilihan berbicara dengan CS, 1 menit untuk verifikasi data, 1 menit untuk laporan apa yang terjadi, sisanya mendengarkan penjelasan prosedur yang berbelit-belit dan penuh pengulangan), saya diberitahu bahwa ketika kita meninggalkan kartu debit di mesin ATM, mesin akan langsung “mengamankan” dengan memblokir kartu hanya dalam selang waktu 2 menit.

“Kartu langsung diblokir hanya selang waktu 2 menit saja, jadi Ibu tak perlu khawatir,” kata Mbak CS-nya dengan nada datar. “Yay,” jawab saya dengan suara yang tak kalah datar. Setelahnya saya harus mendengarkan prosedur pembuatan kartu baru yang lagi-lagi bertele-tele. Saya mencoba memotong pembicaraan berkali-kali hingga sedikit agresif, tapi sepertinya dia tidak peduli dan memilih untuk terus bicara. Ya sudah. Main candy crush lagi sampai dia selesai bicara dan buru-buru mengucapkan terima kasih.

Keesokan harinya, saya ke cabang BCA terdekat berharap bisa mendapat kartu baru. Agak khawatir karena saat itu saya tidak membawa buku rekening, yang kalau kata Mbak CS adalah salah satu persyaratan. Dengan modal nekad, saya pun menjelaskan ke CSO bahwa kartu saya tertelan, saya tidak membawa buku rekening (namun punya data nomor rekening plus foto halaman depan buku tabungan, kartu identitas, dan NPWP, namun ingin secepatnya membuat kartu baru. Dan ternyata… bisa! Ternyata pengambilan foto di CSO BCA tahun lalu bisa menjadi verifikasi sehingga buku tabungan tidak selalu dibutuhkan.* Dan tak lebih dari 15 menit, kartu baru saya jadi dan bisa langsung dipakai. Saya sebagai nasabah pun puas.

*) Tergantung kebijakan kantor cabang.

PS: Tulisan ini saya buat dengan ikhlas dan pastinya bukan pesan berbayar.

Advertisements

DSC_0884

I know nothing about parenting really, simply because I am not a mother. But, as an aunt, I know a little about babysitting -closest term to parenting- which would be my guideline to treat kids properly.

It was around 10 p.m. when I was sitting in JJ Royal Brasserie, a cafe-turns-into-lounge-bar for late night drinking, with a friend. Right across our table, I was fascinated -well, more of shocked- with a scenery of a man who was smoking cigarette blissfully in front of a kid while he was playing game joyously on his tablet. My presumption: I was seeing a father and his son.

I know nothing about parenting really, but what I do know is *when* I have kids, I will never take them out past 8 p.m, especially to a place like that (see photo above) where people smoke everywhere, super loud music (they were blasting filthy remix music, ugh), tipsy people, a lot of swearing and other inappropriate words, etc. It’s like putting a missing piece of a puzzle with a piece from a different puzzle -it’s just so wrong.

The scene then getting weirder because the father went for a while, probably going inside the cafe or restroom, and left that kid alone. Dude, I’m gonna tell you, that cafe/bar is a shit-hole so you could not leave your kid, whatever your reason, alone, in the middle of strangers. I kept looking at the kid, well, at least I would notice if something undesirable which later potentially becomes parents’ worst nightmare might occur.

5 minutes, the father hasn’t come back yet. I kept secretly looking at the kid (or openly? I forgot). That kid kind of noticed that I (or we?) looked at him constantly. He began to sit uncomfortably and seemed annoyed by me looking at him. The next thing he did shocked me even more. He took one cigarette from his father’s pack, and lit it (not inhaling, but more like lit a candle), and put the cigarette to the ashtray. Not long after, the father came back. Probably it’s a sign of red code to this father or something, or a sign his father told him to show people that the kid wasn’t alone, I wasn’t sure. And then the kid talked to his father, I suspected as, “Dad, that woman (and man) keeps looking at me!”, because that man instantly looked at us (specifically me) so I stopped looking around like a kid predator even I know the fact that I am not. I was just making sure the kid is supervised. That’s all.

We were like, “WTH?!”

I know nothing about parenting really, but it’s really hard not to judge this kind of thing. So when my friend told me that place is bullshit, I kind of like, “Yeah, OK, let’s get the hell out of here.”

Downloaded from Pixabay.com

I always love bookstore. Melihat susunan buku-buku yang terorganisir begitu rapinya di rak-rak yang berjejer rapat, maupun melihat tumpukan buku dengan tanda “sale” di puncaknya, adalah salah satu kelemahan saya. Kelemahan yang saya nikmati. Salah satu toko buku favorit saya adalah TM Bookstore yang ada di lantai 3A Poins Square, Lebak Bulus.

Well, mall ini bisa dibilang bukan list mall favorit orang Jakarta yang kekinian. Bahkan kalau pun lewat, dilirik pun tidak apalagi yang niatnya adalah nongkrong-nongkrong cantik lalu check-in location di social media. Tapi sebetulnya, buat saya mall ini menyenangkan. Bukan untuk wandering around maupun nongkrong, tapi memang untuk belanja, especially belanja perlengkapan olahraga….. dan buku.

Begini, di mall ini terdapat Sport Warehouse, which is the best place untuk Anda yang mau belanja perlengkapan olahraga seperti sepatu, kaus kaki, berbagai kaus olahraga, kaus kasual, jersey, topi, mug, dan lain-lain -untuk segala usia- dengan harga murah! Kalau sudah puas belanja, Anda pencinta buku juga bisa langsung melipir ke TM Bookstore yang lokasinya persis di seberang.

Sebetulnya toko buku ini bukan toko buku besar, tapi meski begitu koleksi buku dan stationery-nya cukup lengkap. Poin plusnya lagi, tepat di depan toko buku, ada hamparan buku-buku sale, yang amazingly di situ Anda bisa menemukan buku-buku berharga dengan harga sangat murah, di bawah Rp 50.000! Pastinya yang dimaksud dengan buku berharga di tulisan saya ini subjektif dong ya. Karena saya suka sekali dengan cerita klasik, saya waktu itu cukup shock menemukan buku “Marry Poppins” karangan P. L. Travers berada di tumpukan tersebut (hanya satu-satunya!) dengan harga Rp 20.000 saja, “The Marvelous Land of Oz” karangan L. Frank Baum seharga Rp 7.000 (no kidding!), “Treasure Island” karangan Robert Louis Stevenson seharga Rp 8.000 (holycow I’m dead serious!), hingga “Baudolino” karangan Umberto Eco seharga Rp 30.000 saja. Well, kondisi bukunya memang bukan buku yang terbungkus plastik mengilap. Mayoritas memang masih terbungkus plastik, tapi di beberapa bagian ada beberapa sobekan. Ada juga beberapa yang tidak terbungkus plastik dan sudah ternoda seperti layaknya buku lama. But, who cares?!

Di sana Anda juga bisa menemukan buku-buku lainnya mulai dari buku tentang agama, self-help, buku anak bergambar, bahkan komik -meski bukan koleksi terbaru. Buku baru ada, tapi letaknya di dalam toko, bukan di bagian luarnya seperti yang saya bicarakan. Oh, dan stationery-nya menurut saya koleksinya cukup bagus. Seperti notebook misalnya, nggak kalah dengan notebook koleksi toko buku Aksara, namun dengan harga yang jauh lebih murah.

So, yes, pastinya saya akan mengunjungi toko buku ini lagi di masa mendatang. Because my kind of treasure awaits!

I’ve been keeping this story for quite long; it’s about a girl I met randomly in a coffee shop downtown last year.

At that day, she sat at a table for two with her (now ex, maybe) fiancé behind my table. The table setting itself is pretty close from one to another because the place is quite small. When they sit, I put on my headset immediately for the sake of my, you know, not hearing people talking, and I can get back to my book.

After some minutes, I overheard their conversation because the man raised his voice, muffled his anger tone. I turned off my iPod, still with headset on. By that time I heard the girl began to sob. You can’t just ignore people crying, right??  I tried not to look at them, and thought maybe it was just a normal couple fight. I don’t know about normal though, because what normal couple fight seems to me has nothing to do with tears or sobbing.

Not long after, I felt like my chair is being pushed and I immediately turn my head back. The man abruptly stood up from his chair and said, “You’ll be sorry for this,” to the girl as he stormed out. The girl just sat still, didn’t look at the man as he left. Her eyes locked to her cup of coffee at the table, with tears streaming down her face. And then she noticed my presence, or me looking at her curiously and trying to find out what’s going on, and said, “Sorry,” with wryly smile. I said, “It’s okay,” and grabbed my book again.

Around 10 minutes later, she poked my shoulder and asked me a cigarette. I handed the pack and the lighter. “Thanks,” she said as she smiled with her swollen face, and headed back to her table.

I know that I was not supposed to talk with a stranger specifically to a person who just had a conflict, but somehow I felt that if I were in her shoes, likely I needed someone to talk to. And on the other hand, sometimes it’s best to talk to a stranger because you know you don’t have to see them again. So I turned around again, and asked if she’s okay… I can sense that she felt I caught her off guard by me asking that question. She smiled and said that she’s fine. I know I should’ve shut my mouth, but I just couldn’t helped it…

“Are you sure you’re okay?”
“Yeah…”
“Mm… Do you want a company?”

She just stared at me for some seconds, so I was thinking that probably it was a sign of me that I need to leave her alone. It’s her personal life after all. So I just gave her some tissues just in case she needs it, and went back to my book.

Having a thought that at that time she seems don’t want to be disturbed, I kind of surprised that she came at me with her bag, holding her cup, and asked if she could join me. And I said, “Sure.”

It felt awkward at first because I didn’t know what to say at all. It’s hard you know, showing sympathy… The silence… Oh I really hate the awkward silence as much as I hate small talk. But then something popped into my mind that could be a good ice breaker.

“Hey, do you think this coffee shop has some alcohol in stock, because probably we, especially you, need it.”

She laughed. SHE LAUGHED thank goodness! *proud* And it didn’t take a long time for her to spill her emotion out. She said that she called off her wedding a month before. Instead asking her why, I asked that if that’s the best solution for her… And she said yes. (Not) surprisingly, she said that she shouldn’t have said yes to his proposal, she should never have said yes to their engagement, because she is supposedly quit from that relationship long ago.

“He’s not the one. He did horrible things to me, physically and emotionally. I wasn’t happy, I don’t want to live with what he is or what he’s going to be, but somehow, for years, I have faith that he could change if I help him. The fact is, I don’t know how to help him, neither is he. And I know the whole thing ruined me. I am changing to the person I don’t want to be, so I have to save myself at the first place. It broke my heart. And what broke my heart the most is I found out that he’s been cheating on me for some month after our engagement. It’s just not fair. I don’t want to have a future with that kind of man.”

I offered her another cigarette. “Here, you can have it if you want.” She took one and lit it.

“How old are you, if you don’t mind…”
“I’m 24.”

Such a young age because I thought at least she’s 28 or 29, or early 30s.

“I won’t say that marriage is not the right to do, but definitely there are a lot of things you can do to make you happy while searching for the right one. For God sake you’re still young!” That’s how I responded, trying my best not sound (too) judgmental and harsh.

We talked around 2 hours or so almost about everything (with another cups of coffee of course). I enjoyed this, we both enjoyed this. Until I realized it’s already 9.30 in the evening. I had to go home.

“Do you feel a lot better now?”
“So much better. Thank you so much.”
“Aren’t you suppose to go home as well?”
“Later, I am going to enjoy this for a little while.”

And then I stood up, came to her and gave her a hug. Thank God it’s not an awkward hug. And then I realized that I don’t know her name, and she doesn’t know mine. I was about to ask, but on the second thought, I guess it’s better off that way. Knowing that she feels better already is all that matters.

“Goodbye, and good luck for everything you’re up to,” she said to me.
“You too. No more sad tears, okay?!”
I smiled and walked away.

For the first time of my life, consciously I’ve never felt so relieve knowing that someone called off her marriage. It’s an awful news though. But I believe that everyone deserves to be happy and live life to the fullest. For her, it’s not a marriage. Not yet.

Hal paling menyenangkan ketika Anda mengunjungi negara lain adalah fakta bahwa Anda dihadapkan pada aturan, kebiasaan, dan kebudayaan yang berbeda dari negara kita. Meski banyak yang mengatakan bahwa dalam hal tersebut Thailand tak jauh berbeda dengan Indonesia, tapi nyatanya saya merasakan banyak sekali perbedaan, termasuk aturan tentang per-ojek-an (motor taxi), yang kalau dipikirkan sampai sekarang membuat kami (saya dan Nadya) tertawa dibuatnya.

Jadi begini… Waktu itu kami harus membeli tiket bus ke Bangkok di Terminal Bus Phuket Town untuk berangkat keesokan harinya. Perlu diingat, transportasi di Phuket itu cenderung sulit. Tidak banyak bus yang beredar, khususnya ke area Patong, area tempat kami menginap. Dan sayangnya, Google-pun tak banyak membantu. Bertanya dengan beberapa petugas di terminal pun, mereka bilang tak ada bus dari terminal untuk ke Patong. Menurut mereka, satu-satunya jalan adalah dengan naik taksi. Karena jarak dari terminal ke area Patong sendiri cukup jauh, transportasi dengan taksi adalah pilihan terakhir untuk kami. Kami pun bertanya dengan petugas terminal lain, dan dia bilang bahwa ada bus dari terminal ke area Phuket Town, tapi bus tersebut tidak masuk ke dalam terminal. Jadi kami harus ke luar dan mencegatnya di pinggir jalan. Berbekal keoptimisan tersebut, kami pun akhirnya berjalan ke luar terminal, menyusuri jalanan, dan melirik cafe-cafe bergaya simple dan sophisticated dengan tulisan “Coffee” di jendelanya *glek*. Setelah menunggu cukup lama, sekitar 15 menitan, bus tak kunjung lewat. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke arah terminal dan menunggu di sana. Hasilnya, tetap nihil. Kebetulan, di depan terminal ada pangkalan ojek, dan di sana pun ada spanduk yang ditempel, menjabarkan tentang biaya berdasarkan lokasi tujuan. Kami baca, ke Phuket Town: 100 THB. Seorang tukang ojek pun menghampiri kami, dan kami bilang, “Phuket Town, 100 THB, for 2?!” Dan dia bilang, “Ya.” Oke, 100 THB berdua naik ojek rasanya tak terlalu mahal… Dan akhirnya kami memutuskan untuk naik ojek ke Phuket Town.

Ada yang aneh…

Untuk membawa dua orang naik motor, logikanya membutuhkan dua buah motor, kan? Paling tidak itu adalah pengalaman naik ojek di Jakarta. Tapi kami hanya melihat satu tukang ojek saya yang bersiap-siap tengah memakai helm.

“Nad, kita naik dua ojek kan?!!”
“Harusnya, sih, gitu!”

Dia pun menghampiri tukang ojek tersebut dan memastikan kami akan ke Phuket Town dengan dua buah motor. Lagi-lagi dengan mengandalkan Tarzan-english.

“I want one bike for her, and one bike for me!”
“No, one bike for three”
…………
Sampai akhirnya mata saya tertuju pada bagian bawah motor… footstep motornya ada tiga. Ya, ADA TIGA!

Saya pun langsung mencolek Nadya sambil menunjuk ke arah footstep tersebut, berusaha mencerna situasi bahwa kami akan naik motor bertiga (bersama si abang ojek). Begini, kami berdua suka mengeluh melihat orang-orang yang satu motor membonceng lebih dari satu orang, atau sekeluarga (satu istri, dua anak) dalam satu motor dan yang membuatnya lebih buruk adalah tanpa memakai perlengkapan memadai (baca: helm). Pemandangan tersebut tentunya mengundang sumpah serapah (tanpa melihat kelas status sosial), dan sebisa mungkin kami menghindari hal tersebut because it’s simply wrong! Polisi (yang benar) pun pasti tak akan meloloskan orang-orang tersebut. Oke, kembali ke permasalah kami… Jadi, kami akan naik ojek bertiga. YA, BERTIGA! Oh well… Dengan berat hati dan kecemasan kalau-kalau kami akan distop oleh polisi di jalan, akhirnya abang ojek pun mengantar kami ke Phuket Town. Di jalan menuju ke sana, kami memang berpapasan dengan beberapa polisi, dan sepertinya tak ada masalah, tuh, dengan naik motor bertiga di sana. And improvising that shitty and silly situation, we’ve managed to take a wefie. Ssssh, it’s our little ‘misdemeanor’, and Nad said it’s police officers approved!

20150226_175034

Photo: Nad’s archive.

Setelah perjalanan kurang lebih selama 15 menit, akhirnya kami sampai di Phuket Town, yang ternyata di hari itu sedang penuh sesak pengunjung dan penjual berbagai makanan karena ada parade, entah parade apa. Kami hanya menikmatinya, hanya menerka-nerka, tanpa bertanya. Kenapa? Karena kami sibuk melihat-lihat booth makanan yang berderet berhadapan di sepanjang jalan. That’s why. Baru beberapa meter berjalan, kami melihat sebuah booth sate yang secara visual menarik dan secara bau sangat mengundang. Tentu saja kami merasa terpanggil. Kesalahannya adalah kami bertanya.

“Hello, what is this?”
“Pork.”

OK. So we can’t eat it. Sad story. Sambil menelan ludah dan penuh rasa kecewa, akhirnya kami kembali menyusuri jalan. Mengobati kekecewaaan terhadap sate babi yang hampir kami beli, akhirnya saya memutuskan untuk membeli bola ubi goreng. Ohhhh, it’s totally sweet potato at its best. Enak banget! Saya lupa Nadya membeli apa, tapi yang saya ingat adalah sesuatu yang rasa dan penampakannya seperti choi pan dan dimakan dengan saus pedas manis a la Thailand. Setelahnya kami membeli fish balls (ada yang pork juga, FYI). Si penjual bilang, “It’s hot.” Jadi kami pikir makanan ini panas (karena memang terlihat sedikit mengepulkan asap). Tapi ternyata “hot” yang dimaksud di sini bukanlah panas, melainkan super pedas. Saya ingat ketika saya makan bola pertama, lidah saya langsung panas (sebelumnya Nadya bilang, “Ini agak pedas.”), lalu berlanjut ke hidung, lalu ke telingat. Jadi maksud “hot” di sini adalah tingkat kepedasan that could ruin your tastebuds, nose, and ears. So, it’s a lesson for you. Tapi selain saus super pedasnya, fishball-nya enak, kok.

Suasana Phuket Town sore itu menyenangkan dengan langit senja menaungi kota, mempercantik kota yang dipenuhi bangunan kota ala Tionghoa dan Portugis. Meski bangunan tua, tapi kondisi bangunannya sangat terawat karena memang mayoritas semua bangunannya berpenghuni. Mulai dari tempat tinggal, pertokoan, hotel, restoran, hingga museum. Sayang, kami tidak kami menghabiskan waktu yang lama di sana. Jadi, begini ceritanya.

Setelah menyusuri jalanan di Phuket Town di tengah ratusan orang yang memadati jalanan, kami memutuskan untuk mencari informasi tentang ada atau tidaknya bus ke arah Patong. Saya membaca beberapa cerita para traveler yang mengatakan bahwa para petugas kepolisian Thailand mayoritas sangat membantu. Karena itu, ketika saya melihat petugas polisi, saya memutuskan untuk bertanya kepadanya. Dan memang benar, dalam menjawab pertanyaan turis, meski dengan bahasa Inggris seadanya, dia (mereka) terbilang ramah. Bahkan, dia mengantar kami! Eits, jangan senang dulu. Ternyata dia mengantarkan kami pada sebuah tempat tour travel. Dia berbicara kepada petugas tour travel tersebut, yang ternyata menyediakan layanan taksi… Ya… Tentu saja… Karena sudah terlanjur basah dan memang sudah malam (sekitar pukul 19.00), akhirnya kami sepakat membayar 500 THB (which is quite expensive, no, it was expensive!) (And we’re sucks at haggling!) untuk kami kembali ke hostel. Hiks. Apa mau dikata. Cukup jauh memang, perjalanan sekitar 30 menit, tapi tetap saja kami tak rela membayar sebegitu besar! Sudah begitu, kami tidak diturunkan di depan hostel, melainkan di depan gang, sehingga kami masih harus berjalan untuk menuju hostel. Oh well…

Saya tidak pernah memikirkan apapun tentang Kantor Pos Indonesia, sampai beberapa waktu yang lalu (tepatnya pada hari Senin, 8 Maret 2015) saya dibuat kaget oleh pesan seorang teman di Swedia dengan attachment sebuah foto yang menunjukkan bahwa kartu pos yang saya kirim dari Phuket (tepatnya tanggal 27 Februari 2015) sudah sampai. Ya, kurang dari 10 hari! Sementara itu, teman saya Nadya yang mengirimkan kartu pos di hari yang sama dengan tujuan Indonesia, belum sampai. Well, tidak butuh IQ di atas 120 untuk tahu jarak negara mana yang lebih jauh. So the question is, “How come?!”

IMG-20150309-WA0014

A photo of my postcard that my friend took when he got it. And yes, you know who you are.

Lalu saya ingat, tahun lalu saya mengirimkan kartu pos ke seorang teman yang tinggal di Aljazair (benua Afrika, FYI), yang ternyata membutuhkan waktu 2 bulan untuk sampai. Karena waktu itu saya tak punya pembanding, saya pikir normal-normal saja tentang waktu pengiriman karena it’s simply in Africa. Mengingat si kartu pos akan melewati daerah-daerah konflik, terselip di dalam dokumen-dokumen rahasia negara (mungkinkah?) atau semacam angkutan umum yang harus ngetem di beberapa tempat dalam jangka waktu tertentu (bisa jadi?!).

Lalu saya juga ingat waktu itu bos saya mengirimkan kartu pos dari Korea (Selatan, indeed), dan itu membutuhkan waktu selama 1 bulan untuk sampai di tangan saya. Lalu teman saya yang lain, yang katanya mengirimkan saya kartu pos dari Shanghai (perkiraan pengiriman saat tahun baru) hingga kini belum sampai. Ke mana perginya?!!

I don’t know about you guys, tapi ketika saya mengirimkan kartu pos dari Indonesia (Jakarta, to be exact), saya harus pergi ke kantor pos karena setahu saya, kotak pos yang (dulunya) bertebaran di jalanan sudah kehilangan fungsinya. Sebetulnya masih ada fungsinya, hanya sebagai “pajangan” di jalanan dan wadah “kreativitas” para seniman jalanan amatir, atau menjadi tempat sampah? Ketika di Phuket, saya tak perlu pergi ke kantor pos untuk pengiriman kartu pos. Cukup dengan membeli kartu pos (yang dapat ditemukan begitu mudahnya di toko souvenir dan berbagai convinience stores) dan membeli prangko yang juga tersedia di convinience store (waktu itu saya membelinya di 7Eleven). Langkah terakhir (setelah menjilat prangko dan menempelkannya di kartu pos) adalah memasukkannya ke dalam kotak pos yang bisa Anda temukan di jalanan. That easy!

Tinggal di kota di mana fungsi kotak pos tak lagi berjalan, tentunya ada kekhawatiran bahwa kartu pos tersebut tak akan diambil oleh petugas pos, atau jatuh tercecer ketika proses pengambilan, dan lain-lain. Dengan kata lain, ketika saya mengirimkan kartu pos tersebut, saya dalam keadaaan pasrah bahwa kartu pos tersebut akan dikirimkan atau tidak (bukan sampai atau tidak). Dan kenyataannya, kekhawatiran saya tak terbukti. Dengan ekspektasi yang begitu rendah, bahkan saya dikejutkan dengan hasil bahwa pengiriman ke benua Eropa all way the from Andaman sea area could be that fast!

I know it’s just a post card, but you know, that little piece of paper means a lot to me (and to other people who still fancy post cards!). Kalau pengiriman di negara tetangga bisa dilakukan dengan cepat, kenapa kita tidak bisa? Saya tidak masalah, kok, kalau proses pengirimannya memang sedikit memakan waktu (dalam artian harus mencari kantor pos dan HARUS MAU mengantre lama) (ya, itu terjadi saat saya mengirimkan kartu pos ke Aljazair), kalau memang waktu yang dibutuhkan untuk proses pengiriman bisa dipangkas (barang sebulan, mungkin?)

Meski begitu saya cukup senang dengan sampainya kartu pos yang saya kirim, begitu juga kartu pos yang teman-teman saya kirimkan untuk saya. Uhm, well, meski saya masih menanti kartu pos yang tak kunjung datang dari Shanghai. Semoga saja saya bernasib lebih baik dari Bapak Jason Crabtree yang baru menerima kartu pos dari sahabat penanya setelah 49 tahun!

Ok. Sudah cukup dengan komplain saya. Kalau teman-teman ada pengalaman yang serupa atau sama sekali berbeda dengan yang saya alami, silakan jika ingin berbagi.

PS: Saya akan mengirimkan lagi kartu pos ke Eropa dari Jakarta, dan membandingkan waktu pengiriman ketika saya mengirimkannya dari Phuket. I’ll update this post later!

So, after 2 hours 45 minutes flight, we landed in Phuket around 20:30. The only way to get to our hostel in Patong area was by minivan since the bus service was not available at that time. But don’t worry, there are so many minivan operators you can choose with reasonable price once you get out from the airport’s exit door. From airport to Phuket, I was charged for only 180 THB (around 70.000 IDR), which was affordable considering the distance was quite far (an hour drive) and they drove us straight to our hostel. The downside of taking the minivan is they will make a stop in a travel agency, and you’ll be offered their tour packages. Some might think it’s quite annoying, but for us it was not a big deal. You could just tell them as friendly as you can that you’ve already booked one, and they will let you go back to your seat. It’s only 10 minutes stop anyway.

After 1 hour drive, we arrived at our hostel (Dfeel Hostel) at 21:00. For me, the hostel was nice, situated in a quite neighborhood, lovely retro decoration, and friendly staffs. After checking in, the reception lady gave our keys to our room located on the 4th floor. When we were about to get to our room, we were greeted by two Asian guys, Yui (Japanese) and Yii -or at least that was what I’ve heard (Chinese). Turned out they were our roommates. Apparently, they couldn’t get the door open with their keys. So they were depending on our keys.  When we got to our room, I was the first one who tried to open the door with my key. I shifted it left and right, pressed it, repeat -it failed. Nadya tried her key as well but it didn’t work either. We went back downstairs to report our situation to the receptionist. She gave us another key for us to try, but it didn’t change anything. Feeling hopeless, finally the hostel keeper came to rescue by opening our room with his key. He checked our keys, and apparently we were given the wrong keys. Like, wtf.

To sum it up, it was kind of creepy knowing that 4 people couldn’t open the door, with 4 keys, on the 4th floor -the fact that 4 is known as a number that can bring bad luck in some Asian cultures.

Nad tried to open the door with her key, and she failed.