Archive

Interviews

Tara Basro - Cover Story - Full   Current work as a features contributor in Grazia Indonesia magazine December 2014 issue. Got the chance to interview this fierce gal, Tara Basro, one of the rising stars in Indonesia’s film industry. She’s friendly, smart, and we (or at least me) had a great time at the interview session. Styled by: Yoland Handoko Lensed by: Glenn Prasetya Dress: Friederich Herman, Albert Yanuar Makeup: Andy Chun Hairdo: Linda Nail: Velize Nail Art And interviwed by yours truly

Advertisements

Untuk Grazia Indonesia edisi Oktober 2013, saya berkesempatan untuk mewawancara Cinta Laura Kiehl sebagai Cover Stiry, yang pada pada awal Juli – awal Agustus lalu sempat pulang ke Indonesia. Katanya, sih, kepulangannya ini didedikasikan untuk para fans-nya dan memenuhi permintaan fans-nya untuk mengisi acara sahur di TV—karena selanjutnya Cinta tak akan sering pulang ke Indonesia karena ingin mengejar karier Hollywood-nya.

Berikut ini adalah wawancara saya dan Cinta.

Gimana dengan kuliah, sudah semester berapa sekarang?

Saya baru saja menyelesaikan sophomore year, dan akan melanjutkan ke junior year. Kalau istilah di Indonesia, saya sudah masuk semester 5. I’m doing really well by the way. Ketika memutuskan untuk kuliah, saya ingin mengambil major Psikologi dan Ilmu Politik, tapi akhirnya saya sadar bahwa saya benci Ilmu Politik (tertawa). Akhirnya saya pindah jurusan, jadi saya mengambil Psikologi dan Sastra Jerman. So far saya tak pernah bermasalah dengan akademik karena pada dasarnya I love studying. Jadi secara akademis bisa dibilang pencapaian saya baik ya. Biasanya menjadi Sarjana membutuhkan waktu 4 tahun, tapi saya mencoba untuk menyelesaikannya jadi 3 tahun. Kalau menurut jadwal saya akan lulus Mei 2015, saya akan mencoba untuk lulus Mei 2014. Dan saya harap saya bisa mendapatkan gelar Summa Cum Laude ketika lulus.

Yang membuat kamu mengganti major Ilmu Politik, apa?

Psikologi akan menjadi major yang akan saya pilih, tapi alasan utama saya tidak menyukai Ilmu Politik adalah karena saya menyadari bahwa….. Sebenarnya bagus, ya, saya bisa mengetahui teori-teori yang ada di belakang politik and the way different nations function. But I feel like I can get more knowledge about what’s going on in the world and how a different country manage their political system. Learning a theory doesn’t really help me because I can’t really apply it to the real world. Jadi saya merasa terlalu banyak teori dan terlalu sedikit praktik.

Masih ingin bekerja untuk United Nations dan World Bank?

Yeah! Alasan saya ingin menyelesaikan kuliah saya selama 3 tahun adalah karena…. Ketika saya menyelesaikan S1, saya ingin pindah ke Los Angeles dan akan tinggal di sana selama 1 tahun untuk mencoba keberuntungan karier profesional saya di Hollywood. Saya punya manajer di sana dan saya ingin ikut audisi untuk lebih banyak film. Untungnya saya sudah punya pengalaman terlibat di film produksi Hollywood, yaitu The Philosopher (rencananya tayang akhir tahun 2013). Jadi saya akan mencoba peruntungan saya di Los Angeles, semoga saya bisa, please pray for me. Tapi jika saya tidak berhasil, saya akan kembali bersekolah dan mengambil S2 di Harvard Law and Bussiness School, dan nantinya akan bekerja untuk PBB atau Bank Dunia. Jadi, UN dan World Bank adalah Plan B saya kalau saya tidak berhasil di Hollywood. But I love both equally! Which ever life’s leads me to, I’ll be happy.

Kalau melanjutkan S2, mau ambil major apa?

Mungkin bisnis atau hukum karena… Entahlah.. Saya pikir, kenapa tidak? Keduanya menurut saya berguna. Kalau saya tidak berhasil menjadi artis internasional, ibu saya menginginkan saya terlibat di politik, dan banyak sekali politisi adalah seorang pengacara (tertawa).

Kamu kan punya pengalaman bermain di film produksi Hollywood. Lalu dari situ, bagaimana perbandingannya dengan industri film lokal kita?

It’s extremely different. Im sad to say, but the Indonesian film industry is unorganized. Ada saat mereka memberitahu jadwal syuting jam 6 pagi, tapi kenyataannya syuting baru dilakukan pukul 8 pagi atau 11 siang. Mereka membuat Anda menunggu terlalu lama! Industri film di sini tidak punya aturan jelas tentang jam kerja, misalnya mereka membuatmu bekerja lebih dari 12 jam seharian yang menurut saya tidak manusiawi. Di Hollywood, kalau kru memanggil talent-nya jam 6 pagi, syuting harus selesai pukul 6 petang. Yang kedua, lokasi syuting film produksi Hollywood jauh lebih baik. DI Indonesia, toiletnya kadang kotor sekali, begitu pun makanan yang disajikan seperti menyajikannya dalam kertas koran. Belum lagi banyak lalat di mana-mana. Di film produksi Hollywood, setiap aktor memiliki ruangan sendiri yang punya fasilitas AC, sofa, Wi-Fi, meja makeup. Ada pula fasilitas umum seperti TV, snacks dan catering dengan makanan-makanan enak, dan bahkan tersedia treadmill  dan meja ping pong jika Anda ingin sedikit berolahraga saat menunggu. Dan tentu saja toiletnya bersih. 

Anda bisa akting, bisa nyanyi, dan punya nilai akademik yang bagus. Menurut Cinta secara pribadi, apa yang paling Anda kuasai?

Mungkin akademik dan olahraga.. I’ve been an athlete as far back as I can remember. I used to be a swimmer, a competitive swimmer. Saya biasa berkompetisi melawan sekolah-sekolah internasional lainnya di Indonesia, bahkan saya juga sempat ikut kompetisi di Perth, Australia, namun akhirnya batal karena saya harus menjalani operasi usus buntu. Waktu SMA saya juga ikut basket serta track and field (atletik). Saya juga pernah ikut lari 100 m dan 200 m, dan juga lompat tinggi, 400 m relay, so I’m a real athlete. Tapi, yah, saya pikir saya lebih bagus dalam akademik karena saya prestasi saya di sekolah bagus dan saya selalu berusaha menjadi yang terbaik. And because of my competitive nature, I think that’s why I’m also pretty good at sports. I wouldn’t say I’m a world class athlete, not at all, but I’m good at sports and I’m able to do a lot of things.

What’s your biggest fear in life?

Not achieving what I want to achieve in life because I’ve always been able to get whatever I wanted, and I’ve worked really hard for everything in my life and I always been able to get what I want. And I’m scared that one day it wont happen anymore. So far throughout my life I’ve always achieve what I want to achieve, so hopefully that good luck continue to follow me to the future.

Ada tidak hal dalam hidup yang ingin kamu ubah?

Saya berharap bisa melakukan lebih banyak hal ketika saya lebih muda, seperti bisa memainkan instrumen musik, mengambil lebih banyak kelas menyanyi dan akting, pokoknya saya berharap saya dulu dapat melakukan lebih banyak hal di hidup saya. Ya, saya merasa belum banyak melakukan hal-hal yang ingin saya lakukan…

Kapan terakhir kali Anda merasa sangat bahagia?

Saya tidak ingat. Bukan karena saya tidak bahagia, ya, tapi karena saya pikir karena banyak hal yang belum berhasil saya raih. Dan hingga saya dapat meraih semua itu, saya pikir saya tidak akan dapat merasa benar-benar bahagia. Meskipun begitu, saya tetap bersyukur dengan apa yang saya miliki. Jadi jangan mengira saya adalah orang yang tidak berterima kasih, saya hanya tidak ingat kapan terakhir kali saya merasa sangat bahagia. That sounds depressing, but I’m just being honest…

Apakah Anda tidak dapat mengingatnya karena merasa pada dasarnya Anda selalu merasa bahagia?

I can’t remember because most of the time I’m just like moderately happy (tertawa).

—-

So, what do you think about Cinta? 😉

Cinta Laura Kiehl as seen in Grazia Indonesia October 2013 issue Cover Story. Pengarah gaya: Yoland Handoko | Fotografer: Bona Soetirto | Rias wajah & tata rambut: Bubah Alfian.

Cinta Laura Kiehl as seen in Grazia Indonesia October 2013 issue Cover Story. Pengarah gaya: Yoland Handoko | Fotografer: Bona Soetirto | Rias wajah & tata rambut: Bubah Alfian

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk wawancara Lola Amaria, seorang filmmaker serba bisa yang menurut saya selalu membuat karya konsisten tentang tentang sebuah isu yang seringkali luput, namun harus dikuak dan diketahui masyarakat umum. Berikut ini adalah rangkuman dari wawancara tersebut (sebelum ilm “Kisah Tiga Titik” tayang). Enjoy and be inspired!

Untuk beberapa hal, wanita memang punya kepekaan tertentu, yang tidak dimiliki pria. Dulu, memang pekerjaan sebagai sutradara didominasi oleh pria. Apalagi dilihat kerja yang bisa nonstop bekerja berbulan-bulan di luar. Sekarang, karena perkembangan teknologi, ditambah lagi dengan ide-ide yang berkembang dan kepekaan atas berbagai masalah yang timbul, wanita membuktikan bahwa mereka juga mampu menduduki kursi sutradara.

Kalau saya perhatikan, sudah banyak ya sutradara wanita yang stand out. Di Indonesia sekarang juga sutradara wanita semakin banyak. Yang paling kelihatan memang para aktris yang berbondong-bondong menyutradari film. Lihat saja omnibus “Rectoverso” (disutradari Marcella Zalianty, Cathy Sharon, Olga Lydia, Rachel Maryam, serta Happy Salma) dan “Pintu Harmonika” (disutradarai Luna Maya, Sigi Wimala, dan Ilya Sigma).

Karya-karya mereka akan membuat film lokal makin beragam. Kalau sudah begini, secara bisnis, industri perfilman akan semakin maju, dan investor pun akan semakin banyak. Tapi ingat, kualitas jangan lantas dilupakan.

Untuk saya pribadi, film yang berkualitas adalah film yang komunikatif, dalam arti apa yang ingin disampaikan filmmaker dimengerti penonton. Film yang komunikatif harus memiliki tiga unsur: etika, estetika, dan logika.

Maksud dari etika adalah, misalnya ada film yang bercerita tentang pasangan yang tinggal serumah. Indonesia punya etika tentang hal ini sehingga beberapa hal harus dibatasi. Kedua, logika harus diperhatikan. Tak mungkin kan menampilkan adegan seorang wanita yang tidur menggunakan… makeup tebal dan bulu mata palsu.

Dan segi estetika juga tak kalah penting. Misalnya ada setting ruang kerja seorang arsitek, ya ruangan harus dibuat sedemikian rupa. Atau tidak mungkin menampilkan seorang dokter spesialis yang physically terlihat sangat muda. Kalau ketiga unsur ini terpenuhi, terlepas dari penceritaan, film bisa dikatakan bagus.

Film-film saya, mulai dari “Betina”, “Minggu Pagi di Victoria Park”, “Lumba-Lumba” di omnibus “Sanubari Jakarta”, dan film terbaru yang saya kerjakan, “Kisah Tiga Titik”, punya tema besar tentang wanita. Kenapa? Karena, ya, saya seorang wanita. Secara hasil, akan lebih touchy film-film tentang wanita yang dikerjakan oleh wanita. Lebih dapat perspektifnya, karena paling tidak  bisa membayangkan rasanya.

Tapi kemarin ada yang menawarkan saya untuk membuat film tentang TKI di Korea yang 90% adalah pria, yang bekerja di pabrik mekanik dan alat berat. Menarik ya untuk menelusuri dan mengungkap masalah mereka di tempat kerja, kesehariannya, percintaannya. Tapi nanti dulu, deh, masih butuh riset yang mendalam.

Ada yang pernah bertanya kepada saya, “Film kamu sidestream terus?”. Saya bingung menjawabnya karena film mainstream dan sidestream itu buat saya tergantung jumlah penonton. Mau, sih, bikin film yang ringan, tapi yang sudah-sudah, ujung-ujungnya berat juga. Ha ha ha!

(As published in Grazia magazine).

Iwet-ramadhan

Foto: Orie Buchori

Few months ago, I got lucky to met Iwet Ramadhan (announcer, MC, actor, designer) in person and had a brain-gasm interview for August issue of Grazia magazine. Yes, he is amazingly smart, and he gave me new insights about the meaning of nationalism through culture, especially from Batik.

Below is the interview (that will be wasted if it’s stored *uselessly* in my hard disc). Enjoy!

—-

Sudah dari kecil punya ketertarikan yang besar terhadap budaya?

Saya sudah suka budaya sejak, usia 2 tahun. Saya lahir di Jogja dan besar di lingkungan yang kental budaya. Ayah saya orang Jawa Timur, lahir di Tuban dan besar di Surabaya. Tepatnya di dekat Mojokerto, dekat dengan situs Majapahit. Ibu saya orang Sumatera Barat, dari kampung Rau.

Dan kebetulan keluarga dari mamah sangat mem-preserve budaya. Kayak nenek saya punya pelaminan sendiri. Kalau ada yang nikah adat Padang, pasti akan dibuka. Kemudian di Yogyakarta, memori yang saya ingat ketika hidup sebagai manusia, adalah saya selalu bawa selendang batik. Ini berawal dari saya yang gak mau makan kalau gak dibawa ke Hotel Ambarukmo, karena dulu ada pagelaran sendra tari dan gamelan tiap sore. Nah, dari situ, cranky-nya adalah (dari kecil gue udah cranky) saya mesti bawa pulang sesuatu dari situ. Entah selendang, baju wayang, dll. Untung ayah saya kreatif. Dia suka membuatkan saya tempat buat panahan, topi wayang, selendang, dan itu (dengan bangga) saya bawa kemana-mana. Jadi, kalau masa kecil saya dulu, anak2 lain mengabdikan diri pada Voltus, tapi gue merasa diri gue adalah tokoh wayang.

Di Kelas Mbatik, kita bisa ngapain aja, sih?

Yang pasti tidak hanya untuk seru-seruan membatik saja. Biasanya saya selalu membuka acara dengan bercerita apa itu batik, apa yang membuat batik harganya mahal, apa jenis motifnya, jenis tekniknya, lalu kemudian baru para peserta praktek membatik–yang mostly para peserta mengakui sulitnya proses membatik. Dari situ para peserta mulai tumbuh kesadaran seperti: “Ah, gue gak mau lagi beli Batik print. Minimal Batik cap”. Dari situ orang-orang mulai tertarik lebih jauh tentang Batik–yang ternyata Anda juga bisa mengetahui sejarah suatu daerah/negara dari selembar kain Batik!

Sepertinya Anda suka sekali sejarah….

Jangan salah. Dulu saya benci banget pelajaran Sejarah. Pelajaran Sejarah yang ada di sini itu kan ‘menghapal’ banget ya–bikin malas. Setelah saya tahu Batik dan menelusurinya, baru saya menemukan kecintaan terhadap sejarah. Ya, bisa dibilang setelahnya saya mulai gila sejarah (yang berhubungan dengan Batik). Saya bisa lho tahu tentang sejarah Jakarta, Ondel-Ondel, hanya dari Batik…

Saya suka sebel banget kalau ada yang ngomongin batik Indonesia itu: “Ih, Batik itu Indonesia banget ya!”. Dude, you have to learn, kalau kita membicarakan soal kebudayaan, ya harus membicarakan soal akulturasi juga. Gak pernah ada yang ‘asli Indonesia’. Semuanya campuran, peranakan. Bahkan kerajaan Majapahit yang besar itu ada unsur India-nya.

Kalau berbicara tentang kemampuan dalam membatik, Anda menilai diri Anda pantas mendapat nilai berapa?

Dulu, sih, 7. Saya belajar mambatik karena saya menganggap bahwa ketika saya memutuskan untuk berbisnis Batik, ya saya juga harus bisa membatik. Saya dulu bisa mengklaim bahwa saya bisa membatik, meskipun belum halus-halus banget ya. Sampai akhirnya saya ke pembatik Oey Soe Tjoen dan Liem Ping Wie. Bertemulah saya dengan pembatiknya, dan mereka menggunakan canting nomor 0–yang setahu saya merupakan canting dengan ukuran terkecil. Begitu saya coba menggunakan canting tersebut untuk membatik, pembatiknya bilang: “Elek mas..”, yang artinya “jelek mas..” Hahahaha. Itu gila. Dan dari situ saya menurunkan nilai membatik saya dari 7 menjadi 5. Kalau nanti saya sudah bisa membatik dengan canting 0, baru saya akan memberi bila 7 lagi ke diri saya.

—–

Well, that’s it. I hope we can learn something from his spirit to uplift and preserve Indonesian heritage (especially Batik) in a fun way. Psst, after Batik, Iwet will explore Tenun. Can’t wait! #RR

Ruri__shei

Saya dan Shei (Foto: Nadya Paramitha)

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan Shefti L. Latiefah—yang akrab dipanggil Shei—untuk sesi wawancara di salah satu cafe di Depok. Singkatnya, wanita belia ini adalah inisiator dari social movement Save Street Child (SSC), yang terjun langsung menggandeng anak jalanan dan memberikan mereka harapan akan masa depan. Sambil kuliah (dan mengerjakan skripsi!), Shei masih dan terus akan aktif dalam berbagai kegiatan SSC. Salut. Dan kesalutan saya berlanjut dengan luasnya wawasan dia tentang anak-anak, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan politik, hankam, pendidikan, dan lain-lain. Seperti inilah wajah ‘mahasiswa’ seharusnya…

Apa kesulitan mengasuh anak jalanan?

Pertama, saya tidak mengerti basic dan manajemen moral, attitude, pembinaan, dan juga menghadapi reality life. Pernah, kok, kita menerima teror. Ada orangtua anak yang mabuk, datang ke rumah saya, dan mukulin anak-anak. Pernah juga dituduh penculik, tukang ikut campur rumah tangga orang, dan juga tukang hipnotis (tertawa).

Program apa yang menjadi acuan Anda?

Pendidikan. Menurut saya, pendidikan adalah alat yang paling manusiawi untuk memanusiakan manusia. Kalau pikiran dan hati mereka terbuka, mereka juga bisa jadi seseorang.

Kenapa Anda tergerak untuk mengurus dan mengasuh anak-anak jalanan? Pernah ada pengalaman emosional?

Hanya semacam guilty pleasure. Saya menganggap hidup saya nyaman, enak, dan lempeng-lempeng saja. Karena saya menganggap negara ini sudah awut-awutan, maka kalau mengandalkan pemerintah untuk mengurus anak-anak ini tidak akan cukup. Negara, kok, suka banget ‘memelihara’ fakir miskin dan anak-anak terlantar. Sapi dipelihara saja gemuk. Kalau fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara, ya, makin banyak!

Sekarang Anda tinggal bersama tiga anak jalanan di kontrakan, bagaimana awal ceritanya?

Waktu itu saya melihat dua anak cewek, Wati dan Lisa, masih kelayapan sekitar jam 12 malam, mengejar truk sampah—yang ternyata mereka tengah mabuk. Saya panggil dan saya ajak makan mereka. Saya tanya mereka akan tidur di mana malam itu, mereka jawab: “Di mana saja, di semak-semak juga bisa.” Padahal kita jam segitu masih enak-enaknya tidur atau santai di rumah. Sedangkan mereka harus cari tempat tidur yang belum tentu aman dari serangga, kecoak, Satpol PP, dan pemerkosa—karena mereka sudah 13 tahunan, ya.

Ketika saya bertemu lagi dengan mereka, saya berikan mereka baju. Karena kepikiran, akhirnya saya ajak mereka tinggal bareng. Karena saya adalah anak kost, harta berharga paling-paling cuma rice cooker yang harganya seratus ribuan rupiah. Nothing to lose.

Urus SSC sama siapa saja?

Dulu pernah punya pengurus sampai 10 orang. Pernah juga hanya dua orang. Maklum, yang namanya komunitas itu fluktuatif ya. Gak punya sistem kerja dan memprioritaskan hal-hal yang seharusnya diurus pemerintah. Teman-teman banyak yang tidak kuat.

Sekarang kan sedang skripsi. Kalau sudah lulus nanti, apa yang ingin Anda capai?

Saya ingi mendirikan Non-Government Organization (NGO) anak, tapi yang militan. Dalam arti bergaul juga dengan preman, supaya tidak seperti KPAI: Komisi Pelaporan Anak Indonesia. Ya, memang, hanya dilaporkan saja, tidak ada tindak lanjutnya lagi. Susah juga kalau sistem hukumnya belum benar. Masalahnya, ancamannya itu preman lho, real banget. Kalau bisa malah ada bekingan Hercules (tertawa).

Setelah banyak berinteraksi dengan anak jalanan, yang sebenarnya mereka inginkan?

Duit (tertawa)! Sebenarnya yang mereka inginkan adalah sebuah keluarga, dan SSC memberikan itu. Makanya ini alasan kenapa saya tidak menampung terlalu banyak anak. Saya adalah orang yang percaya bahwa institusionalized children is not a children. Anak-anak harus dibesarkan oleh keluarga, bukan hanya sekolah. Anak-anak akan kehilangan beberapa hak mereka seperti hak bermain, dan hak memperoleh kasih sayang. 

——

Jika ada yang tertarik memberikan donasi atau ikut serta dalam kegiatan SSC, silahkan tanya-tanya langsung dan follow akun Twitter resminya: @SaveStreetChild atau akun pribadi Shei: @sheilayla. — Masih ada (banyak) harapan untuk anak-anak jalanan.. #RR

Marcia_kilgore_edited

Saya berkesempatan bertemu dengan founder fitflop, Marcia Kilgore, dalam sebuah konferensi pers di Hotel Kempinski, pada 29 Maret lalu. Ketika para wartawan sudah diperbolehkan masuk ke ruang konpers, saya duduk di barisan kedua, dan langsung sibuk dengan smartphone untuk nge-twit. Orang yang duduk di depan saya balik badan, dan ternyata dia Marcia Kilgore. Selanjutnya beliau ngomong: “wow, kalau jurnalis dulu hanya bermodalkan pulpen dan notes saja, tapi kalau sekarang sudah dengan smartphone!” dengan wajah ceria.

Oh well, ketika acara dimulai dan dia ke depan dan berbicara tentang dirinya, ya, dia memang wanita entrepreneur sejati. Ketika sesi tanya jawab, saya memberanikan diri untuk bertanya dengan menanyakan:

1) fitflop terbuat dari plastik, ramah lingkungan atau tidak? Jawabannya ternyata masih belum. Namun dia memastikan produknya berkualitas sehingga tidak akan rusak dan menjadi penghuni tempat sampah/tempat pembuangan akhir dalam waktu yang sebentar. Sebagai gantinya, Marcia cerita kalau ada program tanam pohon dalam setiap item sendal/sepatu fitflop yang terjual. Ya, dia berusaha untuk sebisa mungkin tetap bertanggung jawab terhadap lingkungan.

2) Usaha apa lagi yang akan dirintis? Dan saya langsung memberikan contoh: pakaian yang bisa bernapas. Dia kaget dan berkomentar: “great idea! maybe we should talk about this after!” Well, siapa tahu itu memang yang akan dibuatnya nanti 😀

Dan ketika talkshow selesai dan sesi foto berlangsung, Marcia menyempatkan diri berkata kepada saya: “nice question by the way, and I love reading Grazia in my country!”, the she smiled. Isn’t she sweet? #RR