Archive

Concerts

Seperti judul di atas, ya, saya iri berat sama band d'Masiv. Saya iri karena menjadi salah satu band/penyanyi/musisi pilihan untuk tampil di Guinness Arthur's Day 2013 di Dublin, Irlandia. Meskipun tempat tampil mereka berbeda (d'Masiv tampil di The Ivy House pub) tapi setidaknya mereka adalah line-up band yang mewarnai Guinness Arthur's Day tahun ini. Hiks. I do really want to see MSP's performance live. One of the things I have to do before I die.

[caption id="attachment_175139696" align="aligncenter" width="545"]Three men I'd love to see: James Dean Bradfield, Nicky Wire, and Sean Moore. Three men I'd love to see: James Dean Bradfield, Nicky Wire, and Sean Moore[/caption] Photo courtesy of IMAGE.NET

Saya ditugaskan untuk meliput event Djakarta Warehouse Project (DWP) 2012 yang berlangsung pada 7 Desember lalu. Excited? Definitely not! You know what, I feel that those are not my things, and I’m too old for this shit. Dari sekian banyak DJ yang perform, saya cuma tahu Avicii (karena sebelumnya pernah liputan), dan Calvin Harris (yang saya cuma tahu nama saja).

Suatu hari pemred saya bertanya kepada saya, “lo mau interview siapa? Avicii atau Calvin Harris?” Saya pun menjawab, “Both are the same for me,” basically because I have noooo idea what to ask. Sampai akhirnya saya dapat kabar dari orang marketing, kalau jatah interview saya adalah dengan Markus Schulz. And my response, ” WTH is he?!!”

Saya pun langsung google, cari informasi dan berita tentang dia. He’s a world-known trance German DJ, lives in US. September lalu, Markus baru saja dianugerahi sebagai America’s Number 1 DJ by DJ Times. Walaupun sudah banyak baca tentang dia, saya tetap blank. Akhirnya saya memilih untuk tidak bertanya musiknya secara spesifik, namun lebih ke his way of life as a DJ, family, and his performance here in Jakarta. 

Kondisi ini sebenarnya bikin saya agak nervous ya.. Tapi, yasudah lah ya..

Jadwal interview saya dengan Markus adalah pukul 00:00-00-15 WIB. Harusnya saya interview dia bersama beberapa media lain, tapi akhirnya saya justru dapat interview ekslusif karena media yang stand by waktu itu cuma saya. Senang, sekaligus agak panik karena ketakutan dia akan membahas tentang musiknya. But hey, there’s nothing to lose. Akhirnya saya dibawa oleh seorang panitia ke backstage, tempat dia menunggu, dan saya langsung dikenalkan dengan LO-nya.

Ketika melihat saya, LO-nya bilang, “Cuma lo sendirian?” “Yep, only me.” Sambil jalan ke ruangan Markus, dia bilang lagi, “Interview-nya yang lama aja. Oh, and he’s kinda moody.” Whoaa!! Saya sudah biasa dengan perempuan yang moody, tapi tidak dengan seorang pria (tulen).

Sampailah saya ke ruangan Markus. Ketika saya masuk, dia sedang duduk di pojok ruangan memangku macbook-nya, ditemani seseorang entah asisten atau mungkin justru salah satu performer DWP. LO menyuruh saya untuk duduk dan menunggu Markus selesai. Setelah kira-kira setengah menit menunggu, akhirnya saya dipersilakan untuk wawancara. LO pun mengambilkan saya bangku dan menaruhnya tepat di hadapan Markus. This is it!

Saya langsung menghampiri dan bersalaman. “Nice to meet you,” I said. Dan dia sambil tersenyum menjawab, “Hi, nice to meet you too.” Tanpa buang-buang waktu, saya langsung duduk dan memulai interview. Ketika saya memencet tombol recording di tape recorder saya, 2 detik kemudian tape tersebut mati. Saya coba pencet lagi, tapi sama saja. Karena saya pikir saya salah memasukkan kaset, akhirnya saya buka tape recorder tersebut. Tapi ternyata tidak ada yang salah, kaset benar di posisi side A.

Melihat saya repot, akhirnya Markus mengambil tape recorder dari tangan saya. Saya langsung bilang, “I’m sorry, I not this is kinda oldfashioned..” “Yeah, this is oldfashioned, but used this to record my track a very long time ago. Oh, I miss those days.. Look, the cassette is broken,” sambil memperlihatkan pita kaset yang kusut. Damn!

Saya pun secepat kilat mengambil ponsel saya di tas. Panik semakin menjadi-jadi karena saya tidak tahu ada dimana tombol perekam suara. Dan ternyata Tuhan masih sayang saya, hanya hitungan 3 detik saya langsung menemukan tombol perekam suara, dan wawancara akhirnya bisa dilakukan. Pffiuhhhh!

Apa yang saya khawatirkan tidak terjadi, dan Markus pun sedang dalam mood yang OK. Dari 10 pertanyaan, kami banyak membahas tentang karier, anak laki-lakinya, dan juga passion dan ambisinya. Dia pun mengaku fans setia Pink Floyd!

Lima belas menit waktu interview akhirnya berakhir. Dan saya harus bilang kalau Markus itu orang yang menyenangkan, dan saya bisa merasakan bahwa dia adalah sosok ayah yang hebat. Sayang, saya tidak sempat melihat langsung pertunjukan Markus karena terjebak hujan deras yang membuat saya basah kuyup, dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

Thank you Markus, it’s a pleasure to meet you! #RR

For-blog

It’s me and Markus!

For-blog2

Look how deep Markus’s staring at me! x)) Btw, he has a beautiful (baby) blue ocean color!

-710647905

Setiap ada acara berskala besar, khususnya konser, PR besarnya adalah bagaimana menangani sampah-sampah yang menumpuk hasil buangan ribuan orang yang tidak peduli untuk membuang sampah pada tempatnya, atau karena (sangat) kurangnya ketersediaan tong sampah di sekitar area.

Misalnya saja seperti yang terlihat di foto, yang merupakan satu dari ratusan tumpukan sampah di acara konser SMTown lalu. Tumpukan sampah tersebut langsung menyapa para penonton yang baru akan masuk lewat gerbang masuk. Barisan penonton yang masuk harus melewati dua rintangan; yaitu masuk berdesak-desakan, sekaligus harus rela berjalan dengan kaki yang setengah terbenam kumpulan sampah. Ew!

Jadi bertanya-tanya, apakah yang seperti ini memang cuma ada di Indonesia saja ya? #RR

Hari ini di petang hari, saya menghadiri press conference dengan salah satu musisi jazz ternama punya Indonesia, Idang Rasjidi, dalam acara Jazz Goes To Campus (JGTC). Di press conference yang aneh dan dihadiri oleh sedikit media yang kebanyakan pasif ini, tidak banyak yang mengajukan pertanyaan terhadap beliau. Sayang, seharusnya para media yang hadir memanfaatkan dengan maksimal waktu preskon singkat ini untuk bertanya kepada maestro yang sudah berkarir selama 41 tahun ini.

Anyway, karena saya bukan pecinta jazz, pertanyaan yang saya ajukan ke beliau tentunya tidak sok tahu yang membahas tentang musiknya. Yang saya tanyakan adalah: selama karirnya bermusik, audience macam apa yang paling beliau suka, dan juga perbandingan audience antara di Indonesia dan di luar negeri.

Jawaban beliau begini, langsung saya kutip yah..

Mau penontonnya 10 atau 100 orang, intinya tetap sama. Yang penting adalah kenyamanan bermain, dan tepuk tangan bagi saya bukan segalanya. Setiap audience menurut saya punya tantangan tersendiri. Mungkin jarang ya musisi yang pernah mengusir 1.200 orang penonton karena mereka melah mengobrol ketika kami sedang tampil—tapi saya pernah melakukannya. Lebih baik performance saya ditonton oleh 15 orang namun mereka mengerti musik daripada ribuan orang tapi mereka tidak mengerti sama sekali. Karena saya sudah banyak keliling dunia, saya bisa bilang kalau penonton luar negeri juga banyak yang kampungan kok. Namun, penonton luar negeri itu lebih fair. Kalau tidak suka ya mereka keluar. Sayang sekali keterusterangan macam ini di Indonesia belum ada. Masyarakatnya belum jujur. 

Beliau juga bilang bahwa orang Indonesia terlalu ‘musisi luar negeri’. Katanya…

Yah, kebanyakan orang Indonesia masih mental jongos. Musisi-musisi bule di sini sangat dipuja-puji sekali. Semua fasilitasnya bintang lima. Segala barang-barang juga dibawain. Padahal yang saya temui di beberapa festival di luar (negeri), selama barang-barang mereka bisa bawa sendiri ya mereka akan membawanya sendiri. Dan banyak hal-hal lain juga mereka urus sendiri. Orang Indonesia hebat dalam hal ramah tamah. Menghargai mereka sih boleh, tapi tidak usah terlalu terkesima..

Dari ungkapan beliau ini, saya jadi ingat beberapa waktu lalu, saya pernah mengurus acara Berlin Fashion Week dalam rangka Jakarta Fashion Week  (lagi-lagi JFW). Yah, sebagai panitia, pastinya saya berusaha membantu apa yang saya bisa. Namun mereka ternyata lebih banyak menolak karena mereka bisa melakukannya sendiri. Ini entah mereka memang bisa mengerjakan semua sendiri atau karena mereka tidak percaya ya… 😀

Kembali ke Idang Rasjidi, berikut beberapa kutipan singkat beliau:

Saya ini pianis. Tapi karena membawa piano itu berat, jadi keyboardis deh..

Saya suka dengan kesederhanaan yang mengalir begitu saja….

Nama saya memang besar, tapi aslinya saya tetap anak kampung.

Meskipun saya kurang ‘menyatu’ dengan musik jazz, tapi saya suka sekali dengan personality Idang Rasjidi. He’s so humble, and he must be loved by people around him! 🙂 #RR

And last but not least…

ir

What an honour to meet you, Sir!