Archive

Monthly Archives: February 2015

Setelah membeli tiket pesawat secara impulsif sejak bulan Juni 2014, akhirnya saya dan teman saya, Nadya, akan berangkat traveling ke Thailand dalam beberapa hari lagi, selama 9 hari. Kami berdua memang nggak pernah berhasil mendapatkan tiket super murah seperti beberapa teman yang pernah mendapatkan Rp 700 ribuan Jakarta – Bangkok – Jakarta, atau nominal lain yang bikin kita sumpah serapah, “Holycow! That is so cheap! Bitch, how did you get it?!”.

Awalnya, lagi browsing di kantor (ehm, sambil kerja juga) secara tak sengaja saya menemukan tiket promo AirAsia ke Phuket seharga Rp600 ribu. Iseng-iseng ajak Nadya yang mejanya ada di depan saya, dia bilang, “Oke!” dan kami pun langsung booking untuk keberangkatan 25 Februari 2015, tanpa tiket pulang karena saat itu mayoritas semua penerbangan ke Jakarta masih di atas Rp 1,5 juta.

Akhirnya setelah menunggu kurang lebih selama 1,5 bulan (baca: nunggu promo lagi), kami baru mendapatkan tiket pulang seharga Rp 900 ribuan dari Bangkok ke Jakarta tanggal 5 Maret. Tanpa pikir panjang -mengingat kami tak memiliki kesabaran, kegigihan dan keberuntungan untuk mendapatkan tiket yang lebih murah lagi- akhirnya kami memutuskan untuk membelinya segera. Untungnya, tanggal segitu bukan musim terbasah Thailand, dan untungnya lagi, kata orang-orang tanggal segitu juga bukan tanggal peak season. Hopefully. So yes, we’re ready to fly!

Langkah selanjutnya adalah mencari penginapan. Susah-susah gampang, nih. Kalau tiket pesawat kan hanya membandingkan harga, tapi kalau penginapan cukup banyak yang harus dipertimbangkan. Mengingat kami akan menghabiskan sembilan hari, kami memutuskan untuk menginap di hostel, tak tanggung-tanggung, dengan kamar dormitory. Setelah browsing secara berkelanjutan, membanding-bandingkan harga, melihat foto-foto hostel dan review dari ratusan orang, akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada:

1. Dfeel Hostel, Phuket
2. VX The Fifty, Bangkok

Total kami menginap adalah 8 hari 7 malam. Dua malam di Phuket (25 – 27 Februari), lalu kami menempuh jalur darat via bus ke Bangkok selama 12 jam, dan menginap di Bangkok selama 5 malam (28 Feb – 6 Maret). Untuk akomodasi tersebut, total uang yang kami keluarkan masing-masing adalah Rp 722 ribuan, which means sehari Rp 100 ribuan. Untuk backpacker garis keras, angka tersebut pasti dirasa “kemahalan”. But we’re not a backpacker, though we’re trying to mix backpacking with flashpacking. Kami memang tidak berniat untuk traveling secara mewah, tapi juga tidak mau segalanya terlalu strict on budget (meski memang ada perbincangan tentang berapa budget yang harus kita siapkan).

Tips untuk booking penginapan adalah booking dari jauh-jauh hari (karena kemungkinan besar tarifnya lebih murah). Makin jauh, makin baik, asalkan kalian memang sudah menggali informasi lokasi penginapan, mulai dari kebersihan, para staff, mudah atau tidaknya akses menuju ke sana, di tengah kota atau tidak, review para tamu, or even your gut feeling, dan lain-lain. Untuk pencarian penginapan, kami membandingkan di beberapa situs seperti HostelWorld.com, HotelBookers.com, dan Agoda.com. Buat saya pribadi, di antara ketiga situs tersebut, saya lebih nyaman dengan Agoda.com plus saat itu di antara ketiganya Agoda.com lah yang menawarkan tarif termurah (di penginapan yang sama). Oh, ya, Agoda.com juga menawarkan opsi “Pay Later” yang mungkin bisa Anda manfaatkan.

Sedikit cerita tentang hostel yang kami pilih
Kedua hostel yang kami pilih, baik di Phuket maupun di Bangkok, tidak terletak di pusat kumpulnya para turis (khususnya backpackers pada umumnya). Kenapa? Karena kami tak mau tinggal di tempat yang ‘berisik’ dan juga menghindari bule-bule yang doyan party dan mabuk-mabukan. Sesedarhana itu, sih. Kami juga tak masalah harus menempuh perjalanan sedikit lebih jauh ke pusat kota, toh, kami memang tak terlalu terburu-buru.

Batal ke Chiang Mai
Setelah tiket pesawat pulang pergi di tangan, seperti orang-orang pada umumnya, kami berdua cukup ambisius dalam merencanakan tempat-tempat tujuan. Rencana fenomenal kami waktu itu adalah, Phuket – Bangkok – Chiang Mai – kembali lagi ke Bangkok, dalam waktu 9 hari. Setelah browsing sana-sini, rasanya rencana tersebut akan membuat kami seperti terbirit-birit. Karena satu dan lain hal, akhirnya kami menghapuskan Chiang Mai yang berada jauh di utara, dari list perjalanan. Singkatnya, sayang sekali kalau Chiang Mai hanya dinikmati selama 1-2 hari. Toh suatu hari nanti kami masih bisa kembali lagi ke sana 🙂

Kebetulan saya bergabung dengan sebuah group facebook para traveler yang akan, sedang, dan pernah ke Asia Tenggara (yang isinya mayoritas adalah backpacker, tapi bukan yang ekstrem). Ketika saya post ke group tersebut tentang rencana stay di Bangkok selama 5 hari, ada seorang traveler yang bilang bahwa 5 hari adalah waktu yang sangat lama untuk dihabiskan di Bangkok. Saya dan mayoritas traveler lain pun langsung membantah karena kenyataannya Bangkok (dan area sekitarnya) sangat menarik untuk dieksplorasi selama 5 hari. Oh, kalau kalian tertarik untuk gabung di grup tersebut, ini grup-nya: “South East Asia 2014-15-16 & Beyond

Hanya sekadar mengingatkan, grup ini sebetulnya sangat membantu sekali menyusun itinerary kegiatan selama di Thailand plus banyak sekali cerita dan tip tentang traveling ke Thailand. TAPI, kebanyakan para traveler ini bermulut ‘pedas’, khususnya menanggapi pertanyaan-pertanyaan ‘pemalas’. Pemalas yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang gemar menanyakan pertanyaan yang sebetulnya jawabannya bisa dengan mudah Anda dapatkan melalui Google. Misalnya: “Hey guys, any recommendations about a nice place to stay in Bangkok?” Kemungkinan Anda akan mendapatkan beberapa jawaban seperti ini:
– Direct link tentang beberapa situs booking hostel seperti Agoda, HostelWorld dan HostelBookers.
– “Just sleep somewhere on the street of Khao San Road.” (yep, ini pernah terjadi).
– Anda akan ditanya lebih detail tentang hostel seperti apa yang inginkan? Budget-nya berapa? Jenis kamar seperti apa yang diinginkan? Dan lain-lain.
– Tidak ada yang menjawab sama sekali.

Inget banget waktu itu saya sampai mikir ratusan kali apakah pertanyaan yang saya ajukan waktu itu adalah pertanyaan bodoh atau bukan. Untungnya bukan. Pffiuh. But in general, they are bunch of nice, friendly and helpful people.

Sempatkan web check-in
Kalau sudah membeli tiket pulang pergi, sebaiknya jangan lupa untuk web check-in yang bisa Anda lakukan selama 14 hari menjelang tanggal keberangkatan. Memang nggak terlalu krusial, tapi at least Anda akan menghemat waktu untuk tak lagi antri check-in di bandara. Prosesnya hanya makan waktu nggak lebih dari 5 menit, kok. And voila! Boarding pass bisa segera Anda print.

So, that’s it persiapan kami berlibur ke Thailand. Sama sekali nggak ribet, toh masih Asia Tenggara dan bebas visa pula. Tunggu update cerita kami berikutnya! 🙂

Oh, hello! This is me and Nadya.

Advertisements

Last December, one my good friends told me that one of his dreams came true; opening a coffee shop. He’s Fauzan Ambadar (Twitter: @FauzanAmbadar, Instagram: @inthenameofauzan), whom I met in university. We attended some classes together until finally we had chosen a different major. I chose Journalistic, and he chose Advertising.

After we graduated, he went study abroad to Sydney, Australia, and somehow we managed to remain in touch. Oh, and he’s the one who forced me to make a Skype account.

While he was studying in Sydney, he worked a part time job as a barista and it didn’t take a long time to realize that he fell in love with the job, specifically anything related to making good coffee. Well, we’ve lost contact for a year or two until he returned to Indonesia. One day we met in the evening and tried to catch up. He told me dozens of stories, from his study, his future wife, reminiscing the old times, and his dream in the coffee industry.

Until the last November or December, he texted me, after five years of experience in the coffee industry, told me that he finally opened a small coffee shop in Kemang Selatan area, Goni Coffee. He invited me to come over (actually, he threatened me to come over).

Until a few days ago, with a friend of mine Tania, we visited his tiny cozy place. And yes, I fell in love at the first sight! For me personally, Goni Coffee is everything you’d want in a neighborhood coffee shop; seats and outlets, WiFi, good and vary specialty coffee selections, friendly staff, relaxed atmosphere, not too crowded, and tasty food. The interior concept itself is minimalist with a little touch of industrial – and everything is in the right place.

But most of all, I am so proud of him that he’s living his dream and seems very happy. He’s happily married and blessed with baby boy Mizzi the first born.

If you happen to be somewhere in the area, take your me-time to visit this lovely place just to sit around enjoying good coffee (from espresso, piccolo, long black, cappuccino, latte, flat white, you name it, plus non caffeinated beverages like green tea latte, tea pot, choco hazelnut, banana smoothie, etc) and good snacks like banana bread and yummy waffles.

FYI, Fauzan is ranked the 5th place Indonesia Barista Championship 2014, so you know your coffee is made by one of the best 😉

So glad after a very long time I can sip a nice cup of picollo again!

The yummy homemade Banana Waffle.

Habitually, he’s a friendly guy. But not to me! xD

Processed with VSCOcam with c1 preset

I was having a hard time interviewing my own friend. And I must say, the interview failed! (Photo: Tania Pranata)

Big congrats to you, buddy! (Photo: Tania Pranata)

Looks can be deceiving! But he’s ready anytime to brew you worthy coffees. All you need is just to say, “Hi.”

Goni Coffee
Jln. Kemang Selatan 1 No. 20, Jakarta Selatan
Phone: 087721192210
Opening hours: 7 AM – 5 PM daily
Instagram: @gonicoffee