Archive

Monthly Archives: January 2015

Waktu masih kerja kantoran, hal yang saya lakukan di pagi hari setelah menyalakan komputer adalah membuat secangkir kopi. Hukumnya secara sugesti adalah wajib, di mana diri ini baru akan mau bekerja setelah menenggak kopi. Setelah tak lagi bekerja kantoran, kebiasaan ini tetap berlanjut. Tak lama setelah bangun dan melakukan rutinitas biologis pagi, saya pun langsung membuat secangkir kopi panas sebagai sebuah penanda bahwa saya siap untuk melakukan aktivitas (entah bekerja ataupun bermalas-malasan).

Pagi ini, segelas kopi hangat membuat pikiran saya melompat ke hampir 20 tahun yang lalu, saat saya menenggak kopi pertama saya. Saya masih ingat bahwa kala itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sudah menjadi tradisi kala itu ketika masuk ke musim ujian (waktu itu masih berlaku sistem caturwulan), Ibu saya selalu menjadi ‘guru dadakan’ setiap harinya. Setiap sore hingga malam, Ibu saya menggeser perannya dari seorang Ibu menjadi seorang guru. Dan buat saya, ini adalah masa-masa yang sungguh menakutkan, terlebih lagi jika pelajaran yang dibahas adalah… matematika. Karena matematika, Ibu saya berubah menjadi sosok yang paling mengerikan karena pada dasarnya dia memiliki tingkat kesabaran yang teramat tipis! Saya stres, begitu pula beliau yang merasa stres mengajarkan saya.

Ya, stres. Saya pikir inilah momen pertama dalam hidup saya merasa sangat stres. Ketika ‘mengajar’, Ibu saya selalu membuat kopi untuk dirinya. Kopi yang saya maksud di sini bukanlah secangkir kopi dalam gelas seperti pada umumnya. Ibu saya memiliki cara unik dalam mengonsumsi kopi yang sudah dilakukannya jauh sebelum dia menikah. Yang dia lakukan adalah mengambil piring kecil, menumpahkan bubuk kopi, mencampurkannya dengan gula pasir, dan mengaduknya -tanpa air. Ya, tanpa air. Sesendok demi sesendok dia menikmati kopi setengah jadi itu. Sekali lagi, tanpa air. Jangan tanya bagaimana rasanya bagi saya yang waktu itu masih berusia sekitar 9-10 tahun.

Dari situ saya bertanya kepada Ibu saya apakah saya juga boleh minum kopi setiap proses belajar-mengajar dadakan ini berlangsung. Beliau membolehkan. Karena waktu itu yang tersedia di rumah adalah kopi hitam, Ibu saya mencampurkannya dengan susu putih, bukan krimer. Rasanya? Saya suka. Karena usia saya yang masih muda, Ibu saya hanya membolehkan saya minum kopi hanya di saat-saat tertentu.

Jika kalian masih ingat, dulu ada produk Nescafe Ice, yang waktu itu adalah produk es kopi pertama yang dijual di dalam gelas khusus. Gimmick-nya adalah mengocok kopi yang telah ditambahkan es batu. Oh, it was so fun! Dan saya ingat mulai saat itulah saya keranjingan kopi. Menyadari itu, Ibu pun mulai menambahkan stock kopi lengkap dengan creamer-nya, meski penikmat kopi di rumah hanya kami berdua.

Apa cerita di balik kopi pertamamu? 🙂

Advertisements