Archive

Monthly Archives: January 2014

Kalau banyak orang menulis tentang hal-hal terbaik yang diperoleh tahun 2013, saya justru mau menulis sebaliknya.

Tahun 2013 adalah tahun di mana saya merasakan kehilangan terbesar: Suki, anak kucing betina saya yang baru berumur 2 bulan lebih, mati karena sakit. Buat saya, memelihara kucing bisa dibilang sebagai bentuk simbolik merawat anak (karena saya belum dikaruniai anak). Apalagi diambil dari induknya dalam usia yang begitu muda, Suki hanya punya kami untuk merawatnya. Melihat dia berlari-larian, makan, tidur, ngusel, bahkan ketika sedang pipis/pup selalu menyenangkan. Seperti proses healing dari aktivitas sehari-hari yang cukup membuat stres.

Kami mulai khawatir ketika Suki susah makan. Makanan yang disiapkan tidak disentuhnya sama sekali, hanya dijilat-jilat tapi tidak dimakan. Kami pun akhirnya memeriksakan dia ke dokter hewan di mana dia diberikan makanan kaleng berbentuk pasta. Alhamdulillah, dia kembali lahap. Ketika makanan tersebut habis dan kondisinya mulai baik, dia lagi-lagi tidak mau menyentuh makanan keringnya. Berat badannya pun menyusut. Sampai akhirnya dia dibawa ke pet shop untuk dimandikan, dan menginap di rumah teman adik saya. Adik saya rajin mengirimkan foto-foto Suki, dan saya pun tak sabar menyambutnya di rumah. Tapi sayang, keesokan harinya, dia sakit. Karena lokasi rumah temannya dekat dengan dokter hewan, Suki kembali diinapkan di sana. Suki demam, katanya hingga 44 derajat. Badannya pun menggigil hebat. Yang paling sedih adalah saya tidak bisa merawatnya langsung. Adik saya bilang nggak tega untuk membawa dia pulang karena waktu itu badannya menggigil hebat, yang mengakibatnya Suki ringkih untuk dibawa. Dokter yang memeriksa bilang kemungkinan terburuknya adalah serangan virus. Dan dokternya pun bilang sudah ada beberapa kucing yang mati karena itu, dan bilang bahwa jika memang virus maka usianya nggak akan lebih dari dua hari.

Keesokan harinya adik saya mengabarkan bahwa kondisi Suki mulai membaik. Demamnya sudah turun tapi tetap tidak mau makan sehingga harus dipaksa untuk disuapi. Paling tidak ada nutrisi yang masuk. Kata adik saya, masih ada harapan karena paling tidak Suki tidak mencret. Saya pun bernapas lega.

Besok harinya di hari Senin (23/12), ketika di jalan menuju kantor, adik saya mengabarkan bahwa Suki tidak mampu bertahan. Ya, Suki menghembuskan napasnya yang terakhir setelah muntah-muntah. Di jalan pun tangisan saya meledak. Saya sedih karena saya tidak punya kesempatan untuk merawat. Bahkan saya tidak ada di sana ketika Suki dibawa pulang dan dikuburkan di halaman belakang rumah saya.

Saya sedih karena Suki masih kecil, dan saya merasa gagal dan merasa bersalah. Bersalah karena sudah membawa Suki jauh dari induknya, dan sedih karena saya tidak bisa berbuat apa-apa. Well, that’s life. Semoga Suki tenang di alamnya sekarang.

Image

Suki hari pertama di rumah

Image

Image

Image

Image

Image

Image

RIP Suki

Satu lagi  seorang teman yang resign setelah hampir 2 tahun lamanya. Thank you, Rika (keempat dari kiri), for being a great secretary for us, and managed our mess. See  you when I see you!

(Ada yang akan nanya: “Kapan nyusul?” xD)

Image