Archive

Monthly Archives: February 2013

Beruntung. Apakah saya orang yang beruntung? In a way, maybe. Saya bukan orang yang beruntung mendapatkan doorprize dalam berbagai undian, atau yang seperti itu. Beruntung berarti bernasib baik, mujur. Beberapa waktu yang lalu, saya baru menyadari bahwa saya mungkin termasuk orang-orang yang beruntung.

Beberapa waktu yang lalu, saya beruntung bisa lolos dari pencopetan di sebuah angkutan umum. Komplotan pencopet waktu itu mencoba mencuri handphone saya yang ada di dalam tas yang tidak memiliki resleting. Ada tiga orang. Orang pertama duduk di sebelah saya, orang kedua duduk di depan saya, dan orang ketiga duduk di dekat pintu. Orang pertama tiba-tiba batuk-batuk, dan mendorong punggung saya ke depan supaya dia bisa muntah/buang reak ke luar jendela yang ada di belakang saya. Tentu saja secara spontan saya mencondongkan tubuh saya ke dapan. Ternyata orang kedua yang ada di depan saya merogoh-rogoh tas saya dan berhasil mengambil kantong tas kecil yang berisi handphone saya. Ketika dia melakukan aksinya, saya seolah merasa ada gerakan di perut saya dan refleks langsung mengecek ke dalam tas. My phone bag wasn’t there. It was so quick. Saya pun langsung berteriak, “Handphone saya!” Orang kedua yang diam-diam sedang memberikan tas handphone saya ke orang ketiga kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan tas tersebut. Saya pun langsung mengambilnya, a little shock. I’m happy and sad at the same time. Senang karena handphone saya masih menjadi milik saya, dan sedih karena orang-orang yang ada di angkutan umum tersebut tahu bahwa ada pencopet dan tidak melakukan apa-apa. I was so upset. Tapi beberapa tahun kemudian, sedikitnya saya mengerti mengapa mereka bersikap seperti itu.

Suatu ketika, di perjalanan saya menuju kantor, saya naik kopaja. Saya duduk di deretan bangku paling belakang, di antara dua orang pria. Keadaan kopaja waktu itu lumayan penuh, ada beberapa penumpang yang berdiri. Di depan saya, seorang pria berdiri di tangga bus dekat pintu, dan seorang lagi juga berdiri tak jauh di sampingnya, di depan saya sebelah kanan. Ketika ada seorang wanita bertas bahu hendak turun, dia berdiri di depan saya menunggu bus berhenti untuk turun. Lalu tiba-tiba saya melihat pria yang berdiri di kanan saya merogoh tas wanita tersebut dan pria yang ada di dekat pintu bergerak seolah-olah menghalangi wanita tersebut turun, sehingga memberi waktu untuk pria satunya untuk mengambil barang berharga wanita tersebut. I was shocked and frightened. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Ingin teriak tapi tak bisa. Refleks langsung mencengkeram tas saya. Ya, saat itu duduk di antara para pencopet. Bahkan pria yang duduk di sebelah saya pun menjadi bagian dari aksi tersebut. Kopaja melewati kantor saya, saya masih tak berani turun. Ketakutan saya adalah mereka akan menodongkan senjata kepada saya. Saya pasrah, dan masih tak berani bergerak. Sampai akhirnya ada penumpang yang akan turun, buru-buru saya mengikutinya. Setelah turun, saya memeriksa tas apakah ada yang hilang, ternyata tidak. Saya pun bersyukur dan langsung menyesal karena tidak berteriak atau

Dulu pun saya juga pernah lolos dari pencopetan yang seperti ini. Ketika berdiri saya hendak mau turun dari kopaja di area sekitar Sabang, seorang pria yang berdiri di dekat saya tiba-tiba menangkupkan tangannya ke kaki saya, seolah menangkap sesuatu. Saya dengar ada yang berteriak, “Awas ada binatang mbak.” Saya pun refleks mendekap tas saya dan buru-buru turn tanpa menghiraukan bapak yang sedang memegang kaki saya. Tak ada yang hilang, dan beruntung saya tidak jatuh ketika turun dari bus dengan kondisi seperti itu.

Keberuntungan seperti ini memang tidak selalu berada di pihak saya, karena satu waktu saya juga pernah menjadi korban pencopetan, sekitar dua tahun yang lalu. Motif pencopetannya masih sama, dan waktu itu saya memang sedang sembrono. Ketika di bus, saya sempat mengeluarkan handphone saya dan tidak menaruhnya di tas lagi, namun di kantong kertas yang saya bawa. Yap, kantong kertas yang tidak terlindungi. Saat mau turun. Pria yang berdiri di sebelah kanan saya di dekat pintu berkata, “Awas hati-hati ada motor.” Di saat yang bersamaan saya merasakan ada yang memegang tangan saya dari sebelah kiri. Ketika saya turun, saya sudah sadar sepenuhnya kalau saya menjadi korban. Handphone yang saya letakkan di kantong kertas sudah raib. Untungnya, dompet yang saya letakkan di sana pun tidak terambil. Saat itu menyesal karena membiarkan diri saya menjadi target empuk mereka dengan kesembronoan saya. Well, it’s not my lucky day for sure.

Sampai akhirnya kemarin, saya lagi-lagi hampir kehilangan handphone saya di Epicentrum Walk, Kuningan. Malam hari sepulang kerja, saya dan empat orang teman saya nonton film Mama di XXI Epicentrum. Ketika turun dari mobil di lobby, saya merasakan seperti ada yang jatuh mengenai paha saya, namun kalaupun itu memang handphone yang jatuh, saya tidak dengar ada suara benda berat yang jatuh. Lagipula, waktu itu saya menenteng jaket. Jadi saya pikir itu adalah bagian lengan jaket yang mengenai paha saya. Ketika berjalan setelah turun mobil menuju restoran tempat saya janjian dengan beberapa teman-teman. Dari situ saya mulai cemas karena saya tidak menemukan salah satu handphone saya. Dan ketika sampai di restoran, saya langsung membongkar tas dan positif handphone saya tidak ada. Saya langsung menelpon nomor handphone saya yang tidak ada, dan tidak ada bunyi atau getaran apapun. Saya pun menelpon supir saya untuk minta tolong mencarikan handphone saya. Saya matikan teleponnya, dan menelpon lagi nomor handphone saya yang tidak ada. Tersambung, namun tidak diangkat. Saya kembali menelpon supir saya. Dia bilang dia tidak mendengar suara dan tidak menemukan handphone saya tersebut. Dan ketika saya menelpon nomor itu lagi, sudah tidak aktif. Saya pun langsung lemas.

Lemas karena handphone saya hilang, dan lemas karena cicilan handpone itu baru saja lunas! Miris ya.. Saya kembali menelpon supir saya dan bilang bahwa dia tidak usah mencari handphone saya lagi karena waktu itu saya yakin handphone saya officially hilang. Teman-teman saya mulai menanyakan kronologis dan khawatir. Yah, bagaimanapun juga, saya berusaha untuk tetap mencarinya. Saya kembali lagi ke lobby, bertanya kepada salah satu petugas yang ada di lobby. Dia bilang tidak tahu kalau ada handphone yang jatuh. Saya juga bertanya kepada petugas pemeriksa tas, mereka juga bilang hal yang sama. Saya pun kembali lagi ke restoran dengan tangan hampa. Duduk sebentar, saya lalu beranjak lagi ke lobby. Kali ini saya bertanya kepada petugas vallet parking. Dia lalu mengajak saya ke meja vallet, bertemu dengan rekannya yang berjaga di sana. Saat saya menanyakan perihal handphone saya yang kemungkinan jatuh di sana, tangan petugas tersebut sedang berada di bawah dalam laci. Lalu tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah handphone hitam—milik saya!—namun dengan kondisi sim card dan memory card yang sudah dikeluarkan. Spontan saya bertanya, “Kenapa sim card-nya ada di luar?” Dia tampak salah tingkah dan menjawab hal yang kedengarannya kurang jelas. Dari situ saya langsung mengambilnya, mengucapkan terima kasih, dan bersyukur bahwa handphone itu masih rezeki saya. Yah, walaupun saya sempat berpikiran buruk kepada petugas tersebut, namun saya masih menghargai dan bersyukur dia masih mau mengembalikannya.

Beberapa minggu sebelumnya, hal serupa terjadi. Bukan handphone, melainkan dompet. Waktu itu lembur di kantor, dan memesan taksi Blue Bird untuk pulang. Ketika dikabari oleh satpam kantor bahwa taksi pesanan saya sudah datang, saya buru-buru ke bawah. Saya menghampiri taksi pesanan saya dan bilang untuk menunggu sebentar karena ingin membeli sesuatu di warung seberang kantor. Dari situ, bukannya langsung memasukkan dompet ke dalam tas, saya justru menentengnya. Akhirnya saya masuk ke dalam taksi, dan mengatakan tempat tujuan. Namun ternyata taksi yang saya naiki tersebut bukan taksi pesanan saya! Ya, saya salah masuk taksi. Taksi pesanan saya parkir tepat di sebelahnya. Setelah minta maaf, saya buru-buru turun dan masuk ke taksi saya.Di perjalanan, teman saya menelpon dari kantor dan mengatakan bahwa dompet saya tertinggal. “Bagaimana bisa?” Pikir saya waktu itu. Saya lantas mengecek ke dalam tas, dan memang tidak menemukan dompet saya. Saya pun bertanya bagaimana dompet saya bisa ada pada teman saya. Ternyata, saat saya salah masuk taksi, dompet saya tertinggal di jok belakang. Penumpangnya ketika masuk menyadari bahwa ada dompet tergeletak langsung menanyakan dompet tersebut ke supir. Supir itu sadar bahwa saya tadi sempat salah masuk dan mengembalikannya ke satpam. Satpam menelpon ke lantai tempat saya bekerja dan menanyakan tentang identitas saya. Pfiuuuhhh! Lagi-lagi saya beruntung karena dompet tersebut, yang berisi uang tunai, kartu ATM, dan SIM saya tidak hilang.

Ternyata, butuh banyak ‘pelajaran’ untuk saya akhirnya sadar bahwa saya harus lebih menghargai dan mejaga barang-barang saya sendiri. Siapa tahu, lain kali saya tidak akan seberuntung itu.. #RR

Advertisements