Archive

Monthly Archives: December 2012

-1383692601

Baru tahu kalau di mal Kota Kasablanka menyediakan parkir khusus untuk Piaggio dan Vespa. Memang tidak luas, but still it’s soooo cool! Dan sebagai bonus, tempat parkir khusus ini dekat dengan pintu keluar.. Satu lagi tambahan untuk beralih ke skuter! #RR

Advertisements
With_petra_nemcova

Dari kiri ke kanan: Nadya, me, Jane, Petra, Zornia, Monik

Beberapa bulan yang lalu sempat bertemu muka dengan model, tv host, philanthropist, dan juga survivor bencana tsunami tahun 2004 Petra Nemcova. Sekarang dia dengan aktif menggerakkan Happy Hearts Fund, dan berusaha membahagiakan anak-anak. Lihat, betapa tingginya Petra! Ya, dia curang. Dengan tingginya yang sudah menjulang, dia tetap memakan high heels. #RR

Saya ditugaskan untuk meliput event Djakarta Warehouse Project (DWP) 2012 yang berlangsung pada 7 Desember lalu. Excited? Definitely not! You know what, I feel that those are not my things, and I’m too old for this shit. Dari sekian banyak DJ yang perform, saya cuma tahu Avicii (karena sebelumnya pernah liputan), dan Calvin Harris (yang saya cuma tahu nama saja).

Suatu hari pemred saya bertanya kepada saya, “lo mau interview siapa? Avicii atau Calvin Harris?” Saya pun menjawab, “Both are the same for me,” basically because I have noooo idea what to ask. Sampai akhirnya saya dapat kabar dari orang marketing, kalau jatah interview saya adalah dengan Markus Schulz. And my response, ” WTH is he?!!”

Saya pun langsung google, cari informasi dan berita tentang dia. He’s a world-known trance German DJ, lives in US. September lalu, Markus baru saja dianugerahi sebagai¬†America’s Number 1 DJ by DJ Times. Walaupun sudah banyak baca tentang dia, saya tetap blank. Akhirnya saya memilih untuk tidak bertanya musiknya secara spesifik, namun lebih ke his way of life as a DJ, family, and his performance here in Jakarta.¬†

Kondisi ini sebenarnya bikin saya agak nervous ya.. Tapi, yasudah lah ya..

Jadwal interview saya dengan Markus adalah pukul 00:00-00-15 WIB. Harusnya saya interview dia bersama beberapa media lain, tapi akhirnya saya justru dapat interview ekslusif karena media yang stand by waktu itu cuma saya. Senang, sekaligus agak panik karena ketakutan dia akan membahas tentang musiknya. But hey, there’s nothing to lose. Akhirnya saya dibawa oleh seorang panitia ke backstage, tempat dia menunggu, dan saya langsung dikenalkan dengan LO-nya.

Ketika melihat saya, LO-nya bilang, “Cuma lo sendirian?” “Yep, only me.” Sambil jalan ke ruangan Markus, dia bilang lagi, “Interview-nya yang lama aja. Oh, and he’s kinda moody.” Whoaa!! Saya sudah biasa dengan perempuan yang moody, tapi tidak dengan seorang pria (tulen).

Sampailah saya ke ruangan Markus. Ketika saya masuk, dia sedang duduk di pojok ruangan memangku macbook-nya, ditemani seseorang entah asisten atau mungkin justru salah satu performer DWP. LO menyuruh saya untuk duduk dan menunggu Markus selesai. Setelah kira-kira setengah menit menunggu, akhirnya saya dipersilakan untuk wawancara. LO pun mengambilkan saya bangku dan menaruhnya tepat di hadapan Markus. This is it!

Saya langsung menghampiri dan bersalaman. “Nice to meet you,” I said. Dan dia sambil tersenyum menjawab, “Hi, nice to meet you too.” Tanpa buang-buang waktu, saya langsung duduk dan memulai interview. Ketika saya memencet tombol recording di tape recorder saya, 2 detik kemudian tape tersebut mati. Saya coba pencet lagi, tapi sama saja. Karena saya pikir saya salah memasukkan kaset, akhirnya saya buka tape recorder tersebut. Tapi ternyata tidak ada yang salah, kaset benar di posisi side A.

Melihat saya repot, akhirnya Markus mengambil tape recorder dari tangan saya. Saya langsung bilang, “I’m sorry, I not this is kinda oldfashioned..” “Yeah, this is oldfashioned, but used this to record my track a very long time ago. Oh, I miss those days.. Look, the cassette is broken,” sambil memperlihatkan pita kaset yang kusut. Damn!

Saya pun secepat kilat mengambil ponsel saya di tas. Panik semakin menjadi-jadi karena saya tidak tahu ada dimana tombol perekam suara. Dan ternyata Tuhan masih sayang saya, hanya hitungan 3 detik saya langsung menemukan tombol perekam suara, dan wawancara akhirnya bisa dilakukan. Pffiuhhhh!

Apa yang saya khawatirkan tidak terjadi, dan Markus pun sedang dalam mood yang OK. Dari 10 pertanyaan, kami banyak membahas tentang karier, anak laki-lakinya, dan juga passion dan ambisinya. Dia pun mengaku fans setia Pink Floyd!

Lima belas menit waktu interview akhirnya berakhir. Dan saya harus bilang kalau Markus itu orang yang menyenangkan, dan saya bisa merasakan bahwa dia adalah sosok ayah yang hebat. Sayang, saya tidak sempat melihat langsung pertunjukan Markus karena terjebak hujan deras yang membuat saya basah kuyup, dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

Thank you Markus, it’s a pleasure to meet you! #RR

For-blog

It’s me and Markus!

For-blog2

Look how deep Markus’s staring at me! x)) Btw, he has a beautiful (baby) blue ocean color!

Terima kasih kepada Yoland yang sudah mengenalkan saya pada CoCo, di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta. Produknya berbagai variasi bubble drink, serupa dengan Quickly, Hop Hop, dan lain sebagainya. CoCo punya maskot seorang makhluk biru yang lucu banget, dan suka keliling area sekitar untuk menarik perhatian pengunjung. Minumannya mungkin gak beda jauh dengan bubble drink lain yang sudah populer sebelumnya, tapi entah kenapa selalu ‘ngangenin’. Tempatnya ada di pojokan, sebelahan sama 4 Fingers. Selamat mencoba, dan jangan lupa foto bareng maskotnya (kalau masih ada). #RR

Coco-bubble-drink