Archive

Monthly Archives: November 2012

Iwet-ramadhan

Foto: Orie Buchori

Few months ago, I got lucky to met Iwet Ramadhan (announcer, MC, actor, designer) in person and had a brain-gasm interview for August issue of Grazia magazine. Yes, he is amazingly smart, and he gave me new insights about the meaning of nationalism through culture, especially from Batik.

Below is the interview (that will be wasted if it’s stored *uselessly* in my hard disc). Enjoy!

—-

Sudah dari kecil punya ketertarikan yang besar terhadap budaya?

Saya sudah suka budaya sejak, usia 2 tahun. Saya lahir di Jogja dan besar di lingkungan yang kental budaya. Ayah saya orang Jawa Timur, lahir di Tuban dan besar di Surabaya. Tepatnya di dekat Mojokerto, dekat dengan situs Majapahit. Ibu saya orang Sumatera Barat, dari kampung Rau.

Dan kebetulan keluarga dari mamah sangat mem-preserve budaya. Kayak nenek saya punya pelaminan sendiri. Kalau ada yang nikah adat Padang, pasti akan dibuka. Kemudian di Yogyakarta, memori yang saya ingat ketika hidup sebagai manusia, adalah saya selalu bawa selendang batik. Ini berawal dari saya yang gak mau makan kalau gak dibawa ke Hotel Ambarukmo, karena dulu ada pagelaran sendra tari dan gamelan tiap sore. Nah, dari situ, cranky-nya adalah (dari kecil gue udah cranky) saya mesti bawa pulang sesuatu dari situ. Entah selendang, baju wayang, dll. Untung ayah saya kreatif. Dia suka membuatkan saya tempat buat panahan, topi wayang, selendang, dan itu (dengan bangga) saya bawa kemana-mana. Jadi, kalau masa kecil saya dulu, anak2 lain mengabdikan diri pada Voltus, tapi gue merasa diri gue adalah tokoh wayang.

Di Kelas Mbatik, kita bisa ngapain aja, sih?

Yang pasti tidak hanya untuk seru-seruan membatik saja. Biasanya saya selalu membuka acara dengan bercerita apa itu batik, apa yang membuat batik harganya mahal, apa jenis motifnya, jenis tekniknya, lalu kemudian baru para peserta praktek membatik–yang mostly para peserta mengakui sulitnya proses membatik. Dari situ para peserta mulai tumbuh kesadaran seperti: “Ah, gue gak mau lagi beli Batik print. Minimal Batik cap”. Dari situ orang-orang mulai tertarik lebih jauh tentang Batik–yang ternyata Anda juga bisa mengetahui sejarah suatu daerah/negara dari selembar kain Batik!

Sepertinya Anda suka sekali sejarah….

Jangan salah. Dulu saya benci banget pelajaran Sejarah. Pelajaran Sejarah yang ada di sini itu kan ‘menghapal’ banget ya–bikin malas. Setelah saya tahu Batik dan menelusurinya, baru saya menemukan kecintaan terhadap sejarah. Ya, bisa dibilang setelahnya saya mulai gila sejarah (yang berhubungan dengan Batik). Saya bisa lho tahu tentang sejarah Jakarta, Ondel-Ondel, hanya dari Batik…

Saya suka sebel banget kalau ada yang ngomongin batik Indonesia itu: “Ih, Batik itu Indonesia banget ya!”. Dude, you have to learn, kalau kita membicarakan soal kebudayaan, ya harus membicarakan soal akulturasi juga. Gak pernah ada yang ‘asli Indonesia’. Semuanya campuran, peranakan. Bahkan kerajaan Majapahit yang besar itu ada unsur India-nya.

Kalau berbicara tentang kemampuan dalam membatik, Anda menilai diri Anda pantas mendapat nilai berapa?

Dulu, sih, 7. Saya belajar mambatik karena saya menganggap bahwa ketika saya memutuskan untuk berbisnis Batik, ya saya juga harus bisa membatik. Saya dulu bisa mengklaim bahwa saya bisa membatik, meskipun belum halus-halus banget ya. Sampai akhirnya saya ke pembatik Oey Soe Tjoen dan Liem Ping Wie. Bertemulah saya dengan pembatiknya, dan mereka menggunakan canting nomor 0–yang setahu saya merupakan canting dengan ukuran terkecil. Begitu saya coba menggunakan canting tersebut untuk membatik, pembatiknya bilang: “Elek mas..”, yang artinya “jelek mas..” Hahahaha. Itu gila. Dan dari situ saya menurunkan nilai membatik saya dari 7 menjadi 5. Kalau nanti saya sudah bisa membatik dengan canting 0, baru saya akan memberi bila 7 lagi ke diri saya.

—–

Well, that’s it. I hope we can learn something from his spirit to uplift and preserve Indonesian heritage (especially Batik) in a fun way. Psst, after Batik, Iwet will explore Tenun. Can’t wait! #RR

Advertisements