Archive

Monthly Archives: June 2012

Ruri__shei

Saya dan Shei (Foto: Nadya Paramitha)

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan Shefti L. Latiefah—yang akrab dipanggil Shei—untuk sesi wawancara di salah satu cafe di Depok. Singkatnya, wanita belia ini adalah inisiator dari social movement Save Street Child (SSC), yang terjun langsung menggandeng anak jalanan dan memberikan mereka harapan akan masa depan. Sambil kuliah (dan mengerjakan skripsi!), Shei masih dan terus akan aktif dalam berbagai kegiatan SSC. Salut. Dan kesalutan saya berlanjut dengan luasnya wawasan dia tentang anak-anak, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan politik, hankam, pendidikan, dan lain-lain. Seperti inilah wajah ‘mahasiswa’ seharusnya…

Apa kesulitan mengasuh anak jalanan?

Pertama, saya tidak mengerti basic dan manajemen moral, attitude, pembinaan, dan juga menghadapi reality life. Pernah, kok, kita menerima teror. Ada orangtua anak yang mabuk, datang ke rumah saya, dan mukulin anak-anak. Pernah juga dituduh penculik, tukang ikut campur rumah tangga orang, dan juga tukang hipnotis (tertawa).

Program apa yang menjadi acuan Anda?

Pendidikan. Menurut saya, pendidikan adalah alat yang paling manusiawi untuk memanusiakan manusia. Kalau pikiran dan hati mereka terbuka, mereka juga bisa jadi seseorang.

Kenapa Anda tergerak untuk mengurus dan mengasuh anak-anak jalanan? Pernah ada pengalaman emosional?

Hanya semacam guilty pleasure. Saya menganggap hidup saya nyaman, enak, dan lempeng-lempeng saja. Karena saya menganggap negara ini sudah awut-awutan, maka kalau mengandalkan pemerintah untuk mengurus anak-anak ini tidak akan cukup. Negara, kok, suka banget ‘memelihara’ fakir miskin dan anak-anak terlantar. Sapi dipelihara saja gemuk. Kalau fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara, ya, makin banyak!

Sekarang Anda tinggal bersama tiga anak jalanan di kontrakan, bagaimana awal ceritanya?

Waktu itu saya melihat dua anak cewek, Wati dan Lisa, masih kelayapan sekitar jam 12 malam, mengejar truk sampah—yang ternyata mereka tengah mabuk. Saya panggil dan saya ajak makan mereka. Saya tanya mereka akan tidur di mana malam itu, mereka jawab: “Di mana saja, di semak-semak juga bisa.” Padahal kita jam segitu masih enak-enaknya tidur atau santai di rumah. Sedangkan mereka harus cari tempat tidur yang belum tentu aman dari serangga, kecoak, Satpol PP, dan pemerkosa—karena mereka sudah 13 tahunan, ya.

Ketika saya bertemu lagi dengan mereka, saya berikan mereka baju. Karena kepikiran, akhirnya saya ajak mereka tinggal bareng. Karena saya adalah anak kost, harta berharga paling-paling cuma rice cooker yang harganya seratus ribuan rupiah. Nothing to lose.

Urus SSC sama siapa saja?

Dulu pernah punya pengurus sampai 10 orang. Pernah juga hanya dua orang. Maklum, yang namanya komunitas itu fluktuatif ya. Gak punya sistem kerja dan memprioritaskan hal-hal yang seharusnya diurus pemerintah. Teman-teman banyak yang tidak kuat.

Sekarang kan sedang skripsi. Kalau sudah lulus nanti, apa yang ingin Anda capai?

Saya ingi mendirikan Non-Government Organization (NGO) anak, tapi yang militan. Dalam arti bergaul juga dengan preman, supaya tidak seperti KPAI: Komisi Pelaporan Anak Indonesia. Ya, memang, hanya dilaporkan saja, tidak ada tindak lanjutnya lagi. Susah juga kalau sistem hukumnya belum benar. Masalahnya, ancamannya itu preman lho, real banget. Kalau bisa malah ada bekingan Hercules (tertawa).

Setelah banyak berinteraksi dengan anak jalanan, yang sebenarnya mereka inginkan?

Duit (tertawa)! Sebenarnya yang mereka inginkan adalah sebuah keluarga, dan SSC memberikan itu. Makanya ini alasan kenapa saya tidak menampung terlalu banyak anak. Saya adalah orang yang percaya bahwa institusionalized children is not a children. Anak-anak harus dibesarkan oleh keluarga, bukan hanya sekolah. Anak-anak akan kehilangan beberapa hak mereka seperti hak bermain, dan hak memperoleh kasih sayang. 

——

Jika ada yang tertarik memberikan donasi atau ikut serta dalam kegiatan SSC, silahkan tanya-tanya langsung dan follow akun Twitter resminya: @SaveStreetChild atau akun pribadi Shei: @sheilayla. — Masih ada (banyak) harapan untuk anak-anak jalanan.. #RR

Advertisements

Sinopsis

Sebenarnya, nonton film ini adalah ketidaksengajaan. Pengen nonton Prometheus tapi salah lihat jadwal. Kirain main jam 17.15 WIB, ternyata tayangnya jam 17.00 WIB. Nonton telat kan gak enak ya, akhirnya memutuskan untuk nonton Lockout yang baru akan tayang jam 17.20 WIB. Masih ada waktu 5 menit lagi untuk ngapa-ngapain dulu.

Singkatnya, film rumah produksi Perancis ini bercerita tentang agen CIA, Snow (Guy Pearce), yang ditangkap Secret Service karena terbukti secara dokumentasi membunuh agen CIA lainnya, Frank Armstrong. Padahal kenyataannya Snow sama sekali tidak bersalah.

Sebelum Frank mati, dia sempat menitipkan sebuah lighter dan tas koper dan berpesan supaya kedua benda ini tidak jatuh ke tangan Secret Service. Snow berhasil membawa kabur koper tersebut, dan melemparkannya ke dalam kereta api yang hendak berangkat. Mace, rekannya yang berada di dalam kereta, akhirnya menyembunyikannya. Tapi sayang, tak berapa lama setelah koper tersebut berhasil disembunyikan, ada insiden tak terduka yang membuat Mace harus ditahan di sebuah penjara dengan keamanan maksimal, MS One, yang terletak di luar angkasa.

Meanwhile, putri Presiden AS, Emilie Warnock, sedang berkunjung ke MS One untuk menginvestgasi dampak ‘stasis’ (menidurkan para narapidana di dalam tahannya) terhadap kondisi psikologis, yang juga ada kecurigaan menderita dimensia.

Sebagai ‘narasumber’, salah satu narapidana, Hydell (Joseph Gilgun) dibangunkan untuk berbicara dengan Emilie yang didampingi oleh Hock (Jacky Ido), bodyguard-nya. Mencurangi aturan MS One, Hock berhasil diam-diam membawa senjata ke ruang interogasi. Sialnya, Hydell mengetahui pistol yang disimpan Hock di kakinya, dan berhasil merebutnya. Hydell membunuh para petugas, membebaskan dan membangunkan para narapidana yang tertidur, dan memulai aksi pemberontakan.

Atas kondisi ini, pihak Secret Service akhirnya mengutus Snow untuk berangkat ke MS One untuk menyelamatkan Emilie, sang putri Presiden AS. Meskipun awalnya menolak, namun karena diberitahu bahwa Mace ada di dalam MS One, maka Snow tanpa pikir panjang langsung menyetujui.

Review

Karena saya penyuka adegan aksi berdarah, film ini cukup menghibur. But that’s it. Rasanya saya seperti nonton Die Hard dengan setting luar angkasa (khususnya dengan banyaknya adegan di saluran udara, terowongan sempit, gorong-gorong, dsb). Nothing new. Akting Guy Pearce ya, so-so.. Tapi saya suka karakternya yang snarky dengan banyak memberikan one-liners oke. Akting Maggie Grace (yang mirip dengan Carissa Puteri) sebagai Emilie patut diacungkan jempol! Akting Hydell juga bisa dibilang keren karena berhasil membuat saya sedikit bergidik dan berharap tidak akan pernah bertemu dengan orang semacam dia.

Film yang bersetting tahun 2079 ini juga punya jalan cerita juga biasa aja, tidak ada hal yang mengejutkan atau sampai saya biasanya berkomentar selama film berlangsung: “oh, shit!”. Dan entah kenapa, film ini punya kemiripan dengan film lama Escape From New York.

Penilaian: 3/5.

Casts: Guy Pearce, Maggie Grace, Vincent Regan, Joseph Gilgun, Lennie James. Director: James Mather and Stephen St. Leger. Written by: Luc Besson, Stephen St. Leger, James Mather. #RR

Lockout-joseph-gilgun-570x349
Lockout-maggie-grace-guy-pearce

Beberapa waktu lalu saya naik taksi dari fX, Senayan. Tak disangka-sangka, supir taksi saya super ganteng dan keren! Mau ngajak ngobrol malu, apalagi untuk foto. Buat yang ingat twit-twit saya tentang supir taksi ganteng saya, Taufik H, nih beberapa foto yang berhasil saya ambil. Susah juga ya ternyata ambil foto sembunyi-sembunyi.

PS: Yang mau pesan taksi, silahkan.. (You’re welcome!) #RR

Supir_taksi_1
Supir_taksi_2
Supir_taksi_3