Archive

Monthly Archives: May 2012

Sore ini akan jalan-jalan ke Depok untuk bertemu dengan Shefti Latiefah, pemudi yang menggagas social movement community Save Street Child (@savestreetchild) di Zoe Cafe. Save Street Child ini adalah organisasi yang bergerak untuk mengumpulkan, mengurus, dan mengasuh anak-anak jalanan. Ternyata saya baru tahu organisasi ini tidak hanya ada di Jakarta, tapi juga di beberapa kota lain seperti Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Padang, dan Jogja. Dan, Shei ini ternyata masih mahasiswa (tahun akhir). So, yes, I’m so excited for the interview. Gonna update about this soon! #RR

Advertisements

H-19

Masih suka freak out membayangkan nantinya, sepanjang tahun, sampai akhir hayat, akan mengurus kehidupan seseorang (atau lebih) dalam satu atap. Mikirin masak apa, urus rumah (tangga), dan tentunya menjaga chemistry supaya tidak saling (terlalu) bosan satu sama lain.

Di pagi hari menjelang weekend, ini twit pertama saya:

Ruri_tweet

Ya, mungkin memang saya sedang dalam kondisi terendah dalam hal-hal yang berkaitan dengan bekerja–meskipun itu merupakan kewajiban (dan kebutuhan) saya.

Berangkat pagi hari, seperti biasa, saya transit di terminal Kampung Melayu. Dalam perjalanan saya menuju flyover dimana angkutan umum M44 menunggu, saya melihat di jalur busway ada dua busway yang berhenti–padahal jalan di depannya tidak sedang apa-apa. Ketika saya perhatikan, ternyata di depan bus Trans Jakarta tersebut ada seorang pria tuna netra tua yang kebingungan arah dan berpegangan pada beton pembatas jalan–and nobody was there to help him!

Saya pun langsung berlari menuju arah pak tua tersebut, yang ternyata beliau sedang berteriak minta tolong. Saya langsung meraih tangannya dan menyebrangkan beliau. Beliau langsung bilang pada saya untuk dicarikan Metro Mini nomor 50 ke arah Kebon Singkong (yang saya baru tahu memang adalah kampungnya pengemis. Letaknya di Klender, Jakarta Timur).

Udah nunggu 5 menit, busnya gak datang-datang juga. Adanya Metro Mini 52. Saya tanya lagi si bapak apakah yakin nomor 50 karena daritadi yang lewat hanya nomor 52. Dia bilang “iya”, lalu selanjutnya bilang bisa saja dia naik ojek, tapi nanti ongkosnya akan habis sebelum dia bisa kembali pulang. Tanpa banyak pikir, saya langsung menggandeng bapak itu ke tukang ojek untuk mengantarkan bapak itu ke tujuannya. Setelah tawar menawar harga, tukang ojek tersebut mau mengantarkan bapak tua tersebut.

“Bang, saya titip bapak ini ya”.

“Iya mbak, saya akan anterin sampai ketemu tempatnya”.

Dari situlah, saya langsung berjalan pergi dengan menitikkan air mata. Kepikiran, bagaimana kalau bapak tadi itu adalah ayah saya.. Dan tidak ada yang menolongnya di jalan.. Tentunya saya akan merasa sangat gagal menjadi seorang anak.

Lagi-lagi saya bersyukur karena mendapat pelajaran yang berharga. Berharga, Tuhan memberikan pelajaran tersebut dengan cara yang ‘menyentil’. Malas-malasan yang saya rasakan tadi pagi ketika bangun tidur, sirna sudah. Bersyukur saya masih punya tubuh yang sehat yang bisa melakukan apapun yang saya mau, tidak ada keterbatasan signifikan apapun. May God always bless that old man! #RR

Mohon dimaafkan kalau lagi-lagi saya bicara tentang pernikahan.

Jadi begini, baru-baru ini saya membaca ‘diary’ di timeline teman saya tentang pernikahannya. Saya tau, apa yang dia bicarakan adalah kisah subjektifnya tentang kehidupan pernikahannya. Tapi alangkah baiknya kalau itu tidak terkesan menguliahi. Harus diingat, di sini saya tidak memberikan penilaian yang menyudutkan kepada siapapun.

Here are my opinions. Saya akan jabarkan per poin supaya lebih enak.

1. Katanya, pacaran lama itu perlu untuk bisa mengenal pasangan sebanyak 80%, sekaligus juga mengenal keluarganya. »» Saya pribadi bisa setuju bisa juga tidak. Basically karena saya sendiri pacaran sudah menginjak tahun ketiga—yang memang sebentar lagi, kata orang-orang, akan menikah. Jadi, ya, untuk ini saya setuju. Setuju karena posisi saya yang melalui masa pacaran lumayan lama. Ketidaksetujuan saya adalah tidak semua orang harus mengaplikasikan ini. Ada yang baru kenal, chemistry kuat, dilanjutkan dengan kompak berkomitmen untuk serius ke tahap berikutnya. Banyak juga teman saya yang gak sampai usia 1 tahun pacaran melenggang dengan indahnya ke pelaminan. Pasca pernikahan? Baik-baik saja.

2. Kenapa butuh 80% untuk mengetahui kepriabadian calon suami/istri? Karena 20%-nya akan terlihat setelah menikah. »» IMHO, saya sendiri sih pede-pede aja menganggap saya sudah sangat mengenal pasangan saya—-sebatas yang sama mau. Jadi begini, saya ini termasuk orang yang menganggap bahwa butuh mengenal pasangan saya secara keseluruhan dan mendalam. Basically karena memang saya seperti itu. Kalau memang mau ada yang ditutupi, silahkan saja asal tidak mengganggu stabilitas hubungan. Saya juga tidak berharap menemukan sesuatu yang baru dari pasangan setelah menikah. Di mata saya, pernikahan itu bukan ajang eksplorasi. Sudah cukup lah eksplorasi dilakukan saat masih pacaran. Pernikahan itu adalah stage saling mengerti, saling mengisi satu sama lain. Sederhananya ibarat praktik estafet lah.

3. Teman saya juga bilang, kalau dia gak suka dengan komentar orang yang bilang: “ah liat aja, 5 thn #nikah juga pasti udh berubah, ga mesra lg.” Menurutnya, ini adalah bentuk dari negative thinking. »» Kalau menurut saya, mesra tidak mesra cuma masalah pergeseran sikap masing-masing. Ada beberapa kondisi yang menurut saya pasti akan mengubah kadar kemesraan seseorang. Jangan menuntut atau berharap pasangan akan terus-terusan menjadi Romeo. Ala Shrek-pun juga punya sisi romantis. Bohong deh kalau dalam pernikahan tidak ada pasang surut. Intinya, penyesuaian. Yah, emang pada dasarnya saya dan pasangan bukan termasuk pasangan yang hobi mesra-mesraan ya, jadi saya sama sekali tidak berharap setelah menikah dia akan jadi mesra, atau tidak sama sekali. Yang penting untuk saya adalah pengertian dan kepedulian.

4. Poin ini sih tidak ada hubungannya dengan apa yang teman saya bilang. Saya cuma mengutarakan betapa tidak sukanya saya kepada pasangan suami istri, yang tidak bosan-bosannya mengajak temannya untuk menyusul ke pelaminan. Misalnya begini, ada teman yang mengucapkan “selamat menempuh hidup baru/so happy for your happy marriage” atau apalah ucapan turut bahagia atas penikahannya. Cukuplah balas dengan “terima kasih” saja. Jangan dilanjutkan dengan “cepet nyusul ya/you’ll find the one/kapan nikah” atau ajakan sejenis apapun. Belajarlah menghargai orang lain, karena belum tentu orang lain tersebut setuju dengan Anda. Dan alangkah baiknya mulai sekarang berusaha untuk belajar injak rem. Mana tau apa yang Anda katakan malah bepotensi menyinggung.

I think that’s all. Kalau dipikir-pikir, siapa saya ya berpendapat sok tau begini, lha wong ngerasain nikah aja belum. Tapi memang yang ada di kepala ini harus segera saya keluarkan. Peace! #RR