Archive

Monthly Archives: April 2012

Beberapa bulan belakangan (atau bahkan tahun), saya belajar bahwa alangkah baiknya masalah apapun seputar urusan kantor tidak dipublikasikan lewat social media (socmed). Pikiran, “Ah, orang-orang gak akan ngeh ini tentang apa..” SALAH BESAR.

Seperti misalnya beberapa minggu yang lalu, saya baca tulisan di salah satu komunitas blogger terkemuka yang menceritakan tentang masalah temannya di kantornya, yang pada akhirnya masalahnya justru melebar. Bukan cuma seisi kantor temannya jadi ricuh, tapi kredibilitas masing-masing yang dilibatkan juga terancam—tentunya oleh orang-orang yang membacanya. Ya, bikin gerah.

Itu blog. Lebih banyak lagi yang mencurahkan emosinya lewat Twitter. Dari timeline saya sendiri, banyak kok yang twit keluhan seputar kerjaan setiap harinya. Jangan lagi berpikir: “Ah, akun Twitter gue di-protect kok”. SALAH BESAR. Orang lain yang follow bisa saja ‘iseng’ me-retweet, atau lebih tepatnya me-retweet ‘dengan paksa’. Kenapa ‘dengan paksa’? Yah wong akun Twitter yang di-protect itu kan gak akan bisa di-retweet dalam bentuk apapun. Belum lagi interpretasi atau kesimpulan yang diambil dari follower-nya (yang baca)—yang bisa berujung pada gosip di kantor. Ini sering terjadi.

Dulu, saya memang termasuk orang yang vokal (baca: suka mengeluh) di Twitter, dalam hal apapun. Tapi lama-lama saya insyaf, karena saya capek sendiri juga baca timeline orang yang kerjanya terus-terusan mengeluh. Tapi insyaf bukan berarti saya pensiun lho ya… #ihik

Apalagi ketika yang dikeluhkan adalah rekan kerja sendiri, dengan secara sepihak, dan menggunakan bahasa yang kasar. It’s inappropriate. Yang akan jadi bahan omongan bukan saja si pelaku, tapi juga si subjek yang diomongin. Mbok ya kalau ada masalah langsung aja bicarakan baik-baik dengan orang yang bersangkutan—tanpa harus menghina-hina di socmed.

Mengeluh sih menurut saya oke oke aja, di Twitter atau bentuk socmed manapun. Manusiawi. Tapi kan bisa dilakukan dengan cara elegan. Intinya, sampaikan saja dengan cara tersirat dan dibuat ambigu. Orang tentunya pasti akan menikmati tanpa mengambil kesimpulan apapun.

Kembali ke poin penting, saya sih gak ada masalah sama sekali dengan keluhan, tapi agak ganggu yang kalau sudah keluhan tersebut berisi makian dan pesan tersurat untuk subjek yang dituju. Pemilihan bahasa itu sangat perlu, apalagi untuk saya yang makanan sehari-harinya gak jauh-jauh dari pemakaian bahasa.

Sekarang, sih, saya sangat menghindari twit sarkas dengan kata-kata kotor. Saya ingat pernah baca di mana, bahwa orang yang marah-marah di socmed (khususnya Twitter) itu seperti onani. Situ puas, tapi yang lihat jijik. Walaupun harus diakui, godaan melampiaskan kemarahan via Twitter sih sangat besar… Tapi biasanya, walaupun saya ketik, saya pikir ribuan kali untuk “send tweet”. Entah batal kirim atau edit total. And guess what, itupun udah bikin lega… #RR

Advertisements

Yes, I repeat, it’s NOT easy to be a model. Hari ini saya dan tiga teman sekantor (Monik, Jane, dan Cides) jadi model untuk salah satu artikel majalah. Konsepnya, kami berempat mix n match beberapa baju untuk inspirasi gaya berpakaian multifungsi selama sebulan. Tentunya pakai beberapa baju masing-masing, dan beberapa baju pinjaman dari beberapa brand.

Makeup dimulai jam 11.00 WIB, pemotretan jam 13.00 WIB, dan semua baru selesai sekitar jam 17.00 WIB. Empat jam?? Yes! Setiap orang 5 kali foto dengan baju-baju yang sudah ditentukan. Sekali foto bisa15-20 take. Yah, mengingat kami semua amatir dan biasanya cuma bisa ngarahin gaya ke model aja ya..

Frame pertama, saya benar-benar tidak tahu bagaimana harus bergaya. Gerak ke mana, tangan digerakkan seperti apa, posisi kaki seperti apa. Totally clueless. Fotografer, mas Ariel, akhirnya menyuruh saya untuk jalan sambil lompat. Mungkin 10x take ada–dengan chunky heels kurang lebih 13 cm. Langsung keringetan!

Entah kenapa, saat itu saya sangat bersyukur dengan pekerjaan saya.

Gak bisa bayangin pemotretan harus dengan gaya yang variatif, disuruh gaya apapun harus mau dan bisa, belum lagi kadang posisi badan yang agak nyiksa. #RR

Hari ini,  saya datang ke peluncuran Ades eco-crush bottle di EX, Jakarta. Air minum dalam kemasan, yang botolnya masih tetap menggunakan botol plastik, hanya saja kemasannya baru.

Eco-crush bottle ini sudah dikembangkan di negara-negara tempat The Coca-Cola Company beroperasi, yaitu Jepang (2009), Meksiko (2009), Korea (2010), Taiwan (2010), Hong Kong (2010), Vietnam (2010), dan Thailand (2011). Indonesia menjadi negara yang ke-8. Pertanyaannya: apa yang dimaksud dengan eco-crush bottle?

Jadi, Ades ini punya punya semacam gimmick berupa ajakan dengan tiga ritual: Pilih – Minum – Remukkan (Choose – Drink – Crush). Urutannya begini, jadi konsumen diajak untuk memilih minuman kemasan (tentunya, Ades), meminumnya, dan kalau habis bisa segera dihancurkan dengan cara dipelintir. Mereka bilang, meremukkannya itu fun. Kenapa diremukkan? Karena botol plastik yang diremukkan akan memberikan banyak ruang? Ruang apa? Ruang dalam tong sampah, mungkin?

Kalau dari segi pemasaran, gimmick tadi itu oke. Pasti banyak orang yang tertarik membeli air kemasan baru ini. Apa lagi tujuannya kalau tidak ingin mencoba untuk pengalaman meremukkan yang katanya menyenangkan. Tidak salah, kok. Hanya saja kurang sreg dengan ‘kacamata’ saya.

Saya, sebagai konsumen, yang juga berusaha untuk menjadi orang yang ramah lingkungan, berpendapat bahwa konsep ini tidak sejalan dengan saya. Kalau memang saya ingin menerapakan prinsip dasar Reduce, Reuse, Recycle dalam membeli air kemasan–tentunya saya lebih memilih untuk meminimalisir pembelian.

Si botol eco-crush ini katanya sudah mengurangi penggunaan plastik pada botol kemasan hingga 8%. That’s great, actually. Tapi ketika ini menjadi sesuatu untuk dijual, tentunya yang diharapkan adalah angka penjualan yang besar. Kalau memang meremukkan botol adalah ‘kampanye’ untuk air kemasan ini, hampir bisa dipastikan bahwa pembelinya akan meremukkan dan membuang botol kemasan tersebut setelah habis diminum.

Ya, ini tidak ada salahnya juga. Tapi saya mempertanyakan lagi di mana letak ramah lingkungan yang sebenarnya? Jawaban yang saya dapat, bahwa dengan konsep ini, Ades ingin menginspirasi orang-orang untuk melakukan suatu perubahan. Entah apapun itu yang berhubungan untuk menjadi lebih ramah terhadap lingkungan. Semuanya dikembalikan lagi ke masyarakat. Yang mau mengolah sampah remukkan botol plastiknya, silahkan. Yang hanya ingin minum – remuk – buang, juga silahkan. Bagi saya, ini jadi lebih seperti “cara baru untuk membuang sampah plastik”.

Tapi bagaimanapun, pengurangan 8% penggunaan plastik PET dalam kemasan adalah langkah yang bagus. Semoga ini bisa menginspirasi produk-produk lain untuk melakukan hal yang sama, atau yang lebih besar lagi. Yang effort-nya untuk ramah lingkungan bisa lebih terasa.

Oh ya, tepuk tangan juga untuk seragam pegawai Coca Cola Indonesia (dan apapun lainnya) yang sudah semaksimal mungkin ramah lingkungan. #RR

Img_2101_small_with_emboss