Archive

Monthly Archives: March 2012

Minggu, 25 Maret 2012, kira-kira pukul 08.20 WIB, teman saya, Nadya kirim SMS yang isinya: “Busur meninggal?? :((((“

Saya kaget, balas SMS-nya, dan langsung cek Twitter. Dan benar, semua saling twit tentang kebenaran kabar meninggalnya seorang fotografer dan teman baik, Budi Suryanto, a.k.a Busur, a.k.a Bucuy.

Saya langsung cek beberapa akun, seperti @majelislenong dan @dalyanta. Saya juga search dengan keryword akun Twitter-nya Busur: @busur_subur.

Busur1
Busur2

Air mata tak terasa menetes. Tidak akan ada lagi orang yang akan memanggil saya dengan sebutan “Rahmi”. Yes, cuma Busur satu-satunya yang memanggil saya dengan sebutan itu. Tidak akan ada lagi sapaannya lewat bilik pemisah redaksi Grazia dan fotografer di dekat meja saya. Nadya pun tentunya akan sedih karena tidak ada lagi yang meminjam charger BB-nya 🙂

Tidak ada lagi nasi goreng super enak buatan ibunya yang dulu suka dibawanya ke kantor. Tidak ada lagi fotografer yang selalu semangat untuk ikut redaksi liputan konser. This is so sad.

Pengalaman saya liputan bareng Busur cuma sekali, yaitu ketika liputan konser Katy Perry. Saya ingat Busur juga bilang dia mau banget motret Lady Gaga. Tapi, apa daya, yang ditugaskan untuk liputan bukan saya. Kalau saya sih, gak akan pikir panjang untuk ajak. 🙂

Saya juga ingat, mungkin 2 minggu lalu, Busur dengan senangnya pamer kepada saya bahwa dia akan ke Singapura untuk nonton konsernya The Cranberries tanggal 2 April nanti. Busur juga memamerkan kepada saya bahwa dia dapat full access untuk konsernya Morrissey tanggal 10 Mei 2012 di Jakarta.

Wow. Busur benar-benar tau bagaimana cara bersenang-senang dan menikmati hidup–walaupun beberapa sambil kerja. Bisa dibilang, saya iri. Busur sedang berada di salah satu surga dunia Indonesia, Derawan, dan dia pun meninggal damai dalam tidurnya. Ya, siapa bisa menebak umur. Cuma Allah yang Maha Tahu dan punya kuasa.

Berikut adalah beberapa ungkapan duka dari teman-teman untuk mengenang Busur..

Busur3
Busur4
Busur5
Busur6
Busur7
Busur8
Busur9
Busur10
Busur11
Busur12
Busur13
Busur15
Busur14
Busur16
Busur17
Busur18
Busur20
Busur21
Busur22
Busur23

Semuanya merasakan hal yang sama; sama-sama merasakan kehilangan akan rekan kerja, teman baik, sahabat, dan keluarga. Selamat jalan Busur. Sampai bertemu di saat yang tepat. Rest in peace, Bucuy. We will miss your presence because you’re such a nice person.. #RR

Advertisements

Sebagai seorang jurnalis entertainment & lifestyle, tentunya bidang kerjanya tak jauh dari dunia hiburan. Yang mengasyikkan, adalah ketika saya bisa berkesempatan bertemu muka, wawancara, dan foto bareng dengan seleb-seleb yang dulunya cuma bisa saya lihat di TV, papasan di mall, atau tempat-tempat umum lainnya.

Kepuasan dan kesenangan tak hanya itu. Tentunya saya berharap ketika wawancara berlangsung, saya akan memberikan kesan tertentu kepada seleb yang bersangkutan, dan membuat mereka terus ingat pada kita. Worth to try, but I’ve never tried to push it.

Usaha saya selama ini paling hanya menyempatkan diri selama 1 jam paling sedikit untuk riset tentang mereka. Apa berita terakhir tentang mereka, apa kasus terakhir merka, apa prestasi terbaru mereka, atau cuma menelusuri timeline Twitter mereka. Bukan stalking, tapi ini adalah bagian dari riset. Tentunya mereka pun akan lebih senang dengan penanya yang sudah tahu siapa yang akan mereka wawancara.

Kalau sudah seperti ini, biasanya memang mereka jauh lebih respect. Kalaupun memang ada sebuah ‘kedekatan’ dan keakraban semasa sesi interview, tidak banyak yang berlanjut ketika mereka selesai dan pulang. Paling hanya sebatas ungkapan terima kasih di Twitter, ya sudah. Atau kirim SMS/kartu ucapan hari raya dan sebagainya.

Dari pengalaman saya, ada beberapa tipe selebriti ketika interview:

1. Mereka yang sangat ramah dan terbuka, kecuali tentang kehidupan percintaannya. Saya suka dengan selebriti macam ini, karena profesional. Mereka juga tidak membiarkan si wartawan yang berusaha sendiri untuk mencairkan suasana. Bahasa tubuh mereka seolah tidak mengatakan: “lo yang butuh gue, yaudah lo yang usaha”. Gak perlu banyak basa-basi, ngobrol dengan mereka akan langsung klik.

2. Mereka yang moody. Indikasinya bisa kayak gini: datang terlambat, pantau Twitter-nya yang isinya keluhan, sampai di tempat muka kenceng, mulai minta yang aneh-aneh, dan kalau ditanya jawabnya sepatah atau dua patah kata. Kalo ngadepin yang kayak gini, sih, telen pil sabar aja.

3. Ada yang baik, ramah, cool, tapi jawab pertanyaan sekedarnya aja, dan kebanyakan jawab dengan “Gak tau ya”, “Lihat nanti kali ya”, dan lain-lain yang semacam itu. Mau improvisasi gimana pun tetep gak ada gunanya. Dan, akan banyak momen #kemudianhening

4. Ada juga yang ‘murahan’ (in a good way!), dalam arti gampang diajak kerjasama, gak terlalu banyak menuntut, dan ditanya apapun pasti jawab, bahkan terus menerus bercerita sehingga saya hanya tinggal mencoret daftar pertanyaan yang telah dia jawab dengan sendirinya.

Apapun jenisnya, apapun sikap yang mereka tunjukkan pada waktu interview, adalah bagian dari pekerjaan mereka. Sebagaimana dengan bagian dari pekerjaan saya, atau teman-teman jurnalis lain. Sebisa mungkin melakukan apa saja untuk bisa menciptakan chemistry, dan sesi interview tidak hanya satu arah–walaupun, jarang sih para selebriti yang balik nanya. Mereka kebanyakan cuma jawab pertanyaan. Maklum, mungkin namanya juga kerja, makin cepat selesai ya makin cepat pulang.

Banyak narasumber saya yang ketika saya ketemu mereka lagi di sebuah acara, mereka lupa sama sekali. Kalau papasan pun gak ada indikasi mereka ingat. Well, it doesn’t matter. Pernah juga saya Twitter-an sama narasumber saya, lumayan sering. Sampai akhirnya saya sadar kalau ternyata selama ini dia salah mengenali saya. Dikiranya saya adalah temannya. D’oh.

Ngenes, sih. Pelajaran aja buat saya, jangan mengharapkan mereka akan tetap akrab dengan saya, atau paling tidak, ingat, kalau bertemu lagi di acara-acara lain. Kecuali kalau memang saya sudah jadi wartawan senior yang taringnya sudah nancap dimana-mana.

Selebriti juga cuma manusia biasa. Setiap bulannya mereka harus promo ke banyak media, bisa sampai puluhan, bahkan ratusan. Jadi jangan harap deh mereka juga bisa ingat. Kecuali, Anda melakukan hal yang bombastis ketika interview berlangsung, yang bisa membuat Anda terus-terusan diingat. Tapi, Anda tentunya gak akan seniat itu kan? Or you simply can’t miss the moment?

Banyak juga narasumber yang sampai sekarang saya masih akrab. Tapi, tentunya, kembali lagi, tidak usah memaksakan diri untuk bisa akrab dengan mereka, berteman baik dengan mereka, atau hanya sekedar hangout bareng dengan mereka.

Hal yang selalu saya pegang, antara wartawan dan selebriti itu saling membutuhkan. Saya butuh mereka, mereka pun butuh saya. Tapi bukan berarti saling memanfaatkan. Yang penting, buatlah berita yang bagus dari pertemuan saya dan mereka. Kalau memang keakraban berlanjut, anggap saja itu adalah bonus. 8) #RR

Hari yang cukup aneh, dan anehnya menyenangkano. Jumat malam (09/03) saya menghadiri media screening film John Carter di eX, Plaza Indonesia. Acara mulai sekitar jam 19.30 WIB, dan selesai kurang lebih jam 21.30 WIB. Selesai acara, saya memutuskan untuk pulang karena mata ini sudah lelah dan butuh tidur.

Ketika ke lobby eX, ternyata hujan cukup deras, antrian taksi mengular, dan lihat jalanan cukup padat. Akhirnya saya memutuskan untuk ke lobby Plaza Indonesia. Saya hanya mengikuti kemana eskalator mengarah, dan begitu lihat ada lobby, yang ternyata adalah Thamrin Entrance lobby, saya langsung menuju ke sana. Antrian mengular, tapi gak panjang-panjang amat. Kalau dikira-kira, mungkin saya antrian yang ke-6, dan saya keburu senang karena akan lebih cepat untuk dapat taksi.

Ternyata saya salah.

Kenapa antrian di situ tidak banyak dan panjang? Karena memang jarang dilewati taksi! Kampret! Dengan sabar, saya menunggu. 5 menit, 10 menit, 20 menit, 30 menit, antrian hanya berkurang dua orang, sedang jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, dan hujan masih cukup deras. Jangan tanya saya bawa payung atau tidak, karena saya orang yang paling malas untuk bawa barang seperti itu.

Tak terasa sudah 40 menit kami menunggu. Enam orang masih dalam antrian, yang terdiri dari sepasang pria muda, seorang wanita usia 30 tahunan, dan 3 orang wanita 25 tahunan termasuk saya. Selain sepasang pria, semuanya tidak saling kenal.

Saya pun mulai bosan menunggu, dan berkutat pada BlackBerry saya, dan saya pun mulai memperhatikan sekitar. Wanita muda berbaju biru sibuk menelpon Blue Bird online (ya, aksi #nguping dimulai). Ketika sudah tersambung, wanita ini melapor:

“Mbak, saya mau minta tolong armada taksi tolong diarahkan ke Plaza Indonesia Thamrin Entrance. Saya banyak sekali lihat taksi di seberang, yang lewat di depan Pullman Hotel, dan kosong. Tolong diarahkan ke sini karena kami sudah nunggu lama banget. …….. Ya, terima kasih”.

Lega. Tak lama, ada Silver Bird yang datang, dan sepasang pria tersebut pun masuk. Kami titip pesan ke mereka, untuk bilang ke supirnya, untuk bantu menggiring beberapa taksi ke tempat kami.

Tinggal berempat, dan wanita semua. Kami pun kembali menunggu dan memperhatikan sekeliling–dan ternyata tidak ada petugas yang berjaga sama sekali! Where the hell are those people!

Tak begitu jauh dari tempat kami menunggu, ternyata sekumpulan penjaga asyik berkumpul dan tertawa-tawa dengan sesamanya. Kami merasa geram, karena seharusnya mereka berusaha untuk mencarikan kami taksi! Wanita berbaju biru pun mendatangi mereka dan komplain karena daritadi jarang sekali taksi yang datang ke lobby ini, sedangkan kami melihat banyak taksi kosong yang seliweran di depan. Mereka pun bilang bahwa taksi memang jarang, dan mereka juga bukan pihak yang berhak untuk mencarikan taksi–karena memang di tempat itu seharusnya ada petugas Blue Bird. Ketika ditanya di mana petugas tersebut, dia tidak tahu. Screw you!

Tak terasa sudah 60 menit kami menunggu. Kami pun ngobrol tentang kondisi kami, dan saya berinisiatif bertanya tentang tujuan masing-masing. Ada yang ke Wisma Mulia (Gatot Subroto), Pulo Mas, Rawamangun, dan saya sendiri ke Pondok Gede. Saya pun bertanya kepada mereka apakah mau bareng satu taksi dulu ketika nantinya ada taksi yang datang. Paling tidak keluar dulu dari PI, dan di jalan kan cari taksinya lebih gampang. Kami pun setuju.

Tapi tetap, taksi tak datang-datang juga. Rasanya mulai stres! Hujan masih saja deras, udara lembab tidak berangin, dan keringat dingin saya pun mulai keluar. Kami berempat pun memutuskan untuk pindah lobby. At least lobby yang ramai, karena tempat kami menunggu tidak ada yang menjaga sama sekali.

Kami pun berjalan ke lobby tempat akses ke Immigrant. Dan ya, petugas semua berkumpul di sana. Ketawa cekikikan. Si wanita berambut biru pun kembali komplain kenapa di sana tidak ada yang berjaga. Saya pun langsung memotong pembicaraan dengan bertanya tentang taksi–yang ternyata jarang juga. Namun mereka memastikan kepada kami bahwa kamilah antrian pertama di lobby itu–saat itu.

Saya bertanya kepada 3 wanita lain, apakah mau terus menunggu di sini atau pindah ke lobby lain? Mereka bilang tunggu dulu aja selama 5 menit. Baiklah.

Tak sampai 5 menit, akhirnya ada taksi yang menampakkan batang kap mobilnya! Taksi tersebut membawa penumpang, sih. Tapi untungnya si penumpang turun, dan kami diperbolehkan naik.

Di dalam taksi, kami saling mengucap syukur dan tertawa cekikikan. Cukup aneh ya berada di dalam taksi, dengan orang-orang yang tidak kami kenal. Akhirnya, kami taksi menuju ke arah Rawamangun-Pulo Mas. Jadi, saya dan si baju biru yang tujuannya ke Gatot Subroto bilang kepada supir untuk berhenti jika Anda taksi kosong.

Banyak memang taksi kosong yang parkir di pinggir jalan, tapi kebanyakan menolak. Mungkin karena sudah jam pulang ke pool. Akhirnya ada Silver Bird yang mau mengangkut kami! Kami pun turun, dan mengucapkan selamat tinggal pada si Rawamangun dan Pulo Mas. Yes, kami antara tidak sempat, lupa, atau tidak kepikiran sama sekali untuk berkenalan.

Saya dan si Gatot Subroto pun masuk ke dalam taksi. Dan saya pun menanyakan namanya–yaoti Dita. Saya bilang ke pak supir untuk sekalian mencari taksi kosong. Tak butuh waktu lama, supir taksi saya berhasil memberhentikan satu taksi kosong. Saya pun mengucap selamat tinggal. “Sampai bertemu lagi ya,” kata Dita. We’ll never know.. 🙂 #RR

Hari Jumat (02/03) kala itu terasa menjemukan. Bukan karena gak ada kerjaan sama sekali, justru banyak. Pagi-pagi sudah harus berkutat dengan menelpon para pemenang quiz di tempat saya bekerja, dan saya pun harus berhadapan beberapa kali dengan para goodie-bag-and-quiz hunter. Well, never mind.

Di penghujung minggu sebelum weekend itu, saya memutuskan untuk pulang cepat, sekitar jam 17.45. Mood kerja sudah tak ada, ditambah lagi saya tidak mau sampai ketinggalan nonton rerun serial The Walking Dead Season 2.

Di perjalanan pulang naik bus Kopaja yang mengarah ke Kasablanka dari Kuningan, saya diberikan tempat duduk oleh seorang pria. Saya pun duduk, di bangku sebelah seorang nenek. Beliau berdiri, memberikan saya jalan supaya saya bisa duduk di bangku dekat jendela. Saya pun akhirnya duduk.

Tiba-tiba nenek tersebut berkata, “neng, mau beli kue lapis gak?”. Di situ saya berpikir agak lama. Maklum, saya seringkali berhadapan dengan orang jahat di jalanan, khususnya di dalam bus. Bukan salah saya kalau saya cepat curiga, tidak terkecuali terhadap seorang nenek.

Nenek itu kembali bertanya kepada saya, “neng, mau kue lapis gak?” Kali ini beliau tidak hanya bertanya, namun juga membuka tasnya dan memperlihatkan kue lapis–yang ternyata lapis legit kepada saya. Beliau jual satuan seharga Rp20.000, untuk kue lapis legit yang tidak besar. Ya, relatif mahal memang. Penyakit kebanyaka manusia kota sekarang tuh. Beli baju seharga Rp200.000 gak pakai mikir, bahkan tiket konser yang harganya rata-rata di atas Rp400.000 pun juga gak pakai mikir, bahkan ada yang bela-belain berhutang dulu, baik kepada orang maupun kepada kartu kredit. Malu dong sama nenek itu..

Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli satu lapis legitnya. Ini bentuknya:

Img_0953

Tidak hanya menawarkan kepada saya, ternyata nenek tersebut juga menawarkannya kepada penumpang lain, yang berdiri di dekatnya. Kebanyakan sih menolak. Mungkin pemikiran mereka seperti pemikiran awal saya. Dan mungkin ribet juga untuk ‘bertransaksi’ dengan posisi mereka yang berdiri dan kondisi bus sendiri juga berdesakan.

Saya pun iseng bertanya.

“Bu, dari mana?”

“Dari Citayam”.

“Errr, itu daerah mana, bu?” 

“Deket Bogor, neng..”

“Jualannya di mana, bu?”

“Di Pasfest. Jauh neng saya jualannya. Pulang-pergi. Naik bus ke lewat Manggarai dulu…”

“Sehari jualannya berapa banyak?”

“Gak tentu..”

“Kalo jualan, lapis legitnya laku semua?”

“Kalo lagi rezeki sih laku semua, kalau enggak ya mau bagaimana..”

Saya kembali memperhatikan jalan, dan ternyata 10 meter di depan sudah Pasar Festival. Saya pun segera bilang ke nenek tersebut kalau sudah mau sampai. Beliau pun mengucapkan terima kasih dan segera turun dengan tergopoh-gopoh.

Terharu. Sisa kesal dalam diri saya semua hilang saat itu juga. Ya, orang-orang seperti mereka seolah ditugaskan untuk menyadarkan kita, bahwa kondisi kita tidaklah seburuk mereka. Mereka selalu mengingatkan kita untuk terus bersyukur, dan untuk tidak selalu melihat ke atas. Pegel juga kan?

Anyway, perjalanan yang saya perkirakan akan memakan waktu paling sebentar 2 jam, ternyata hanya saya tempuh dalam waktu 1 jam 15 menit. Terhitung cepat untuk jarak Kuningan – Pondok Gede dengan naik kendaraan umum. Tidak ada kemacetan yang signifikan, dan saya pun juga tidak kesulitan mencari angkutan umum.

Ketika saya sampai rumah, saya langsung menceritakan pertemuan saya. Mereka hanya bilang ke saya untuk lebih berhati-hati, karena modus penipuan sekarang sangat kreatif dan penuh dramatisasi. Inspirasinya dari tayangan sinetron, sepertinya…

Well, saya juga tidak bisa menyalahkan orang rumah saya yang mengingatkan seperti itu.

Dan untuk nenek penjual lapis legit teman perjalanan singkat saya di hari Jumat sore lalu, semoga Tuhan selalu memberkatimu… #RR