Archive

Monthly Archives: February 2012

Suatu siang Gareth Evans, sutradara asal Wales yang membesut dua film laga sukses Merantau dan The Raid: Redemption, menyempatkan diri datang ke kantor untuk sesi foto dan interview. Saya pikir orangnya baik, ternyata dia sangat baik! Well, it’s my pleasure to meet you, Gareth!

Dengan_gareth_evans

Look at the photo! Di situ Anda bisa lihat betapa kecilnya saya foto berdampingan dengan Gareth. Harusnya waktu itu saya pakai heels, atau bela-belain jinjit.. (Kiri ke kanan: Bimo, ME!, Gareth, Cides) #RR

Advertisements
large_6473061057

Foto: Photo Pin

Beberapa hari yang lalu, sambil potong kuku saya yang sudah gondrong, saya mengobrol dengan teman kantor yang bernama…….. Ah, sebut saja namanya Saepul, panggilan: Ipul. 

Lumayan banyak yang diobrolin. Mulai dari futsal, olahraga singkat untuk perut rata, masa-masa pacaran (dia) dulu waktu belum kawin, jilbab, sampai agama. Yang paling menarik, tentu saja tentang pacaran dia dulu, khususnya cara mereka berkomunikasi satu sama lain.

Ipul cerita sampai akhirnya mereka mencapai jenjang perkawinan, mereka sudah berpacaran kurang lebih selama 10 tahun, mulai tahun 1996. Eh, BTW, jangan koreksi saya untuk bilang ‘nikah’ daripada ‘kawin’ karena UU pun namanya UU Perkawinan, bukan UU Pernikahan. 

Cukup. Kembali ke topik.

Di masa pacaran, Ipul bercerita bahwa dia pernah merasakan Long Distance Relationship a.k.a LDR. Pastinya gak menyenangkan ya jauh-jauhan dari pacar. Yang satu di Jakarta dan yang satu lagi di Bandung. Susahnya lagi, dulu kan HP belum sepopuler sekarang. Telepon interlokal pun seringnya lewat telepon umum, atau wartel. Tentunya gak bisa berlama-lama dong ya..

Tidak kehabisan akal, Ipul menggunakan media komunikasi yang sudah ada dari zaman batu dulu: surat-menyurat. Well, it surprised me. Bayangin deg-degannya nunggu balasan, nunggu pak pos di teras rumah, I never had that experience. Kalo deg-degan nungguin gaji yang gak muncul-muncul sih, sering. 

Cukup. Kembali lagi ke topik. 

Katanya lagi, yang menyenangkan dari surat-menyurat, adalah pesannya yang tersirat. Jadi begini, ketika pacarnya si Ipul lagi marah, kertas suratnya terlihat lecek, kusut, bekas diremas-remas. Lain halnya ketika sedang senang, kertas suratnya berhias dan kadang wangi. 

Ipul bilang, kalau surat sudah dikirim, biasanya mereka saling mengabari. “Eh, aku udah kirim suratnya lho,” kata masing-masing.

Setelah kurang lebih 6 tahun mereka saling surat-menyurat, komunikasi mereka pun naik ke level berikutnya. Dari yang sebelumnya cuma kirim tulisan tangan (atau mungkin juga cap bibir?), mereka saling kirim suara yang direkam lewat kaset. WOW!

Sayang, komunikasi ini tidak berlangsung lama. Ipul bilang dia hanya simpan 3 kaset.

Lalu, selanjutnya, gaya komunikasi mereka naik level lagi: kirim wesel! 

Bercanda. 

Setelah itu, komunikasi mereka perlahan sudah seperti masa-masa sekarang, dengan bantuan teknologi yang bernama ponsel. SMS-an, telpon-telponan. Sampai akhirnya mereka menikah…

I must say that I’m kinda jealous with their situation. Bayangin, pacaran masih surat-suratan dan saling kirim kaset berisi rekaman suara masing-masing. That’s sweet. Dan apa yang mereka lakukan dulu, bisa mereka nikmati sampai tua nanti. Kalau lagi kesal, marah, atau jenuh misalnya, baca surat-surat dan dengar rekaman suara mungkin bisa membuat mereka tersenyum kembali..

Saya, bukan orang yang tahan dengan LDR. Tapi ketika mendengar teman saya cerita ini, saya langsung berubah pikiran. Tidak pernah seumur hidup saya menganggap LDR bisa begitu menyenangkan! 🙂 #RR

Banyak Perbedaan, Satu Tujuan

Ya, itulah tagline serial Tim Bui, sebuah film seri yang bercerita tentang bagaimana sepak bola dapat menjadi pemersatu dalam lingkungan lapas.

Ketika membaca sinopsis di press release-nya, saya langsung teringat 3 judul film sekaligus: Escape To Victory (1981), The Longest Yard (1974, 2005), dan Death Race (2008). Tidak mirip persis, tapi ada beberapa bagian yang mengingatkan saya akan ketiga film tersebut. Tapi, saya yakin tidak maksud sedikitpun untuk menjiplak. Hanya terinspirasi…

Anyway, Tim Bui bercerita tentang lapas (fiktif) Lawang Betung–yang dikenal dengan kekerasannya. Di dalam lapas, para narapidana digambarkan terbagi dua kelompok, dan dua-duanya saling memperebutkan tempat pertama untuk dijadikan penguasa. Karena itulah bentrokan sering terjadi. Belum lagi penanganan sipir yang bertugas adalah dengan kekerasan. Dan kalau ada sipir yang ‘jahat’, ada pula sipir yang baik, yang ingin segera menghentikan konflik yang dapat menyebabkan tindak kekerasan baik antar sesama narapidana maupun antara narapidana dan petugas.

Film ini menggambarkan kepada kita bentuk dari sebuah toleransi, menerima dan mengerti perbedaan, dan berjuang untuk mencapai satu tujuan. Konsep brilian yang sudah jarang sekali saya lihat wara-wiri di televisi. Kecuali di tanggal-tanggal tertentu seperti Hari Pahlawan dan Hari Kemerdekaan ya..

Bayangkan, isi lapas yang terdiri dari para penjahat dengan berbagai latar belakang, mulai dari perampok, pemerkosa, teroris, dll., yang kesemuanya itu harus disatukan untuk mencapai satu tujuan dengan sepak bola.

Selain itu, saya juga suka dengan peran wanita sebagai kepala lapas. Ya, film ini penting untuk dilihat kaum wanita. Ya, kenyataannya sampai sekarang wanita masih kurang percaya diri atau juga masih dianggap remeh para pria jika ada dalam posisi sebagai decision maker.

Dalam serial, khususnya Indonesia, tidak afdhol rasanya kalau tidak ada bumbu drama. Tapi di serial ini, jangan harap drama yang Anda dapatkan adalah kisah cinta kacangan atau kisah cinta yang menjual mimpi. Saya suka dengan ide bumbu cinta antara janda dan duda. Kalau kata sang sutradara, Sugeng Wahyudi, “Sinetron Indonesia jarang memberi ruang untuk percintaan di usia 30-45 tahun”. Setuju mas!

Saya juga suka dengan karakter yang tidak digambarkan terlalu ganteng atau terlalu cantik. Rasanya terasa lebih natural dan tidak terkesan ‘maksa’. Film dengan konsep kuat tidak perlu lah dibintangi oleh artis-artis beken masa kini….

Ah, yang cukup menjadi kejutan untuk saya adalah keterlibatan Slank dalam serial ini. Mereka khusus membuat lagu theme song yang berjudul Punya Cinta yang diciptakan oleh Bimbim. Dan selalu, tipikal Slank, lagunya tidak hanya asik namun juga punya pesan kuat. Pesan kuatnya? Apalagi kalau bukan anti korupsi!

Durasi film yang saya tonton (tanpa iklan ini kurang lebih 30 menit). Saya punya kriteria sendiri menentukan sebuah film bagus atau tidak, yaitu apakah ketika film berlangsung saya melihat jam atau tidak. Dan saya tidak melakukannya, kecuali lihat BB karena sibuk mencatat apa yang akan saya twit. 😀

Last but not least, it’s good series to watch. Please, guys, don’t miss it. Serial ini bisa Anda saksikan setiap hari Minggu mulai tanggal 19 Februari 2012, pukul 13.30-14.00 WIB di Metro TV, dengan total 13 episode. #RR

Poster-tim-bui_res-1

Saya tidak takut dengan kecoak. Lebih tepatnya adalah jijik dan geli. Baunya menjijikkan, dan buruknya, mereka dianugerahi kemampuan untuk terbang. Kalau lihat bawaannya pengen langsung bunuh.

OK, cukup, back to the point. Suatu malam, saya lihat ada kecoak di lantai. Refleks saya adalah naik ke atas bangku. Biasanya, kalau ada papah, dia akan langsung menginjak kecoak tersebut dengan sandal yang beliau pakai. Tapi ternyata, itu bukan cara yang tepat untuk pacar saya.

Nah, bagaimana pacar saya meng-handle kecoak? Saya cukup kaget. Pertama, dia berusaha menangkap kecoak tersebut, dengan tangannya! Lalu saya ketika saya kira kecoak tersebut akan dibunuh atau apa, ternyata dia membawanya ke halaman belakang dan membuangnya (baca: membiarkan kecoak tersebut hidup bebas).

Wow. Jadi kesimpulannya, seseorang tidak hanya dinilai gentleman dari sikapnya terhadap perempuan saja, tapi juga sikapnya pada kecoak. Eeeksss! #RR

Img_0805

Yap, kalau dilihat samar memang seperti tangan yang dikerubungi sekompi lebah. But it’s not. Ini adalah aksesoris dari Aarti, hasil pinjeman untuk pemotretan beauty spread teman saya. Pinjam buat gegayaan boleh dong ya. Apalagi muka saya juga gak ada… #RR

Pertama, saya mau buat pengakuan. Hari ini, tanggal 02 Februari 2012, di peringatan tahun pertamanya, saya baru pertama kali menjejakkan kaki di Roppan, sekaligus juga di Gandaria City. Sekali mendayung, dua tempat terkunjungi!

Anyway, sependengaran saya dulu, Roppan terkenal dengan sajian dari roti-rotinya. Not a big fan of bread, makanya saya tidak tertarik untuk ke sana. Sampai akhirnya saya baru tau tadi, kalau mereka juga punya menu nasi. Saya lupa apa menu yang tadi saya makan, bentuknya berupa nasi kehijauan + semacam keripik kentang + semacam chicken katsu + sambal + teri kacang cabai. Rasanya? Enak.

Untuk minuman, saya pesan teh tarik panas. Rasanya? Enak. Mungkin rasa enak itu muncul karena saya lihat sendiri si bartender membuat teh tarik saya.

Lalu sebagai makanan penutup, saya diberikan menu roti, pakai es krim vanilla, atasnya dilumuri coklat, dan pisang caramel. Rasanya? Cukup enak. Told you before, I’m not a fan of anything related to bread. Tapi saya cukup suka dengan rasanya yang pas, tidak terlalu manis.

Selain makanan, saya juga suka ambience Roppan di Gandaria City. Luas, dan punya outdoor area. Konsep open kitchen-nya juga oke. So, happy 1st anniversary, Roppan! Keep toasting! 8) #RR

Img_0831

Ket: menu nasi yang saya bicarakan di atas

Img_0847

Ket: menu roti yang di saya bicarakan di atas

Img_0840

Ket: pembuatan menu roti seperti yang bicarakan di atas. Itu pisang karamelnya lagi dibakar.

Img_0852

Ket: pembuatan teh tarik. Itu asap ya, bukan penampakan.