Archive

Monthly Archives: January 2012

Hari ini, 26 Januari 2012, saya datang ke acara launching buku Direction In Photography karya Aryono Huboyo Djati, dimana beliau berbagi tentang pengalamannya di bidang fotografi, sekaligus ‘diary’ persahabatan antara dirinya dan Atalarik Syach. Ya, artis itu, pemeran Pak Prabu itu. Saya pribadi gak tau siapa itu Aryono, sampai akhirnya di acara itu saya tau beliau itu adalah salah satu fotografer senior Indonesia, dan klien-kliennya adalah Presiden (SBY), Wapres (saat itu, JK), menteri-menteri, pejabat-pejabat, dll. And me at that time like, “Oh, OK”.

Maklum, saya kan asing dengan dunia fotografi..

Saya juga baru tau kalau Aryono Huboyo Jati adalah pencipta lagu Burung Camar (yang dipopulerkan Mama Ina) dan juga single terakhir (alm) Chrisye, yang berjudul Lirih. And me at that time like, “Oh, WOW”.

Maklum juga, saya kan jarang memperhatikan pencipta lagu..

Di acara itu, Aryono ‘memamerkan’ karya-karyanya. Banyak sekali. Dan semuanya, tentunya bagus. Saya baru tau juga, katanya, sepanjang motret beliau tidak pernah memakai lampu untuk bantuan pencahayaan. Beliau hanya mengeksplorasi cahaya yang sudah ada, dan memainkan pantulan-pantulan cahaya tersebut. And me at that time like, “Oh, EXPERT”.

Begitulah. Sampai akhirnya Aryono diminta untuk bermain piano, melantunkan lagu Burung Camar. Di sana, dia hanya memainkan bagian awal reff sebentar. Lalu sang MC pun memintanya untuk meneruskan. Aryono bilang: “waduh, tidak ada acara main piano nih di rundown”. Namun akhirnya beliau duduk, dan mulai bermain lagi. Sayup-sayup ada suara pria yang mulai menyanyikan Burung Camar, dan semua penonton pun menoleh ke belakang. It’s him, Atalarik. Melangkah ke depan panggung sambil bernyayi. Suara gemeteran, dan banyak lupa lirik. And me at that time like, “Oh, ACTING”.

Jadi ya begitulah, akhirnya Aryono mengiringi Atalarik sampai lagu habis. Acara pun dilanjutkan dengan cerita-cerita dari keduanya, dan tentunya sesi tanya jawab. Sebenarnya ada 2 selebriti lagi dari Sinemart, tapi saya kurang ngerti apa yang sebenarnya mereka lakukan di sana. I forgot the name, one girl and one guy. Mereka cuma diminta testimoni seputar buku, and that’s it. 

Ah ya, kembali ke buku. Saya harus mengakui, setelah melihat slide dari foto-fotonya mas Aryono, saya mengacungkan 2 jempol, walaupun saya belum berkesempatan baca (dan beli) bukunya.. Dan yang terpenting, Atalarik terlihat bagus sekali dalam jepretan-jepretannya.. 

Img_0839

Ket foto: Ini waktu Atalarik nyanyi Burung Camar (tinggi melayang)…

Img_0849

Ket foto: (kiri ke kanan) Atalarik, Aryono, Huboyo Djati, artis 1, artis 2

Info: Buku keluaran Gramedia ini sudah bisa Anda beli di toko buku terdekat, dengan harga (kalau tidak salah) Rp99.000,- #RR

Advertisements

Di hampir semua negara, umur masih jadi patokan utama seseorang untuk menikah. Idealnya, sih, umur 25 tahun, baik pria dan (khususnya) wanita dianggap sudah memiliki kematangan dari segi fisik maupun mental. Umur saya 25 tahun, dan wajar banyak banget orang dengan mulut-mulit bawel yang nanya “kapan kawin?” atau nyuruh saya nyusul teman saya yang udah kawin. Dalam hati mikir: kenapa orang ini ngajak-ngajak terus ya? Pasti nikah itu gak enak. Hmm..

Anyway, US Censes Bureau melaporkan bahwa perempuan Amerika menikah mayoritas adalah usia 27 dan 29 tahun. Dan sama juga halnya dengan di Indonesia, banyak orang yang punya target menikah di usia muda, dan ketakutan kalau masih single di atas 25 tahun karena merasa akan dianggap perawan tua. Biasanya, di usia segitu banyak wanita yang ‘panik’, dan tak jarang melakukan hal-hal yang kekanakan.

Misalnya saja, seperti memutuskan kekasih mereka yang belum juga melamar wanita tersebut dan memilih untuk mencari pria lain yang mau menikahinya, segera. Padahal, belum melamar bukan berarti tidak akan melamar kan? Gimana kalau memang si pria belum merasa siap dan memikirkan hal-hal seperti rumah, kondisi ekonomi di masa depan, dan lain sebagainya.

Lalu alasan untuk menikah cepat-cepat karena faktor anak, yang lebih pada anggapan: “gue mau nikah muda karena gue mau usia gue dan anak gue gak terlalu jauh..” Well, saya tidak melihat apakah perbedaan usia jauh atau dekat bisa mempengaruhi kedekatan anak dan orangtua. Itu adalah hal yang diukur secara pasti. Asal si orangtua punya jiwa muda (seperti saya), saya pikir untuk bisa dekat dan kompak dengan anak bukan suatu hal yang mustahil..

Ada juga yang mau cepat-cepat menikah karena teman se-genk-nya sudah semua menikah. Yah, situ kira mentang-mentang se-genk, harus kompak nikah juga?! Konyol. Dan konyolnya lagi, wanita yang merasa terbebani oleh lingkungan sekitar ini bisa melakukan apa saja untuk melepaskan masa lajangnya. Bahkan, sampai merebut pacar orang. Well, don’t ask me! Atau ada juga beberapa wanita yang rela dijodohkan! Tidak jarang, sih, berhasil, tapi tidak jarang juga banyak yang gagal di tengah jalan.

Jadi, ya sudahlah, gak usah buru-buru kawin. Tapi, target itu harus tetap ada, khususnya untuk Anda yang sudah punya pasangan. Tapi sekali lagi, kalau memang salah satu belum siap menikah, bukan berarti Anda harus putus.. Menikah itu kan butuh kesiapan dua belah pihak, bukan karena usia, dorongan dari keluarga dan teman, atau hanya ingin mendapatkan status dan dianggap dewasa.

Kalau ada yang tanya ke saya, apakah saya siap untuk menikah, saya akan jawab……. #RR

Lips

Foto: www.beautysaloon.wordpress.com

Yang namanya ketagihan sesuatu, pastinya gak bagus dan berbahaya. Dan ketagihan yang saya rasakan ini tak kalah berbahayanya dengan ketagihan terhadap obat-obatan terlarang. Ah, masa? He’eh! Dan saya sekarang berteriak dalam tulisan: SAYA HARUS ‘SEMBUH’!! Umm, sembuh dari?

  • Kebiasaan ngopekin kulit bibir, khususnya ketika kering. Yap, percaya atau enggak, kebiasaan ini sudah ada sejak saya masih kecil, anggap saja sejak saya duduk di bangku SD. Alasan? Entah. Awalnya, kebiasaan buruk ini muncul hanya ketika bibir saya sedang kering saja, namun lama kelamaan, secara otomatis, ketika saya tidak di tengah-tengah suatu aktivitas, jari-jari ini tanpa sadar sudah menelusuri kulit bibir, dan menguliti apa yang bisa dikuliti. Eeww. Respon ibu saya ketika saya mulai ngopekin bibir, dia bilang, “kopek teruuuuuuuusssss!”. Yeah, she hates it, until now. Saya akui, sulit sekali menyetop kebiasaan jelek ini. Bukan karena gak enak dipandang dan berefek negatif ke bibir, tapi banyak orang ketika mergokin saya ngopekin bibir, mereka justru bilang: “ih, ngupil ya?!!” Bukaaaaan, are you blind?!!! Anyway. Saya punya prinsip begini: kenikmatan dari ngopekin bibir adalah ketika saya merasakan perih yang rasanya seperti luka dan berdarah, namun kenyataannya tidak. Nah, I just make myself look like a freak. But that’s the fact. Tapi bukan berarti saya tidak mau berhenti dari kebiasaan ini… Karena gerak jari tidak selalu bisa saya kontrol, langkah yang saya ambil adalah dengan minum/makan apapun yang mengandung vitamin C. Dengan begitu, kalau bibir gak kering, maka lama-lama jari-jari ini pun akan berhenti mencari kulit kering di bibir… Semoga berhasil!
  • Keinginan untuk mengonsumsi mie ayam setiap hari. Gak bohong, saya itu benar-benar murahan kalau menyangkut mie ayam. Saya rasa saya bisa makan mie ayam 3x sehari, setiap harinya–walaupun kenyataannya, sih, belum pernah. Kebiasaan ini gak bagus karena beberapa mie ayam tidak dibuat langsung, yang berarti punya efek buruk seperti mie instan. Dan gak bagus juga ya untuk dompet kalau setiap hari beli mie ayam terus….
  • Kalau haus, yang ada di kepala saya adalah: Teh Kotak! Kebiasaan ini bisa dibilang baru, kurang lebih satu tahun. Setiap hari kalau ke mini market dan mau beli minum, pasti beli teh kemasan ini. Kalaupun kepikiran untuk beli yang lain, ujung-ujungnya yang akan saya ambil ya Teh Kotak. Beberapa teman kantor sudah mengingatkan kalau minuman kemasan ini tidak bagus diminum sering-sering, apalagi setiap hari. Noted! Gotta stop it immediately!

Yes, saya tengah berjuang (halah) untuk mengurangi kebiasaan-kebiasaan di atas, khususnya poin pertama dan ketiga. Do you think I’ll succeed? #RR

Lihat apa yang dilakukan oleh kartunis asal Belanda, Mike Frederiqo?! Spongebob Squarepants di-make over menjadi mirip beberapa desainer seperti Karl Lagerfeld, Coco Chanel, dan Marc Jacobs. You’ll love this yellow creature even more!

Spongekarl

Sooo Karl! Lengkap dengan miniatur Steiff si beruang dan boneka Spongebob yang pernah di-make over olehnya untuk acara lelang WWF (gambar boneka di bawah) pada tahun 2009.

Spongekarl_1
Spongechanel

Dari signature-nya (monokrom dan kalung mutiara), sudah jelas menjadi siapa Spongebob di gambar atas. Yap, Coco Chanel!

Marc-sponge

And this is Marc Jacobs-Squarepants, covered in tattoos… 

Sumber: http://www.stylist.co.uk/fashion/sponge-bob-squarepants-goes-fashionhttp://www.thelifefiles.com/2009/11/30/karl-lagerfeld-presents-spongebob-karl-pants/

Suatu siang, saya mendatangi butik desainer muda berbakat Albert Yanuar yang ada di kawasan Kelapa Gading untuk sesi wawancara. Sempat ada kekhawatiran bahwa saya tidak akan bisa mengimbangi karena yang ada di pikiran saya seorang desainer identik dengan ‘pedas’. Belum lagi pengetahuan saya tentang fashion yang tidak seberapa.

Anyway, alasan saya mewawancara Albert adalah, bahwa dia baru saja memenangkan Lomba Perancang Mode Entrepreneur Award (LPM EA)–yang hadiahnya adalah beasiswa kursus di sekolah desain Istituto Marangoni, Italia. LPM EA ini memang sebuah ajang khusus untuk para alumni LPM, yang dinilai oleh beberapa juri internal dan eksternal. Albert berhasil mengalahkan beberapa nama seperti Hian Tjen dan Jeffry Tan.

Have to admit, ini salah satu wawancara favorit saya karena beberapa kali saya meneteskan air mata mendengar perjalanan hidup Albert, yang memang memulai segalanya dari nol. Dan seperti judulnya, he’s been through hell..

————-

Kalau lihat desain baju-baju Anda seperti ada pancaran femininitas dan romantisme yang cukup kuat. Apakah itu memang karakter asli dalam diri Albert?

Not really. Karya-karya saya yang dilihat kebanyakan adalah berdasarkan permintaan klien. Saya yang sebenarnya adalah feminin, kuat, dan berstruktur. Tidak mau edgy di luar avant garde, namun lebih suka ke edgy yang tetep wearable dan punya kesan unik.

Saya mau wanita tetap tampil sebagaimana layaknya seorang wanita, tapi dengan kekuatan. Bukan hanya terlihat lemah gemulai dengan terlalu banyak chiffony dress. Saya mau wanita terlihat fierce, punya signature look, feminin tapi sekaligus punya karakter yang kuat. Makanya desain saya selalu bermain dengan struktur dan ada garis-garis kuat. Bukan yang terlalu melambai. Someday, saya juga mau memasukkan unsur lukisan ke dalam desain saya. Yap, I want to put art on my dress..

Koleksi-koleksi kemarin laku di JFW?

Sebenarnya agak susah jual baju show karena ukurannya XXS ya. Jadi, kebanyakan bikin baru lagi atau modifikasi warna.

Apa kendala terbesar dalam persiapan JFW kemarin?

JFW kan bulan November, dan saat itu saya sedang padat-padatnya pesanan baju untuk beberapa acara, terbanyak adalah gaun pernikahan. Jadi mau tidak mau saya dituntut untuk menyelesaikannya secepat mungkin. Tidak ada masalah lain, hanya manajemen waktu saja untuk menyelesaikan pesanan klien dan 10 baju untuk JFW.

Selamat ya berhasil menang LPM EA! Waktu penjurian, apakah Anda yakin menang dalam besaing dengan Hian Tjen dan Jeffry Tan?

Terima kasih… Kalau melihat dari kandidat finalis, saya melihat Jeffry punya potensi besar untuk menang. Baju-bajunya prêt a porter, bahasa Inggris-nya bagus, dll. Tapi mungkin ada poin-poin khusus yang saya bisa saya banggakan–yaitu bahwa saya memulai ini semua dari nol.

Saya pikir Anda berasal dari keluarga berada seperti kebanyakan desainer lain…. 

Ya, dulunya saya memang dari keluarga berada, sebelum akhirnya usaha keluarga bangkrut. Saya pun yang tadinya berkecukupan jadi merasakan kondisi yang serba kekurangan. Tapi bagaimanapun juga, saya harus tetap bekerja, sekaligus berusaha membiayai kuliah adik saya. 

Memangnya dulu usaha di bidang apa?

Dulu orangtua usaha pabrik sirup. Karena terjadi krismon, penjualan menurun drastis. Akhirnya usaha keluarga kami gulung tikar dan meninggalkan hutang di mana-mana. Kami menjual rumah, mobil, dan barang-barang lain. Saya juga pernah merasakan dikejar-kejar preman! Sungguh bikin stres! Dari yang awalnya serba berkecukupan, kami akhirnya melarat. Ini semua terjadi di usia saya yang kalau tidak salah 17 atau 18 tahun. Untungnya, kuliah saya waktu itu di ESMOD sudah selesai! Kalau tidak saya mungkin akan frustasi bagaimana cara membiayai kuliah yang tidak murah..

Kalau lulus ESMOD usia 17 tahun, lalu masuk ESMOD-nya usia berapa??

Waktu itu, saya masuk ESMOD ketika usia saya 14 tahun. Harusnya, sih, usia segitu belum bisa karena masih terlalu muda, namun saya adalah pengecualian. Setelah menunjukkan beberapa portfolio dan lulus tes oleh guru-guru Perancis, akhirnya saya langsung diterima–setelah lulus SMP! Saya pun juga menunjukkan keseriusan saya, dan berhasil lulus di tahun ketiga saya berkuliah di sana. Tidak hanya itu, saya juga berhasil menjadi The Best Fashion Design–termuda di masa itu. 

Bangga! Lalu dari situ?

Dari situ saya direkrut desainer Sebastian Gunawan. Dua tahun saya menimba ilmu dan pengalaman dari beliau. Merasa cukup, akhirnya saya memutuskan untuk memulai karir saya sendiri.

Awalnya, saya membuatkan baju untuk sepupu saat ulang tahunnya yang ke-17. Tak disangka, temannya ada yang suka dan ikut pesan juga. Begitulah akhirnya menyebar dari mulut ke mulut. Dari (istilahnya) penjahit keliling sampai akhirnya saya bisa punya butik sendiri tempat dimana klien bisa langsung datang melihat koleksi-koleksi saya.

Jadi, apakah sejak itu Anda menjadi tulang punggung keluarga?

Ya, so far saya yang handle semua. Dan sekarang mama, papa, dan kakak sekarang gabung di sini (butik) mengurus manajemen, pembelian, dan keuangan. So it’s more like a family bussiness now..

Untuk survive dalam industri fashion, bohong kalau tidak membutuhkan modal besar. Bagaimana kamu mengumpulkan modal?

Pernah merasa terpuruk secara ekonomi somehow membuat saya menjadi lebih  kuat jadi punya kebiasaan menabung. Saya harus menyadari keadaan bahwa saya tidak seperti beberapa teman sesama desainer yang masih mendapatkan dukungan materi dari orangtua. Saya juga bukan seseorang yang gila belanja, dan membuang uang untuk hal-hal yang kurang penting. (sambil menunjukkan sneakers-nya) Lihat saja, saya ke mana-mana masih pakai sepatu ini. Ha ha ha. Dengan kondisi ekonomi saya sekarang, tidak membuat saya tergoda untuk berfoya-foya.

Pernah, saya ditegur oleh teman karena dianggap tidak berpenampilan seperti layaknya desainer pada umumnya. But for me, walaupun saya memang seorang desainer, tapi saya ingin impresi orang-orang lebih ke karya-karya dan pekerjaan saya. Tidak hanya idealis dengan desain yang saya buat, namun juga harus memikirkan daya jual dan strategi bisnis untuk bisa survive dan terus berkembang. 

Tell me about your childhood..

I’ve been through ‘hell’.. Ketika duduk di kelas 4 SD, saya divonis oleh seorang psikiater karena sifat minder saya. Saya minder bukan tanpa alasan. Waktu itu saya mendapat perlakuan tak pantas seperti ejekan, hinaan, bahkan saya merasa dikucilkan. Efeknya, saya bisa sampai 2 bulan tidak sekolah karena tidak tahan menghadapi ejekan dan takut dikucilkan. Karena itulah psikiater tersebut memvonis saya tidak akan bisa terjun ke masyarakat, dan parahnya, saya dianggap berpotensi mengidap gangguan kejiwaan. Ketika saya sedang stres-stresnya, dia pun memberikan saya beberapa macam obat penenang segepok lewat ibu saya–namun tak satu pun beliau pernah memberikannya kepada saya. Ibu saya lebih memilih untuk terus berdoa mendoakan saya dan itu berhasil. Look at me now..

Lalu apa yang kamu lakukan untuk mengalihkan pikiran dari teman-teman Anda yang sudah memperlakukanmu dengan begitu buruk?

Saya tetap bersosialisasi dengan teman, walaupun jumlahnya sedikit, mungkin 2 atau 3 orang saja. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, dan mengisinya dengan nonton acara televisi. Favorit saya, sih, kartun seperti Sailor Moon, Dragon Ball, dll. Dari situ saya mulai mendesain. Saya menggambar ulang figur mereka, namun saya mengubah tampilannya karena menurut saya membosankan. Dari situ awal cerita bagaimana saya jatuh cinta dengan fashion.

Pernah merasakan dendam terhadap orang-orang yang pernah jahat kepada Anda?

Pasti pernah. Tapi saya mengubah perasaan dendam itu menjadi sebuah motivasi untuk sukses. Saya juga sudah lama memaafkan mereka, dan ada bilang kalau mereka bangga dengan prestasi saya. Inilah cara saya untuk mengubah sesuatu yang negatif menjadi positif. Saya dihadapkan pada pilihan, apakah mau tetap terpuruk atau berubah menjadi seorang pemenang–at least untuk diri sendiri..

Sudah kurang lebih 6 tahun berkarir, apa sih kepuasan yang Anda rasakan dari pekerjaan Anda ini?

Lebih ke bentuk penghargaan orang-orang terhadap karya saya. Tidak sedikit klien yang memakai baju saya menelepon khusus untuk berterima kasih dan mengaku jadi merasa lebih cantik dengan baju buatan saya. Klien saya tidak semuanya punya tubuh bak model. Ada juga yang ukurannya L atau XL. Itu adalah tantangan tersendiri untuk saya, ketika saya bisa membuat mereka merasa lebih cantik, beda, dan stunning dengan desain saya–apalagi di hari pernikahan mereka. Suatu kebanggaan tersendiri.. 

Dari sekian banyak prestasi yang pernah Anda dapatkan, apa yang paling Anda banggakan?

Tujuan hidup saya bukanlah sekedar menjadi kaya raya. Yang lebih saya inginkan adalah bagaimana keluarga, teman, dan orang-orang terdekat bisa merasakan kebahagiaan dan kesuksesan yang saya rasakan, whatever it is.. 

Next project?

Selain masih disibukkan dengan 3 lini yang saya miliki, yaitu Albert Yanuar (gaun pengantin dan gaun pesta), Algarry by Albert Yanuar (gaun-gaun yang ready-to-wear), dan Albert Yanuar Uniform. Fokus itu dulu saja. Bikin label itu ternyata sulit, dan saya tidak mau aji mumpung dan mengerjakan banyak hal sekaligus. 

Anda terkenal dengan 4 Sekawan, yaitu Hian Tjen, Imelda Kartini, Tex Saverio, dan Anda sendiri. Kepikiran untuk kolaborasi tidak?

Ha ha ha. Sepertinya tidak mungkin ya, apalagi dengan adanya karakter Rio (Tex Saverio) di sana. Saya tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa gaun karya kami nantinya. Kolaborasi kami lebih ke dalam show saja. Tiap tahun kamu selalu punya show bersama.. 

Ingin menambah karir di luar bidang fashion?

Hmmm, tidak ada bayangan sama sekali. Tapi, dari pengalaman hidup yang pernah saya alami, saya ingin bisa sharing ke anak-anak muda sekarang. Bisa dibilang semacam motivator. I’ve been through hell, dan saya ingin berbagi dengan mereka supaya menginspirasi mereka untuk tetap maju. Di Facebook, banyak juga yang suka curhat tentang kehidupan mereka. Saya coba untuk mendengarkan dan memberi saran pada mereka. Senang rasanya bisa membantu..

Saya ingin memberikan efek pada dunia! Tidak perlu yang jauh-jauh seperti jadi duta PBB atau yang semacamnya. Saya melihat banyak orang-orang yang usianya masih muda tapi putus asa. Saya ingin mereka punya second hope atau second chance.

Tertarik juga untuk menulis, tapi lebih seperti sebuah surat untuk orang-orang yang punya mimpi besar dan berani mengambil kesempatan bahkan kesempatan kedua untuk meraihnya.

Bagaimana proses Anda mendesain?

Tiap desainer punya cara yang berbeda. Misalnya saja Rio, dia tidak bisa membuat sketsa tapi dia menata langsung bajunya via manekin. Saya biasanya bikin mood board, lalu mematangkan konsep, dan membuat sketsa serta uji coba bahan-bahannya. Sangat sistematis.

Saya ini punya kecenderungan OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Ha ha ha. Dulunya parah banget! Menyusun majalah di meja saja bisa menghabiskan waktu sampai 30 menit. Sekarang sih tidak terlalu parah ya..

But OCD isn’t a big problem, right?

Memang, but sometimes it’s killing me! Saya selalu membuat jadwal apa saja yang harus saya kerjakan setiap harinya. Kalau misalnya ada kendala seperti ngaret atau gimana, saya bisa panik setengah mati! Ha ha ha..

Mungkin saja keteraturan kamu ini menjadi faktor penting yang membuat kamu juara LPM EA…

Mungkin ya.. Ketika nama saya dipanggil untuk penyerahan piala, saya tidak percaya sama sekali. Karena saya pikir Jeffy Tan lah yang memenangkannya..  

Esensi kesuksesan untuk kamu itu apa, sih?

Yang pasti seorang desainer bisa dinilai sukses kalau gaunnya dipakai dalam acara red carpet atau yang semacamnya, apalagi dipakai orang tenama. Tapi itu relatif ya. Kembali lagi, kesuksesan itu adalah sesuatu yang tidak hanya bisa saya rasakan sendiri tapi juga orang-orang di sekitar saya.. 

What’s your happy place after your bad day?

Tidur. Ha ha ha. It’s my happy place. Ketika saya sedang merasa stres, saya lebih memilih untuk menyendiri, istirahat, dan tidur. Dan ketika bangun, rasanya seperti punya ide baru untuk menyelesaikan masalah-masalah itu.

Nantinya, Anda ingin dikenal sebagai Albert Yanuar yang seperti apa?

Tidak hanya seorang fashion designer, tapi karya-karya saya bisa memberikan pengaruh terhadap dunia. Saya percaya di dalam setiap gaun yang saya buat pasti mengandung sebuah cerita. So, yes, saya ingin karya-karya saya dikenal karena mengandung sebuah cerita di dalamnya. #RR

AY

Albert Yanuar with one of his designs, inspired by Mega Mendung pattern

Kadang berbagai liputan, informasi, dan interview yang pernah saya lakukan tidak selalu bisa masuk di media tempat saya bekerja, atau bahkan tidak masuk sama sekali karena keterbatasan tempat sebuah majalah bulanan. Karena itu saya ingin sekali berbagi di ‘rumah’ pribadi saya ini, apa saja yang saya dapatkan, tanpa batas. Karena sebenarnya banyak sekali fakta lain yang lebih menarik daripada tulisan yang tampak di muka umum. Beberapa interview sudah saya masukkan sebelumnya seperti interview saya dengan Dira Sugandi dan Idang Rasjidi. And, more to come!

Anggap saja, blog ini menjadi semacam penyimpan jaga-jaga kalau semua data saya menghilang. Toh flashdisk, laptop, hard disk eksternal punya potensi untuk rusak kan? 🙂