Suatu Petang Bersama Idang Rasjidi

Hari ini di petang hari, saya menghadiri press conference dengan salah satu musisi jazz ternama punya Indonesia, Idang Rasjidi, dalam acara Jazz Goes To Campus (JGTC). Di press conference yang aneh dan dihadiri oleh sedikit media yang kebanyakan pasif ini, tidak banyak yang mengajukan pertanyaan terhadap beliau. Sayang, seharusnya para media yang hadir memanfaatkan dengan maksimal waktu preskon singkat ini untuk bertanya kepada maestro yang sudah berkarir selama 41 tahun ini.

Anyway, karena saya bukan pecinta jazz, pertanyaan yang saya ajukan ke beliau tentunya tidak sok tahu yang membahas tentang musiknya. Yang saya tanyakan adalah: selama karirnya bermusik, audience macam apa yang paling beliau suka, dan juga perbandingan audience antara di Indonesia dan di luar negeri.

Jawaban beliau begini, langsung saya kutip yah..

Mau penontonnya 10 atau 100 orang, intinya tetap sama. Yang penting adalah kenyamanan bermain, dan tepuk tangan bagi saya bukan segalanya. Setiap audience menurut saya punya tantangan tersendiri. Mungkin jarang ya musisi yang pernah mengusir 1.200 orang penonton karena mereka melah mengobrol ketika kami sedang tampil—tapi saya pernah melakukannya. Lebih baik performance saya ditonton oleh 15 orang namun mereka mengerti musik daripada ribuan orang tapi mereka tidak mengerti sama sekali. Karena saya sudah banyak keliling dunia, saya bisa bilang kalau penonton luar negeri juga banyak yang kampungan kok. Namun, penonton luar negeri itu lebih fair. Kalau tidak suka ya mereka keluar. Sayang sekali keterusterangan macam ini di Indonesia belum ada. Masyarakatnya belum jujur. 

Beliau juga bilang bahwa orang Indonesia terlalu ‘musisi luar negeri’. Katanya…

Yah, kebanyakan orang Indonesia masih mental jongos. Musisi-musisi bule di sini sangat dipuja-puji sekali. Semua fasilitasnya bintang lima. Segala barang-barang juga dibawain. Padahal yang saya temui di beberapa festival di luar (negeri), selama barang-barang mereka bisa bawa sendiri ya mereka akan membawanya sendiri. Dan banyak hal-hal lain juga mereka urus sendiri. Orang Indonesia hebat dalam hal ramah tamah. Menghargai mereka sih boleh, tapi tidak usah terlalu terkesima..

Dari ungkapan beliau ini, saya jadi ingat beberapa waktu lalu, saya pernah mengurus acara Berlin Fashion Week dalam rangka Jakarta Fashion Week  (lagi-lagi JFW). Yah, sebagai panitia, pastinya saya berusaha membantu apa yang saya bisa. Namun mereka ternyata lebih banyak menolak karena mereka bisa melakukannya sendiri. Ini entah mereka memang bisa mengerjakan semua sendiri atau karena mereka tidak percaya ya… 😀

Kembali ke Idang Rasjidi, berikut beberapa kutipan singkat beliau:

Saya ini pianis. Tapi karena membawa piano itu berat, jadi keyboardis deh..

Saya suka dengan kesederhanaan yang mengalir begitu saja….

Nama saya memang besar, tapi aslinya saya tetap anak kampung.

Meskipun saya kurang ‘menyatu’ dengan musik jazz, tapi saya suka sekali dengan personality Idang Rasjidi. He’s so humble, and he must be loved by people around him! 🙂 #RR

And last but not least…

ir

What an honour to meet you, Sir!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: