Menikah bukan berarti segalanya…

“Pernikahan itu….,” pikir saya. Sepertinya pikiran ini adalah jenis pikiran yang gak habis-habis kalau dipikirin. Mungkin saya cuma mau meluruskan pandangan orang-orang yang sepertinya mengira saya ini anti-pernikahan. Jawabannya: tidak, saya tidak anti-pernikahan, dan suatu hari nanti saya pun ingin menikah. 

Ngomong-ngomong, kenapa sih saya harus freak out dengan menulis blog seperti ini. Here’s why. Tanggal 22 November lalu saya sempat twit seperti ini: 

Twit2

Lalu tiba-tiba saya mendapat mention dari teman saya seperti ini:

Twit1

Jawaban saya:

Twit3
Twit4

At that time, saya sih menanggapinya biasa-biasa saja. Namanya juga Twitter.. Sampai akhirnya teman saya yang lain bilang…

Twit5

Di situ saya berpikir lagi, perlukah saya seriusi, karena saya pikir teman saya pastinya juga tidak serius. Tapi lama-lama dipikir, ya sudah lah bahas aja sekalian. Mumpung lagi banyak banget undangan pernikahan nih. #eh

Usia 25 adalah usia yang dianggap ideal atau target mayoritas manusia–khususnya wanita–untuk menikah. Buktinya, di usia saya yang ke-25 ini, teman-teman saya sudah banyak sekali yang melangkahkan kaki dan duduk manis di pelaminan. Bahkan tiap minggu paling tidak ada 3 undangan yang harus dihadiri.

Di usia saya ini, saya sudah merasakan betapa senewennya saya dengan hal-hal berbau pernikahan. Bukannya saya iri ya dengan teman-teman saya yang sudah menikah, tapi lebih kepada pertanyaan paling menyebalkan sedunia: “kapan nyusul?” atau ajakan ‘paksa’ “makanya kawin dong!” atau pertanyaan dan ajakan sejenis.

Singkatnya, tujuan terbesar hidup saya bukanlah sebuah pernikahan. Kalau memang ketemu jodoh dan berjodoh untuk segera menikah–ya saya anggap itu adalah rezeki. Tapi kalau tidak, ya sudah. Saya tidak akan ngoyo untuk buru-buru cari pasangan, pura-pura hamil supaya dikawinin #abaikan, atau cari om-om yang sudah siap untuk menikah. Nope, hidup saya lebih berharga hanya untuk memikirkan pernikahan semata.

Saya lebih suka untuk menikmati apa yang ada, dan melakukannya dengan pelan tapi pasti. Jadi untuk yang doyan nanya ke saya kapan saya akan kawin (eh, jangan protes bilang yang bener adalah nikah ya, karena yang ada itu kan Undang-Undang Perkawinan, bukan Pernikahan!), saya akan jawab: “nunggu kamu udah gak bawel nanya-nanya lagi..” ;p

Sampai saat ini saya percaya jodoh tidak datang hanya karena berdasarkan umur, tapi juga kematangan dari masing-masing orang. Dan tingkat kematangan setiap orang pun jelas berbeda.. 🙂

Oh, ya. Dan menjawab ‘tuduhan’ teman saya yang bilang kalau saya anti-punya anak, kembali lagi saya harus membantah. Saya mau kok suatu hari punya anak. Saya tidak punya phobia terhadap anak, tapi saya punya ketakutan melahirkan seorang anak di dunia seperti ini. Maksudnya, banyak polusi, banyak penyakit dan wabah, gaya hidup yang tidak sehat, pendidikan yang membutuhkan biaya tinggi, dan lain sebagainya. Can I protect him/her? Well, the answer is……. “Kawin aja dulu Rur!” 😀 #RR

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: