Archive

Monthly Archives: December 2011

Saya mengaku kalau saya ini salah seorang Twitter junkie. Maksudnya, rasanya seperti gak pakai celana kalau sehari gak baca timeline. Tapi beberapa bulan belakangan, saya mulai bosan. Tetep sih buka timeline, tapi saya malas nge-twit, kecuali reply mention-an orang ya, itu juga seperlunya. Maaf, bukannya saya sok seleb nih, tapi memang ini sepertinya dampak dari kebosanan saya terhadap Twitter.

Seorang teman menyarankan saya harus follow beberapa akun baru, tapi sayangnya tidak banyak yang membuat saya tertarik. Malah, bukannya nambah following, tapi saya malahunfollow beberapa akun yang membosankan, akun-akun pelaku retweet abuser (baik multiple dan berjamaah), dan juga beberapa teman yang sebenernya gak temenan amat (plus isi twit-nya membosankan + gak penting).

Mungkin akan ada yang bilang, ribet/sok/nyinyir aja sih lo Rur, Twitter aja diseriusin. Ya, memang untuk masalah timeline saya tidak mau sembarang follow orang, apalagi cuma buat nunjukin teman saya banyak dari jumlah following saya. Saya mau timeline saya bersifat informatif dan inspiratif karena ini juga sedikit banyak menyangkut pekerjaan saya. Jadi saya sama sekali tidak tertarik dengan akun-akun seperti ini:

Doyan ngobrol dengan geng. Kalau Anda sama-sama pakai smartphone, kenapa gak pindah aja ke BBM/YM/Whatssap/else? Percaya deh. Orang-orang gak peduli dengan apa yang Anda obrolin. Terganggu iya karena menuh-menuhin timeline. Ujung-ujungnya di-unfollow, iya.

Udah doyan reply pakai retweet, suka twitlonger pula! Beberapa orang saya perhatikan gak ngerti-ngerti deh kalau pakai twitlonger itu bisa menyebabkan akun yang dituju kadang tidak terbaca karena sudah terpotong link twitlonger. So, it’s like you’re talking to yourself.

Curhatan kehidupan pribadi yang bersifat galau to the max, kecuali kalau Anda tenar. Sesekali mungkin gakpapa, tapi kalau keseringan….seriously, saya akan menganggap Anda pathetic.

Rajin retweet twit-twit pepatah, quotes, ngemengnya Mario Teguh dll, dengan frekuensi yang sering. Umm, anggap aja supaya orang bisa baca dan terispirasi. But then again, apakah pe-retweet itu melakukan nasihat-nasihat yang diretweet itu? Nope, I don’t think so. Karena besoknya pun pepatah/quotes dengan tema serupa pun lagi-lagi di-retweet. Oh, I see! Mungkin itu adalah cara supaya saya bisa mengenal Anda lebih dekat? Don’t worry, I won’t take any step closer to get to know you.

Keluhan/twit sarkas. Perlu dijelasin juga kenapa saya benci dengan personality akun-akun seperti ini? Apalagi kalau tau aslinya jauh dari sarkas.

Terlalu banyak twit kegiatan sehari-hari. Misal: “Off to go to the office!”, “Manasin mobil dulu di garasi ah..”, “Aduh, mobilnya ternyata kotor. Hihihihihi.”, “Gilak, jalanan bikin sutres!!”, “Aaaah, di radio ada lagu Lady Bala-Balau. Galauuuuuu..”, “Kapan sampek kantornya ini gue?!”, “Akhirnya sampe kantor juga, arrrghhh kerjaan banyak banget!”, etc etc. Well, saya beberapa kali mute akun2 seperti ini. Kenapa tidak unfollow, karena saya pikir kadang akun ini informatif, walaupun hampirnya sisanya tidak. Bahkan, ada yang suka twit aktivitas malamnya bersama sang suami. Terserah sih, but myself think it’s inappropriate. #RR

Advertisements
Img_0732

Teman baik saya yang sedang tinggal di Sydney, Australia, berbaik hati mengirimkan saya kartu pos. This is the 1st time someone send me a postcard. Dari sini, saya membiasakan diri untuk mengirimkan kartu pos saat saya berada di luar kota, begitu juga ketika teman yang sedang berada di luar kota saya minta dikirimkan kartu pos. I know it’s kinda stupid, but it’s fun! You should try.. #RR

Kalau ada yang bertanya apa motto saya, saya akan jawab….

Inside everyone is a frontier, waiting to be discovered.

Dan kalau ada yang bertanya lagi apakah ini karangan saya? Tentunya bukan. Ini adalah tagline dari film Dances With Wolves (1990). Dan jangan tanya (lagi) ke saya apa artinya ya. #RR

Hari ini di petang hari, saya menghadiri press conference dengan salah satu musisi jazz ternama punya Indonesia, Idang Rasjidi, dalam acara Jazz Goes To Campus (JGTC). Di press conference yang aneh dan dihadiri oleh sedikit media yang kebanyakan pasif ini, tidak banyak yang mengajukan pertanyaan terhadap beliau. Sayang, seharusnya para media yang hadir memanfaatkan dengan maksimal waktu preskon singkat ini untuk bertanya kepada maestro yang sudah berkarir selama 41 tahun ini.

Anyway, karena saya bukan pecinta jazz, pertanyaan yang saya ajukan ke beliau tentunya tidak sok tahu yang membahas tentang musiknya. Yang saya tanyakan adalah: selama karirnya bermusik, audience macam apa yang paling beliau suka, dan juga perbandingan audience antara di Indonesia dan di luar negeri.

Jawaban beliau begini, langsung saya kutip yah..

Mau penontonnya 10 atau 100 orang, intinya tetap sama. Yang penting adalah kenyamanan bermain, dan tepuk tangan bagi saya bukan segalanya. Setiap audience menurut saya punya tantangan tersendiri. Mungkin jarang ya musisi yang pernah mengusir 1.200 orang penonton karena mereka melah mengobrol ketika kami sedang tampil—tapi saya pernah melakukannya. Lebih baik performance saya ditonton oleh 15 orang namun mereka mengerti musik daripada ribuan orang tapi mereka tidak mengerti sama sekali. Karena saya sudah banyak keliling dunia, saya bisa bilang kalau penonton luar negeri juga banyak yang kampungan kok. Namun, penonton luar negeri itu lebih fair. Kalau tidak suka ya mereka keluar. Sayang sekali keterusterangan macam ini di Indonesia belum ada. Masyarakatnya belum jujur. 

Beliau juga bilang bahwa orang Indonesia terlalu ‘musisi luar negeri’. Katanya…

Yah, kebanyakan orang Indonesia masih mental jongos. Musisi-musisi bule di sini sangat dipuja-puji sekali. Semua fasilitasnya bintang lima. Segala barang-barang juga dibawain. Padahal yang saya temui di beberapa festival di luar (negeri), selama barang-barang mereka bisa bawa sendiri ya mereka akan membawanya sendiri. Dan banyak hal-hal lain juga mereka urus sendiri. Orang Indonesia hebat dalam hal ramah tamah. Menghargai mereka sih boleh, tapi tidak usah terlalu terkesima..

Dari ungkapan beliau ini, saya jadi ingat beberapa waktu lalu, saya pernah mengurus acara Berlin Fashion Week dalam rangka Jakarta Fashion Week  (lagi-lagi JFW). Yah, sebagai panitia, pastinya saya berusaha membantu apa yang saya bisa. Namun mereka ternyata lebih banyak menolak karena mereka bisa melakukannya sendiri. Ini entah mereka memang bisa mengerjakan semua sendiri atau karena mereka tidak percaya ya… 😀

Kembali ke Idang Rasjidi, berikut beberapa kutipan singkat beliau:

Saya ini pianis. Tapi karena membawa piano itu berat, jadi keyboardis deh..

Saya suka dengan kesederhanaan yang mengalir begitu saja….

Nama saya memang besar, tapi aslinya saya tetap anak kampung.

Meskipun saya kurang ‘menyatu’ dengan musik jazz, tapi saya suka sekali dengan personality Idang Rasjidi. He’s so humble, and he must be loved by people around him! 🙂 #RR

And last but not least…

ir

What an honour to meet you, Sir!

“Pernikahan itu….,” pikir saya. Sepertinya pikiran ini adalah jenis pikiran yang gak habis-habis kalau dipikirin. Mungkin saya cuma mau meluruskan pandangan orang-orang yang sepertinya mengira saya ini anti-pernikahan. Jawabannya: tidak, saya tidak anti-pernikahan, dan suatu hari nanti saya pun ingin menikah. 

Ngomong-ngomong, kenapa sih saya harus freak out dengan menulis blog seperti ini. Here’s why. Tanggal 22 November lalu saya sempat twit seperti ini: 

Twit2

Lalu tiba-tiba saya mendapat mention dari teman saya seperti ini:

Twit1

Jawaban saya:

Twit3
Twit4

At that time, saya sih menanggapinya biasa-biasa saja. Namanya juga Twitter.. Sampai akhirnya teman saya yang lain bilang…

Twit5

Di situ saya berpikir lagi, perlukah saya seriusi, karena saya pikir teman saya pastinya juga tidak serius. Tapi lama-lama dipikir, ya sudah lah bahas aja sekalian. Mumpung lagi banyak banget undangan pernikahan nih. #eh

Usia 25 adalah usia yang dianggap ideal atau target mayoritas manusia–khususnya wanita–untuk menikah. Buktinya, di usia saya yang ke-25 ini, teman-teman saya sudah banyak sekali yang melangkahkan kaki dan duduk manis di pelaminan. Bahkan tiap minggu paling tidak ada 3 undangan yang harus dihadiri.

Di usia saya ini, saya sudah merasakan betapa senewennya saya dengan hal-hal berbau pernikahan. Bukannya saya iri ya dengan teman-teman saya yang sudah menikah, tapi lebih kepada pertanyaan paling menyebalkan sedunia: “kapan nyusul?” atau ajakan ‘paksa’ “makanya kawin dong!” atau pertanyaan dan ajakan sejenis.

Singkatnya, tujuan terbesar hidup saya bukanlah sebuah pernikahan. Kalau memang ketemu jodoh dan berjodoh untuk segera menikah–ya saya anggap itu adalah rezeki. Tapi kalau tidak, ya sudah. Saya tidak akan ngoyo untuk buru-buru cari pasangan, pura-pura hamil supaya dikawinin #abaikan, atau cari om-om yang sudah siap untuk menikah. Nope, hidup saya lebih berharga hanya untuk memikirkan pernikahan semata.

Saya lebih suka untuk menikmati apa yang ada, dan melakukannya dengan pelan tapi pasti. Jadi untuk yang doyan nanya ke saya kapan saya akan kawin (eh, jangan protes bilang yang bener adalah nikah ya, karena yang ada itu kan Undang-Undang Perkawinan, bukan Pernikahan!), saya akan jawab: “nunggu kamu udah gak bawel nanya-nanya lagi..” ;p

Sampai saat ini saya percaya jodoh tidak datang hanya karena berdasarkan umur, tapi juga kematangan dari masing-masing orang. Dan tingkat kematangan setiap orang pun jelas berbeda.. 🙂

Oh, ya. Dan menjawab ‘tuduhan’ teman saya yang bilang kalau saya anti-punya anak, kembali lagi saya harus membantah. Saya mau kok suatu hari punya anak. Saya tidak punya phobia terhadap anak, tapi saya punya ketakutan melahirkan seorang anak di dunia seperti ini. Maksudnya, banyak polusi, banyak penyakit dan wabah, gaya hidup yang tidak sehat, pendidikan yang membutuhkan biaya tinggi, dan lain sebagainya. Can I protect him/her? Well, the answer is……. “Kawin aja dulu Rur!” 😀 #RR