Archive

Monthly Archives: November 2011

Berikut ini adalah beberapa film yang pernah bikin saya nangis (bahkan sesenggukan): Armageddon, The Green Mile, Bride Wars (yeah, call me weird), dan yang terakhir adalah film The Help (2011) yang dibintangi oleh si-sekilas-mirip-Michael Jackson: Emma Stone.

Thehelp

Film besutan sutradara Tate Taylor ini adalah adaptasi dari novel berjudul sama karya Kathryn Stockett. Well, what can I say about this movie…. inspiring! Kalau ada pertanyaan: “film apa yang berpengaruh besar dalam hidupmu?” — Saya bisa jawab bahwa The Help lah salah satunya.

The Help bercerita isu rasisme yang terjadi di Jackson, Mississippi, AS pada tahun 1960-an—di mana semua PRT pada waktu itu adalah orang kulit hitam. Tidak hanya sampai di situ, kadang majikan mereka mendiskriminasi mereka sebegitunya sampai mereka dibuatkan toilet terpisah karena diyakini dapat membawa penyakit tertentu.

Emma Stone di sini berperan sebagai Euginia “Skeeter” Phelan yang baru pulang dari sekolahnya di luar kota. Dia pun dibesarkan oleh Constantine, PRT-nya yang juga orang kulit hitam. Namun Skeeter tidak seperti warga sekitar pada umumnya yang merasa ‘jijik’ dengan bangsa ‘kulit berwarna’. Dia pun kaget ketika pulang, Constantine sudah tidak ada. Bertanya pada ibunya pun, dia hanya mendapatkan jawaban seadanya yang tidak memuaskan. Skeeter juga heran betapa teman-temannya sangat memperlakukan PRT mereka dengan sangat tidak adil. Karena itulah Skeeter ingin berbuat sesuatu untuk membela orang-orang kulit hitam yang tertindas baik fisik maupun secara kejiwaan. Dan persahabatan Skeeter dengan Abileen (Viona Davis), Minny Jackson, dan orang kulit hitam lainnya pun dimulai…

The-help

Saya selalu suka film yang punya unsur humanis tinggi, apalagi dengan isu diskriminasi. Alurnya pun santai dan sederhana, sama sekali tidak membuat (saya) mengantuk dan ingin menekan tombol fast forward remote. Justru malah saya sering rewind untuk mencerna ulang dialognya.

Saya belajar bahwa tidak perlu sesuatu yang rumit untuk ‘menyentuh’ seseorang. Meskipun The Help dikritik habis-habisan di Huffington Post (bisa dibaca di sini: http://ow.ly/7FMFf, tapi saya percaya itu karena penulis membandingkannya langsung dengan hal-hal yang berkaitan dengan rasisme yang terjadi di saat itu. Percaya deh, pasti kamu akan semakin sayang dan jadi menghargai pembantu yang ada di rumah 🙂

Ps: saya tidak membicarakan teknis film karena pada dasarnya saya bukan movie blogger 🙂 #RR

Advertisements

Setelah 7 hari nonstop disibukkan dengan event-tiga-huruf yang katanya bertujuan untuk memajukan-industri-pesyen di Indonesia itu, akhirnya hari Sabtu (19/11) saya (dan Nadya), sesuai rencana, ke Grand Indonesia, nonton film-film INAFFF yang tiketnya sudah kami beli sejak tanggal 02/11 lalu.

The_incite_mill_poster_01

(Foto: asiabeam.com)

Film pertama yang saya tonton adalah THE INCITE MILL (2010), yaitu film thriller Jepang besutan Hideo Nakata, yang populer lewat The Ring. Secara konsep sih saya suka ya—10 orang dipilih secara misterius untuk bekerja paruh waktu selama seminggu dan mengikuti semacam eksperimen psikologi dan dengan gaji yang (sangat) besar per jamnya. Jadi, 5 wanita, 5 pria, saling berjuang untuk tetap hidup selama 7 hari—dan diselingi ‘permainan’ ala detektif.

Menarik bukan berarti orisinil. Pas nonton, entah kenapa dalam beberapa menit film berlangsung, saya langsung ingat dengan film Hostel. Dan dari situ, saya bisa langsung menebak jalannya cerita, dan memprediksi siapa dua di antara mereka yang akan hidup. Tapi walaupun begitu, saya masih tertarik dengan jalannya cerita, dan apa saja yang akan terjadi selama 7 hari tersebut. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya bisa dengan menebak siapa yang akan survivedari ‘eliminasi’, namun tetap ada beberapa hal yang membuat saya terkejut—meskipun tidak sampai membuat saya terlonjak dari kursi. Dan selama saya nonton film yang ada robotnya, saya tidak pernah merasa ngeri dengan seperti yang saya lihat dalam The Incite Mill ini ini.

Ada sedikit ketegangan yang saya rasakan, walau memang tidak banyak. Tidak sampai membuat meremas bangku, apalagi teriak atau terlonjak dari kursi. Ada beberapa plot hole yang lumayan mengganggu. But somehow, walaupun tingkat kebrutalan ini bisa dibilang rendah, tapi saya masih menikmati beberapa twist dan karakter-karakternya bisa dibilang cukup menarik. Tapi sayang, 10 karakter ini tidak semuanya dieksplorasi secara mendalam.

Rate: 3/5

Loft-448357l

(Foto: efilmeselecte.blogspot.com)

Film kedua yang saya tonton adalah LOFT (2008). Nah, ini saya suka sekali sekali dengan film asal Belanda ini. Ceritanya adalah tentang sebuah Loft (tingkat paling atas apartemen) yang menjadi saksi persahabatan sekaligus perselingkuhan 5 orang dari istri-istrinya. Sampai akhirnya—-kesenangan dan ketenangan mereka terusik dengan ditemukannya mayat seorang wanita dengan keadaan yang mengenaskan: telanjang, terborgol, dan penuh darah. Dengan akses masuk apartemen hanya dimiliki kelima sahabat ini, muncullah pertanyaan besar: siapakah pelakunya dari kelima sahabat ini? Dan mereka semua saling mencurigai satu sama lain.

Dari sini, Anda dengan tanpa henti akan diajak menebak-nebak dan ikut berpikir tentang siapa yang merupakan pelakunya. Saya pun secara nonstop diajak terus menebak, dan ketika saya sudah mengambil kesimpulan—DANG!!—ternyata saya salah besar!

Meskipun film  ini bukan genre thriller atau slasher yang penuh darah, tapi saya jatuh cinta dengan ceritanya yang sangat kuat! So many twists in it! Karakter-karakternya pun bermain sangat bagus dan semuanya mendapatkan porsi seimbang sehingga akan membuat Anda curiga dengan lima sahabat ini.

Kebanyakan orang merasa malas dengan alur maju mundur, tapi itu tidak saya rasakan di film ini. Saya sangat menikmati alur tumpang tindih tersebut, dan sama sekali tidak membuat pusing. This crime story, and all of those mysteries, will blow your mind! 🙂

Dan satu hal klise yang saya pelajari dari film ini: tidak ada persahabatan yang sempurna..

Rate: 4.5/5

A-lonely-place-to-die-one-sheet-poster

(Foto: horror-asylum.com)

A LONELY PLACE TO DIE (2011) menjadi film ketiga di INAFFF 2011 yang saya tonton malam itu. Film thriller-survival asal UK ini kabarnya mendapatkan review positif dari beberapa festival film.

Saya selalu suka thriller-survival yang berhubungan dengan alam mulai dari Cliffhanger, Vertical Limit, 127 Hours, Frozen, dll. You’ll never know what nature can do to you… Tapi film A Lonely Place To Die (ALPTD)……..lebih dari itu.

Film ini bercerita tentang 5 orang pendaki gunung yang menemukan seorang anak perempuan yang dikubur hidup-hidup–di tengah hutan belantara. Dengan gerak cepat, mereka langsung menyelamatkan gadis kecil tersebut. Semuanya baik-baik saja hingga akhirnya mereka diburu layaknya binatang oleh beberapa orang yang tergabung dalam semacam sindikat.

Satu yang pasti, sinematografinya juara! Julian Gilbey berhasil membuat Scottish Highland terlihat perkasa, kejam, dan angker. Kalau dari segi cerita, banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, seperti simpelnya–punya hubungan apakah antara mereka berlima?

Tapi bagaimanapun, saya masih bisa menikmati film ini full tanpa ngantuk. Oh, dan salah satu pemeran film ini adalah Ed Speelers–yang juga berperan sebagai Eragon dalam judul film yang sama. Akting Ed di film ini jauh lebih matang daripada Eragon–walaupun sebenarnya masih dalam ranah standar. Sebagai lead role, dia kurang cocok. Sebagai pemeran pendukung juga tidak berpotensi jadi scene stealer.

ALPTD adalah thriller-survival yang menarik dan jauh dari kesan klise dari film-film dengan genre sejenis. A should say this is an edgy-thriller-survival movie. Jolly to watch!

Rate: 4/5

Tiff-2011-the-incident

(Foto: dorkshelf.com)

Kalau disuruh pilih film lain mana lagi yang cocok untuk jadi kandidat surprise movie, saya akan menjawab THE INCIDENT (2011)! Film ini adalah debut sutradara Alexandre Courtes–yang dikenal sebagai sutradara video klip musik. The Incident bercerita tentang sekumpulan tukang masak dan beberapa pertugas rumah sakit jiwa yang terjebak di dalamnya ketika petir menyambar dan mematikan listrik rumah sakit jiwa itu.

Saya harus memuji film ini karena Courtes berhasil menciptakan ketegangan bahkan ketika lampu rumah sakit masih menyala. Bahkan, para pasien penghuni rumah sakit itu pun sudah terlihat mengamuk sebelum beralih ke scene dengan lampu mati.

Dan ketika saya nonton ini, yang ada di pikiran saya adalah: “oke, ini lebih gila dibanding film zombie yang bisa sprint”.

Sebenarnya sih tidak ada konsep yang spesial dari film ini, hanya sekedar orang gila yang bertingkah sangat gila. Tapi saya tidak tahu orang gila bisa segila itu! Saya menikmati dan menunggu-nunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan para pasien yang lepas dari kamarnya itu kepada orang-orang yang terjebak di dalam bersama mereka.

Plot hole tentunya ada, bahkan banyak. Pertanyaan seperti, kemana para dokter? (at least dokter jaga ya kalau memang itu sudah tengah malam), kenapa tidak diperlihatkan pasien menyerang pasien lain?, bahkan sampai film berakhir pun tidak ada jawaban pasti, atau yang tersirat. Seperti kebanyakan film genre sejenis, akhir film ini hanya melahirkan kelegaan, bukan jawaban. But anyway, I love the movie twist and how this movie scared the hell out of me! #RR

Rate: 4/5

Image

Foto ini diambil ketika saya mewawancara Santana sebelum dia tampil di Java Jazz Festival 2011. Saya bukan pendengar petikan gitar Santana sejati, but hey, he’s one of the guitar heroes anyway!

Kebiasaan (jelek) saya ketika wawancara, apalagi ditambah nervous yang berlebihan, adalah langsung to the point without even say hi. Nah, saya dengan pertanyaan saya waktu itu, dan kebetulan saya berkesempatan mewawancara pertama, beliau ternyata kaget dengan saya yang straight to the point. Cuma kaget sebentar, dan untungnya beliau langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

Waktu itu saya sempat khawatir akan mood beliau, karena mostly musisi-musisi luar tidak semuanya friendly ketika jumpa pers. Tapi ternyata beliau sangat baik! Jawaban-jawaban yang beliau lontarkan juga bukan hanya jawaban singkat saja. I’m so lucky had the opportunity to interview a great man like him.

Note: Jangan sok menyapa dengan bahasa Spanyol, karena akan membuat Anda terlihat bodoh ketika dijawab dengan bahasa yang sama (ditambah kalimat lain di belakangnya).

Ruri & Santana

Dari saya pindah ke Pondok Gede sekitar tahun 1990, becak adalah transportasi di komplek saya. Dari saya SD, SMP, SMA, kuliah, bahkan sampai kerja sekarang. Yep, I grew up with most of them.

Sebelum saya bercerita, saya cuma mau bilang kalau kisah-kisah inspiratif bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Seperti yang saya alami ini..

Jadi begini kejadiannya, suatu pagi di hari Selasa, 8 November 2011, saya berangkat ke kantor, yang pastinya naik becak dulu ke depan komplek rumah. Saya naik becak (sebut saja) Pak Ahmad. Saya tahu bahwa beliau ini sedang sakit karena untuk naik ke sadelnya saja kesusahan. Perkiraan saya ‘hanya’ rematik..

Nah, medan perjalanan saya ke depan komplek ini menanjak dan cukup curam, diperparah saat itu dengan pembuatan gorong-gorong sehingga membuat tanjakannya lebih tinggi. Belum lagi kondisi jalanan yang masih berbatu dan belum diaspal.

Ketika jalanan mulai menanjak, tukang becak yang sehat pun pasti turun dari sadel dan mendorong becaknya. Begitu juga dengan pak Ahmad. Karena beliau sedang sakit, gerakan becak pun terasa sangat lambat. Waktu itu saya takut. Bukan takut becaknya akan terjun mundur ke belakang, tapi yang saya takutkan adalah kondisi pak Ahmad.

Dan saat saya berinisatif untuk turun supaya beban becaknya ringan, ada tukang becak lain, (sebut saja) Pak Joko, dari arah sebaliknya menghentikan becaknya dan langsung membantu pak Ahmad. Pak Joko mendorong becak, dengan saya yang masih berada di dalam, sampai melewati tanjakan curam tersebut dan membiarkan Pak Ahmad ‘menunaikan’ tanggung jawabnya mengantar saya sampai depan komplek. Tidak hanya itu, Pak Joko bilang ke Pak Ahmad: “Saya tunggu di sini ya”, jaga-jaga kalau sepulangnya Pak Ahmad mengantar saya membutuhkan pertolongan lagi.

Turun dari becak mata saya langsung berkaca-kaca. Perasaan kasihan, tersentuh, dan bangga menjadi satu. Mungkin ada yang bertanya, “Kenapa gak turun aja dari becak dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki?” Jawaban saya, kalau saya jadi Pak Ahmad, saya pun akan berusaha mengantarkan penumpang–bagaimanapun caranya. Dan kalaupun saya saat itu turun, saya khawatir akan membuat Pak Ahmad malu, bukan hanya kepada saya, tapi juga pada orang-orang sekitar. I don’t know..

Dari hasil obrolan saya dengan tukang becak yang lain, Pak Ahmad ternyata menderita struk. Sekarang, saya sudah tak pernah melihat Pak Ahmad lagi di pangkalan becak. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan juga diberikan yang terbaik.

Semoga menginspirasi. #RR

1

Ya, foto di atas adalah meja kerja saya di kantor. “Your desk is your personality?” Mungkin ya.. Saya orangnya memang tidak well-organized, dan saya menggantungkan notebook or my smartphone untuk mencatatkan apa saja yang harus saya lakukan. Yah, bukan alasan untuk membiarkan meja seperti kapal pecah dan terbalik seperti itu sih.. 😀

Sampai sejauh ini sih belum ada yang komplain tentang betapa ‘rapi’nya meja kerja saya ini. Pernah beberapa kali saya bereskan, namun usianya paling lama bertahan 2 hari. Setelah itu ya kembali berantakan seperti semula. Anehnya, ketika meja rapi, mood kerja saya malah hilang… Wondering why..

Img_0968_small
Img_0972_small
Img_0971_small

Dan please, jangan hubung-hubungkan ini dengan kemampuan saya dalam mengurus rumah tangga. Kenapa? Ya jelas karena memang belum teruji! Eh, tapi kenapa contohnya jadi rumah tangga ya? ………….

Meja kerja berantakan bukan berarti hal-hal lain pun berantakan kan… Namanya juga meja kerja, it’s my center of experiments which anything could happen! 😀 #RR