Archive

Monthly Archives: October 2011

My first Hortas

Those are Horta, my plant-haired doll. Just got it from my friends, and I thought, “I should grow it since I don’t have any capability of gardening and taking care of (any) plants. This can be an excellent basic training!”

So, I brought ’em home, gave ’em waters and stick to the guideline. Hopefully, they can grow healthy and beautifully! But it only last for 2 days. I don’t know rats or cats destroyed them, mutilate them, and tear ’em apart. I couldn’t no longer recognized what’s left. Sorry, no picture after. Too rude! #RR

Advertisements

Namanya mulai mencuat ke permukaan ketika berduet dengan Jason Mraz di Java Jazz Fest, 2009. Belum lagi albumnya Something About The Girl diproduseri Jean-Paul ‘Bluey’ Maunick dari Incognito.

Sekitar tahun 2013, saya berkesempatan mewawancara mojang Bandung ini. Karena keterbatasan halaman dan penyesuaian terhadap majalah, ada beberapa topik wawancara yang tidak saya munculkan di artikel. Berikut wawancara lengkapnya. Selamat menikmati 🙂

——-

Yang menggarap albummu justru label asing, bukan Indonesia. Sayang sekali ya..

Sebenarnyan label rekaman di Indonesia banyak yang tertarik, ngajak ngobrol, tapi pada akhirnya selalu berakhir pada pertanyaan: “kamu punya modal berapa?” Saya sih bukan orang yang punya budget tak terbatas. Jadi keinginan punya album waktu itu harus ditunda. Tapi ini bukan berarti saya menyerah. Saya yakin cita-cita saya ini bisa tercapai. Dan Alhamdulillah, sekarang udah terealisasi.  

Menurutmu, musik Indonesia itu seperti apa?

Kita gak bisa mukul rata bahwa industri musik Indonesia mengedepankan modal. Dibilang kecewa sih tidak juga. Saya cuma memandang itu sebagai individualnya saja, kebetulan ketemu produser yang seperti itu. Dan ketika saya bertemu produserku, Bluey, dia sangat menghargai bakat saya dan punya keyakinan yang besar terhadap saya dengan bilang: “Don’t worry, money is not gonna be a problem. Kalau seandainya tidak ada sponsor, kita kumpulin uang sama-sama. And you can always use my home studio.”

Kalau tentang industri musik Indonesia, menurutku balance itu akan selalu ada. Ada hitam ada putih, ada siang ada malam, ada yin ada yang. Tidak bisa dibilang juga sekarang musik Indonesia sedang tidak bagus. Saya pun juga tidak putus asa, karena saya percaya dari sekian juta penduduk Indonesia pasti ada yang dengar dan beli albumku sekaligus suka dengan jenis musiknya. Saya optimis pasti ada. Pastinya saya sangat senang dan menghargai kalau ada yang beli albumku. Puas rasanya karena karya saya bisa didengar dan dinikmati orang lain. 

Animo masyarakat terhadap musik kamu sejauh ini gimana?

Surprisingly, very good. Saya gak sangka orang-orang mencari album saya. Setiap hari di Twitter dan facebook banyak yang tanya kapan album keluar, dan mereka rajin ke took CD untuk cari album saya. Bahkan ada yang sampai beli ke iTunes. Kaget. It’s beyond expectations! Jadi, kita jangan underestimate selera musik anak sekarang. Padahal waktu saya seumur mereka, saya masih belum ngerti musik jazz itu apa. Ha ha ha.  

Makanan favorit?

Wah, banyak! Selain masakan Indonesia, saya juga suka masakan Jepang, Turki, dan India. Tapi, yang paling guilty pleasure buat saya itu…..ikan asin peda pake sambel! Saya bisa nambah 4x nasi! Kalau masakan Jepang saya suka sushi, ramen, curry rice. Masakan Turki menurut saya adalah makanan sehat karena bahan-bahannya sangat fresh, banyak sayuran dan kacang-kacangan. Saya juga suka kambing, tapi sudah 4 tahun ini tidak makan daging (daging merah dan ayam). Saya cuma makan seafood. Awalnya sih mau diet golongan darah. Tapi lama-lama saya jadi lebih aware dengan apa yang saya konsumsi karena waktu itu lagi marak flu burung dan flu babi. Dan saya juga sempat baca di internet kalau kemungkinan terkenal penyakit itu pada vegetarian itu lebih kecil. Lama-lama saya jadi terbiasa dan malah merasa lebih sehat.

Hobi?

Traveling dan baca buku. Traveling sih yang paling saya suka, dan Bali masih menjadi tempat favorit karena pada dasarnya saya pecinta pantai. Bukan Kuta atau Sanur ya. Saya lebih suka dengan pantai-pantai yang lebih sepi. Dan kegiatan favoritku itu bawa selimut dari hotel, ke pantai, gelaran sambil mendengarkan musik dan ngobrol–selain berenang dan berjemur ya. Saya juga bukan tipe orang yang takut hitam karena dari kecil kan saya memang tidak dilahirkan dengan kulit putih. Yang penting perawatannya saja supaya kulit tetap sehat. 

Ketakutan terbesar dalam hidupmu?

I’m so scared of letting down my parents. Tujuan hidup saya saat ini adalah membahagiakan dan membuat mereka bangga.

Kedekatan kamu dan keluarga?

Saya sangat mencintai keluarga saya. Mereka selalu mendukung saya. Their love and support means the world to me because I know that their love is unconditional and they accept me for whoever I am. Dan dalam kondisi apapun, I can rely on them.

Bentuk support mereka seperti apa?

Banyak sekali! Misalnya, dulu saya kan dulu kuliah Teknik Sipil di Bandung. Ketika tahun ketiga, tiba-tiba saya punya keinginan pindah ke jurusan Musik, UPH, Jakarta. Surprisingly, mereka sama sekali tidak marah dan sangat menghargai pilihan saya. Mereka hanya bilang, kalau memang ini pilihan saya, lakukan dengan serius. Saya waktu itu sangat terharu. It means a lot to me. Karena kalau saya tidak mengambil keputusan itu, saya tidak akan seperti ini.

Kenapa waktu itu saya ambil studi Teknik Sipil? Karena memang jurusan Musik pilihannya masih jarang. Saya juga sempat mau ambil jurusan Musik di Berkeley, Amerika. Sudah dikirimin brosur juga. Lalu ibu saya lihat di koran kalau UPH buka jurusan Musik. Saya ikut audisi, dan Alhamdulillah diterima. My true passion is in music.

Band pertama kamu sudah ber-genre jazz?

Dulu saya dan teman-teman memainkan lagu-lagu Top 40, dan jenis musik yang beragam. Tapi pada waktu itu, ketika tahun 1997, musik yang sedang in waktu itu adalah acid jazz, yang pionirnya adalah Incognito.

Bagaimana hubunganmu dengan Bluey sekarang?

Baik sekali. Dia sudah seperti ayah saya sendiri. We communicate each other constantly. Bisa vie e-mail, skype, telepon, dan lain-lain. Mereka selalu mendoakan dan mendukung saya. Saya sangat mengerti dengan kesibukan Bluey dan teman-teman dari Incognito. Namun, kita tetap saling maintain dan dia pun selalu bertanya tentang perkembangan saya. Bluey adalah tipikal produser yang produktif, sehingga dia juga membicarakan proyek ke depan. Seperti misalnya ketika album pertama saya jadi, dia bilang, “this is not the end. This is a start. Ini cuma pintu pembuka untuk kamu. Jangan cepat puas, dan secepatnya kita akan buat album kedua.”

Bagaimana perasaanmu disandingkan dengan penyanyi dan musisi jazz dunia seperti Sade dan Chaka Khan?

One of the greatest feeling in the world! Karena mereka adalah idola saya, dan mereka sudah bernyanyi lama sebelum saya mulai bernyanyi, atau mungkin sebelum saya lahir. Waktu itu di London, album saya sempat berada itu di atas Sade di charts. Saya peringkat 7 dan Sade peringkat 9. Kalau Chaka Khan, dia meminta Bluey memproduseri albumnya setelah memproduseri album saya. So it’s really like an honour to me. And I can say that I’m so proud of myself. Apa yang telah saya capai sekarang adalah hasil kerja keras. Walaupun segala sesuatu pada akhirnya Allah yang menentukan, tapi kita harus tetap kerja keras. Bluey pernah bilang kepada saya kalau kebanyakan mental orang Indonesia itu kurang berani dan kurang percaya diri. Dia pernah bilang juga: “Kamu bisa bernyanyi bersama Incognito, diproduseri saya, bukan karena siapa-siapa, it’s all because of you”.

Ada tidak hal yang ingin kamu sampaikan?

Jarang ada yang bertanya kenapa saya begitu mencintai dunia tarik suara. Begini, dalam kehidupan pasti kita banyak menemukan masalah. Dan terbukti berkali-kali, ketika saya sedang dilanda masalah seberat apapun, bernyanyi selalu membuat saya lupa dengan masalah-masalah atau kesedihan saya. Dengan sendirinya, my heart is smiling dan otomatis senyum terbentuk dengan sendirinya. Dari situ saya sadar kalau itulah true passion saya. So, I can always count of my music in any conditions. Pacar bisa putus, teman bisa ribut, keluara kadang ada clash or whatever, but one thing I know that I can always have my music and no one can take that away from me. Musik bisa menjadi semacam obat untuk diri saya, dan juga untuk orang lain yang mendengarkan. Dan setiap saya bernyanyi, saya berusaha menghayati lagu yang saya bawakan supaya pesannya tersampaikan. Saya banyak lihat penyanyi yang bagus secara tekniknya, namun tidak dalam penjiwaan. Seolah-olah lagu itu kosong.

Penyanyi Indonesia yang bagus menurut kamu?

Saya suka Ruth Sahanaya, Vina Panduwinata, Chrisye, dan Neno Warisman. Tapi yang paling berpengaruh besar untuk saya adalah Ruth Sahanaya dan Vina Panduwinata.

Bagaimana kamu melatih penjiwaan?

Sepertinya itu sudah menjadi bakat natural dalam diri saya. Nenek, ibu, ayah, semuanya nyanyi. Jadi bakat itu memang sudah ada. Dan pada dasarnya, saya ini sensitif dan perfeksionis. Saya harus tahu sebelumnya lagu apa yang akan saya nyanyikan, khususnya jika itu adalah lagu orang lain.  

Apakah kamu berlatih setiap hari?

Jeleknya, saya ini malas latihan. Tapi saya menganggap setiap performance saya adalah latihan. Tapi….memang seharusnya saya latihan ya.. Bahkan penyanyi yang udah pro sekalipun rajin latihan..

Siapa penyanyi dunia yang mempengaruhi kamu dalam bernyanyi?

Saya suka Mariah Carey, Whitney Houston, Billie Holiday, Nancy Wilson, Ella Fitzgerald, Chaka Khan, Lalah Hathaway, dan Yolanda Adams. Teknik bernyanyi mereka sangat bagus soulful. Penyanyi di Indonesia juga banyak yang bagus tapi jarang yang punya keberanian. Bluey juga pernah bilang, “Penyanyi Indonesia banyak sekali yang hebat tapi sayang di panggung banyak yang pasif”. Sementara kalau di luar negeri, mereka menganggap skill itu nomor 2, ya walaupun mereka punya skill juga ya. Tapi yang penting buat mereka adalah penampilan panggung.

Rencana jangka panjang?

Saya tidak mau berhenti sampai di sini aja, dalam arti tidak mau hanya bikin album saja. I wanna do something bigger for my country, dalam hal kemanusiaan. Dulu saya selalu berpikir: “Enak ya kalau jadi orang kaya, posisi, atau seseorang yang besar karena suaranya lebih banyak didengar”. Ya, dengan itu orang lebih bisa berbuat banyak. Saya mungkin tidak bisa memberikan dengan jumlah materi yang banyak, namun saya akan terbang keliling dunia dengan kemampuan saya bernyanyi, dan menyebarkan tentang hal-hal baik yang terjadi di Indonesia.

Ketika beberapa kali saya tampil di luar negeri, orang-orang selalu bertanya: “Tell us about your country. Tell us about your neighborhood, what it’s like?” Dan pada akhirnya mereka bertanya tentang teroris. Saya hanya bisa tertawa dan menjawab dengan santai bahwa manusia bisa mati dimana saja–dan mereka pun akhirnya membenarkan hal tersebut. Akhirnya saya berusaha menjelaskan musik dan budaya Indonesia. Mereka ternyata sangat kagum dengan keragaman baju adat kita yang berbeda tiap daerahnya. Mereka juga bangga dengan keragaman suku dan bahasa yang kita miliki.

Misalnya lagi ketika saya melihat pengemis di jalan, saya rasanya sangat sedih dan ingin sekali membantu mereka. Bisa saja saya bantu hari iru, tapi bagaimana dengan besok? Nah, mudah-mudahan jika nantinya saya punya aku punya ‘suara’ seperti yang sebelumnya saya bilang, saya berharap bisa membantu orang-orang yang tidak mampu.  

Bagaimana kamu memandang sebuah pernikahan?

Prinsipnya, saya tidak akan mau menikah sebelum bertemu dengan orang yang membuat saya nyaman hidup bersama orang itu nantinya. Banyak yang bilang saya pemilih, tapi memang harus begitu, apalagi dengan usia saya seperti ini. Saya hanya mencoba untuk realistis. Orangtua pun mendukung dan tidak pernah menuntut saya untuk segera menikah. Dan sebagai seniman, agak sulit ya mencari pasangan karena harus menemukan orang yang bisa menerima kondisi dan konsekuensi pekerjaan saya. Saya juga tidak mau apa yang saya cita-citakan jadi dibatasi, atau bahkan distop.  

Sulitkah mencari pria yang tepat?

Tidak juga. Yang penting adalah seiman. Bukan karena fanatik, tapi saya merasa kalau sebuah kapal nahkodanya cukup satu saja. Kedua, saya tidak akan munafik kalau saya menginginkan pria yang punya pekerjaan–apapun itu asal halal. Nantinya, saya tidak mau itu jadi masalah apakah mereka akan menjadi superior atau minder. Saya mau segalanya sama-sama. Setelah menikahpun saya ingin tetap bekerja, apalagi nyanyi yang sudah menjadi profesi saya. I’m not gonna give that up. Ketiga, bertanggung jawab. Karena kalau laki-laki tidak bertanggung jawab, apa lagi yang bisa dipegang? Keempat, mengerti passion dan profesi saya. Saya tidak mau pria posesif dan cemburuan, apalagi dengan profesi saya yang mengharuskan saya untuk bertemu dengan banyak orang. Kelima, dia juga harus sayang dengan keluarga saya. Keluarga sangat berharga untuk saya. Kalau tidak ya, no thank you. Banyak sih yang jadi pertimbangan, itu masih realistis dan bukan hanya ada di mimpi. 

——–

Dan sebentar lagi, Dira akan segera menikah. Selamat, Dira! You’ve found the one 😉 #RR

Sudah baca tulisan saya sebelumnya tentang buku 101 Things To Do Before I Die, nah saya sudah memodifikasinya versi saya.

1. Seperti yang pernah saya post di akun Twitter saya, saya ingin punya nude photodiri saya. Please, jangan bandingkan dengan foto-foto ala kalender ya, tapi saya mau punya foto ala kampanye PETA. Pertanyaannya, siapa yang akan foto saya nantinya? Karena saya tidak pede dengan bentuk badan yang saya punya, saya akan serahkan itu sama suami saya nanti. Tinggal pastikan aja suami saya nanti punya kemampuan untuk foto, dan paling penting, editing-nya. I know a lot of works to do with my body shape! :)))

2. Nonton konser Manic Street Preachers. Berhubung saya bukan maniak konser yang rela mengabiskan uang ke luar negeri untuk nonton sebuah konser, saya akan berdoa keras supaya promotor-promotor di Indonesia mendatangkan mereka sebelum nantinya mereka bubar.

3. Kebetulan saya kenal dengan beberapa orang yang berjuang untuk mendapatkan transplantasi ginjal–yang kenyataannya sangat sulit. Orang-orang masih banyak yang ketakutan membayangkan hanya akan hidup dengan satu ginjal–bahkan dari keluarga terdekat sendiri. Kalau memang ada kesempatan yang pas, saya tidak keberatan menyumbangkan ginjal saya..

4. Flash mob! I just think that’s cool. I mean, really cool! Jadi, kepada teman-teman atau penyelenggara, saya dengan senang hati akan bergabung kalau ada yang merencanakan sebuah flasmob.. 🙂 #RR

…….to be continued

Books: 101 Things To Do Before You Die | Written, designed, and illustrated by: Richard Horne | First published: Great Britain, 2004

Saya punya teman dari masa SD – SMP, namanya Ai, perempuan. Kami bisa dibilang cukup akrab. Waktu SD–khususnya waktu kelas 6 kami bisa dibilang 1 geng karena sekelas. Lulus SD, akhirnya kami kembali 1 sekolah, namun tidak lagi 1 kelas bersama. Walaupun tidak sekelas lagi, namun sebelum apel pagi dimulai dan istirahat makan siang kami masih suka kumpul bareng (juga dengan beberapa teman lain). Tapi sayang, itu hanya berjalan beberapa bulan karena kami ternyata (mungkin) menemukan teman2 yang lebih menyenangkan. Mungkin itu yang menyebabkan pertemanan kami tidak sedekat dulu, sampai kami lulus SMP.

Lulus SMP ke SMA kami tidak lagi 1 sekolah, namun ternyata sekolah kita masih 1 daerah, yaitu Rawamangun. Tapi tidak mengubah keadaan sih, karena tidak mengubah kedekatan kami. Sampai akhirnya masa 3 tahun SMA pun berakhir dan kami melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Saya tetap kuliah di Jakarta, sedangkan dia memutuskan untuk merantau ke negeri orang–Australia. Entah bagaimana sampai akhirnya kami bisa berhubungan lagi, dan ketemuan ketika dia sedang pulang ke Jakarta. Kebetulan waktu itu kuliah saya tidak sedang terlalu padat (atau malah lagi libur ya?), jadi saya menemani dia mulai dari urus ijazah sampai jalan bareng ke mall(s). Dia masih sama menyenangkannya. Sampai akhirnya dia cerita tentang Things To Do Before I Die versi dia. Dia bilang kalau saya juga harus buat daftar itu. Tapi saat itu saya masih tidak bisa memutuskan apa yang harus saya tuliskan di daftar itu kecuali—bungee jumping—yang biasa banget sih.

Well, itulah sedikit cerita pembuka tentang buku ini. Bertahun-tahun saya lupa tentang daftar yang harus saya buat–sampai akhirnya secara tidak sengaja saya menemukan buku ini. Bisa dibilang ini semacam jodoh. Waktu itu sedang ada bazaar buku dari toko buku Times. Because I’m a book worm, I wouldn’t missed it. Saya lihat-lihat dari bak satu ke bak lainnya, sampai akhirnya saye menemukan buku ini. Bukunya udah lusuh, dan berita buruknya adalah tidak ada stok baru. It means itu tinggal satu-satunya. Well, I’ll be very stupid if I don’t buy itu just because it’s the only stock left.Walaupun kotor, tetap saya beli. Kalau tidak salah harganya 99k.

Sampai rumah, saya langsung bersihkan sampul di kedua sisi dengan cleaner+toner. Yes, cleaner+toner untuk muka! Hasilnya, kinclong! Walaupun tetap tidak seperti baru namun jauh lebih bagus dari kondisi awal ketika saya beli. Dan saat itu juga saya sadar akan sesuatu: kalau saya jauh lebih sayang buku daripada wajah saya sendiri. HA!

Ada yang bilang kalau saya seperti orang yang tidak punya tujuan hidup dengan buku ini. Wow, get laid lady. You’re way too serious with your life. Buku ini bukanlah buku daftar tujuan hidup saya, karena jika saya anggap begitu, sunggu dangkal sekali pemikiran saya. Saya menganggap buku ini adalah semacam panduan untuk bersenang-senang. Tidak semua list yang ada di buku itu bisa dilakukan, apalagi dilakukan di kultur Indonesia. Tapi ada beberapa yang worth to try. Saya pun juga menambahkan hal baru yang harus saya lakukan nantinya sebelum saya mati. It’s fun, to make sure you have fun and make it worthy 🙂 #RR

Interview saya dengan Cahyo Alkantana ini bisa dibilang berkah dari Yang Maha Kuasa. Kenapa? Jadi begini…. Ketika saya lagi mikir untuk cari siapa narasumber saya selanjutnya untuk artikel Real Life, tiba-tiba ada sebuah e-mail masuk ke bb saya *ting ting* *begitu bunyinya*.

From: imelda.achsaningtyas@xxx.com

Subject: Profil Cahyo Alkantana – Doktor yang Adventuris

Isi: xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx (mau tau aja) 😀

Ketika saya baca, refleks saya adalah, “OK, who is he?!”—karena saya memang sama sekali tidak tahu dengan dunia yang beliau geluti. Sampai akhirnya saya buka attachment tentang profil beliau—saya langsung terlonjak dari kursi saya! *ketika itu saya lagi makan di salah satu restoran yang ada di samping gedung Sarinah, inisialnya HKC* *abaikan*

Sampai mana tadi? Oh ya, sampai saya terlonjak dari kursi. Saat itu saya berpikir *aha!* Ini bisa jadi artikel Real Life saya! Besoknya saya langsung laporan ke pemred saya, dan beliau langsung mengiyakan. Setelah saya ceritakan profil singkatnya, beliau langsung mengiyakan, bahkan sempat minta untuk 4 halaman.

Dan yasudah, dengan bantuan dari mba Imel, publisis mas Cahyo, saya dijadwalkan untuk interview dengan mas Cahyo pada tanggal 18 Oktober 2011, di Black Canyon, Cipete.

Setiap mau wawancara, saya pasti merasa panas dingin. Dan inilah yang terparah! Saya benar-benar pikir panjang tentang apa yang akan saya tanyakan pada beliau. Ketika menunggu pun saya membaca-baca lagi profil dan bahan-bahan lain yang bisa saya dapatkan dari wangsit mbah google. Perut pun mules. Yes, it’s psikosomatis! +__+

Masalahnya adalah gini, saya akan interview orang yang berkarir sebagai cave diver—dan sudah keliling dunia pula! Beliau sudah 17 tahun aktif sebagai pembuat film bawah laut untuk Animal Planet. Cahyo juga menjadi orang Indonesia pertama yang menyelam di Antartika untuk TV France. Daaan, beliau juga fotografer dan videografer andalan National Geographic dan BBC Knowledge.

Nah, kan. Gimana saya gak panas dingin baca riwayat karirnya. Ketakutan saya waktu itu adalah terlihat bodoh di mata beliau. Sampai akhirnya saya hanya bisa pasrah.

Tapi ternyata, beliau sangat baik! Jatah waktu yang seharusnya hanya 60 menit tanpa terasa malah menghabiskan 90 menit kaset, dan masih sempet beberapa menit lagi nambah di side B juga 😀 Terima kasih mba Imel karena saya tidak diusir dari menit ke-61.

Oh ya, ternyata saya dan mas Cahyo punya sedikit kesamaan—sama-sama cinta Gunung Kidul! Bohong deh kalau kalian gak jatuh cinta dengan pantai dan laut yang ada di sana! Dan akhir Maret 2011 nanti, saya pasti akan menyempatkan diri untuk main ke resort mas Cahyo yang ada di sana J

Eh, yang penasaran sama interview saya dan mas Cahyo, silahkan beli majalah Grazia Indonesia edisi Desember ya! *tetep jualan* Nah, yang gratisan, saya pamer foto aja deh ya.. #RR

Img_0369_small

Psst, ini saya udah jinjit lho..